April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Tyas Ummu Amira (Penulis Aktivis Muslimah)

Pemblokiran pemutaran film jejak khilafah di Nusantara pekan lalu, membuat geger warga net. Di sisi lain membuat kekhawatiran tersendiri bagi pemerintah. Disinyalir film ini mengandung muatan sejarah hubungan Nusantara dengan Khilafah, karena paham Khilafah tidak boleh bercokol di negeri ini, sebab di sebut – sebut akan menimbulkan perpecahan antar umat dan tidak cocok diterapkan pada masa sekarang.

Dilansir dari laman Terkini.id (21/08), Jakarta, Film dokumenter ‘Jejak Khilafah di Nusantara’ yang tayang di YouTube sejak kemarin, Kamis 20 Agustus 2020 diblokir.

Film tersebut sebelumnya disiarkan secara Live. Lalu, tidak bisa diakses. Youtube diketahui memblokir tayangan itu dengan menyebut ‘Konten ini tidak tersedia di domain negara ini karena ada keluhan hukum dari pemerintah.’

Tayangan video itu sudah dilihat hingga 278.372 kali. Untuk diketahui, film tersebut diinisiasi Sejarawan Nicko Pandawa bersama Komunitas Literasi Islam. Jejak Khilafah di Nusantara atau yang disingkat JKDN menceritakan soal hubungan Indonesia yang dulu disebut Nusantara mempunyai kaitan erat dengan pemerintahan Khilafah Turki Utsmaniyah. (terkini.id, 21/08/2020)

Pemblokiran film yang dilakukan oleh pemerintah tersebut menuai banyak protes dari beberapa kalangan, salah satunya adalah Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain. Ia mendesak agar Presiden Joko Widodo memberikan alasan pemblokiran film dokumenter tersebut melalui akun twitternya pada Kamis, (20/08) lalu.

“Dengan ini saya meminta jawaban resmi dari pak @jokowi sebagai Presiden RI, Yai Ma’ruf Amin dan pak @mohmahfudmd:”Apa alasan Keluhan Pemerintah atas Video Jejak Khilafah sebagai Sejarah?” Apakah ada hukum negara yg dilanggar? NKRI negara hukum, tidak boleh sewenang wenang…!” tulis beliau.

Apabila kita mengindra fakta di atas, dan jika ditelisik lebih dalam sebenarnya film jejak Khilafah di Nusantara ini sangat layak untuk diapresiasi. Sebab sejarah Khilafah  memang mempunyai hubungan yang erat dengan tanah air tercinta. Karena dibuat berdasarkan informasi dari berbagai sumber primer dan data yang valid, serta mampu dipertanggungjawabkan kebenarannya. 

Di tengah pemutaran film Jejak Khilafah di Nusantara yang sempat terjadi pemblokiran sementara dikarenakan ada campur tangan penguasa yang anti terhadap kata Khilafah. Padahal sejatinya Khilafah adalah ajaran Islam yang wajib diterapkan kembali. Umat perlu menyadari bahwa upaya penghalangan sejarah Khilafah merupakan kekalahan intelektual, serta menunjukkan sikap hipokrisi demokrasi dan upaya sistematis negara untuk mengubur sejarah Khilafah di Nusantara.

Beginilah wajah asli sistem demokrasi yang berasaskan kapitalisme sekular, yakni paham yang memisahkan antara agama dengan kehidupan. Paham ini sudah mendarah daging sejak runtuhnya Khilafah Turki Ustamani oleh Kemal Ataturk yang bekerjasama dengan inggris serta sekutunya. Hingga menjadikan perundang-undangan Barat mengganti perundang-undangan Islam di dalam sistem Khilafah. Alhasil, semakin menjauhkan umat Islam terhadapat hukum – hukum syara yang sebenarnya.

Sampai sekarang pun paham sekuler ini mengakar kuat pada diri kaum muslim, sebab propaganda yang diluncurkan kaum Barat sangat masif. Melakukan otak-atik undang-undang, dan membiarkan masuknya para investor asing menyetir segala aturan main dalam negeri. Secara tidak sadar umat Islam semakin dijauhkan dari ajarannya. Salah satu propaganda yang dilakukan adalah menghapus pelajaran materi fikih Khilafah menjadi muatan dari sisi sejarah saja. Hal ini menunjukkan rezim sangat ketakutan jika ide Khilafah menjadi “booming” dan dikenal oleh masyarakat hingga akan mengganti sistem demokrasi.

Khilafah adalah janji Allah SWT yang pasti terjadi, semakin rezim menghalang-halangi bangkitnya Khilafah maka semakin dekat kabar gembira tersebut datang. Dalam suatu hadist Rasulullah ﷺ bersabda:

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ  فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796)

Dengan demikian, mau tidak mau, suka tidak suka terhadap ide Khilafah ini, maka mustahil untuk dicegah kebangkitannya. Sebab ia merupakan janji Allah SWT yang sudah dikabarkan oleh Rasulullah saw. Seharusnya sikap kita adalah menyambutnya dengan peneuh kegembiraan.

Waallahualam bishowab.