September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Agustina (Aktivis Back To Muslim Identity)

Bulan suci Ramadhan, bulan penuh ampun dan yang paling dirindukan setiap muslim. Dengan berbagai kemuliaan membuat suasana hati gembira menyambut bulan yang istimewa. Pada Bulan Ramadhan kaum muslim melaksanakan ibadah wajib yaitu puasa, ini sesuai dengan perintah Allah, “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (TQS Al-Baqarah:183)

Walaupun puasa merupakan kewajiban individual, tetapi memiliki dan memberikan pesan-pesan politik dan sosial. Secara individual, pelaksanaan puasa Ramadhan berdampak pada peningkatan kualitas ketakwaan. Bahkan inti puasa Ramadhan adalah ketakwaan. Sebab ujung dari pelaksanaan puasa Ramadhan adalah diraihnya status sebagai manusia yang bertakwa.

Maka haruslah bulan suci Ramadhan dilaksanakan dengan penuh antusias dan gembira karena Ramadhan merupakan momentum untuk muhasabah diri. “Rasulullah bersabda, Barang siapa yang bergembira akan hadirnya bulan Ramadhan, maka jasadnya tidak akan tersentuh sedikit pun oleh api neraka.” (HR. an-Nasa’i)

Dengan menjalankan ibadah puasa seorang muslim hakekatnya telah membentengi dirinya. Dari perbuatan keji dan munkar, meningkatkan keimanan serta ketaqwaannya kepada Allah SWT. Nabi Saw bersabda yang artinya: “Puasa adalah perisai selama manusia tidak melubanginya.” (HR. Ahmad)

Ramadhan makin berwarna karena janji Allah selama bukan puasa, pahala setiap amal baik yang dikerjakan manusia akan dilipat gandakan. Dengan demikian orang yang menjalankan ibadah dan puasa Ramadan akan mendapat ganjaran yang luar biasa. Ganjaran itu terbagi dalam 10 hari awal Ramadan, kemudian 10 hari pertengahan Ramadan, dan 10 hari di akhir Ramadan.

Keistimewaan 10 hari pertama Ramadan, Allah melimpahkan rahmat atau kasih sayang. Allah akan mengabulkan permintaan makhluk-Nya dan orang yang beribadah pada 10 hari pertama niscaya memiliki cinta kasih pada sesama dan disenangi banyak orang. Pada 10 hari pertama itu, Allah melimpahkan seluruh rahmat kepada manusia.

Keistimewaan 10 hari selanjutnya adalah ampunan tanpa batas. Segala dosa yang pernah kita perbuat pada masa lalu akan diampuni Allah. Seberapa besar batas ampunannya? Tidak ada batasan sehingga kita patut berbahagia karena semua kesalahan kita diampuni. Kita harus berbahagia karena mendapat kasih sayang Allah. Karena itu bulan suci Ramadhan ini hendaknya melahirkan bukan hanya ketakwaan individual, melainkan juga ketakwaan kolektif yang mewujud dalam penerapan sistem dan perundang-undangan syar’i.

Di tengan pandemi yang belum berkunjung reda dan derita umat makin berkepanjangan setelah 100 tahun tiada kepemimpinan Islam maka Ramadhan tahun ini harus “Penuh Warna” dalam perjuangan tegaknya Islam kaffah. Karena tidak mungkin keberkahan dari Allah turun ketika aturan yang diterapkan saat ini bukan aturan Allah.

Sesungguhnya telah nyata kegagalan sistem kapitalis sekular dalam memberikan kesejahteraan dan ketenangan bagi umat manusia. Karena itu masihkah kita berharap kepada sistem yang rusak ini? Tentu saja tidak! Sudah saatnya kita membuang jauh-jauh sistem yang telah menyengsarakan kita ini. Kita harus mengganti sistem yang telah cacat sejak lahir ini dengan sistem yang mampu mensejahterakan umat manusia. Itulah sistem Islam dengan sistem Khilafahnya yang telah terbukti mampu mengantarkan manusia menuju puncak peradaban, kesejahteraan dan kemakmuran.

Maka sudah seharusnya ketakwaan individu itu secara totalitas menyiapkan diri untuk mampu menjadikan hukum-hukum Allah sebagai timbangan sikap dan perilakunya. Timbangan hukum dalam Islam dari sisi perbuatan ada lima: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Sehingga perlu kehati-hatian dalam berperilaku, agar selalu dalam ketundukan kepada hukum Allah serta terhindar dari jerat kemaksiatan dan pelanggaran hukum syariah. Sehingga di dalam kehidupan dunia selalu merujuk pada tuntunan dari al-Quran dan as-Sunnah.

Semoga ramadhan ini merupakan ramadhan yang terakhir tanpa Khilafah dan bulan yang penuh warna ini menjadi wasilah kaum Muslim dalam memantik ghirah dan komitmen di dalam dakwah dan perjuangan untuk mewujudkan ketakwaan hakiki, baik individu, masyarakat maupun negara. Ketakwaan hakiki ini hanya bisa diwujudkan dengan tegaknya Khilafah. Dan berharap di bulan Ramadhan tahun ini Allah SWT segera menurunkan pertolongan dengan tegaknya Khilafah di muka bumi ini. Wahai kaum Muslim di seluruh dunia segeralah sadar dan satukan visi untuk berjuang menyambut kemenangan hakiki, yakni tegaknya Khilafah ‘ala minhâj an-nubuwwah.[]

Wallahu’alam BIsshowwab