November 9, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Fitri Khoirunisa, A.Md (Aktivis Back To Muslim Identity)

Hari Santri ditetapkan berdasarkan tanggal keluarnya resolusi jihad yaitu seruan ulama kepada santri di kalangan pesantren untuk melawan penjajah. Ini bermakna bahwa para santri dan pesantren merupakan aktor penting pelaku perubahan sesuai tuntunan syariat. Di tambah lagi setiap orang tua juga pastinya menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah, sehingga memilih pesantren adalah jalan terbaik agar anaknya kelak bisa menjadi penolong kedua orang tuanya di akhirat. Namun saat ini, peran santri seakan sirna mendengar kebijakan pemerintah dalam mengembangkan ekonomi syariah berawal di mulai dari pesantren. Padahal peran santri jauh lebih besar daripada sekedar mengembangkan perekonomian termasuk ghiroh santri dalam berjihad di jalan Islam adalah sebagai potensi utama. Peraturan terbaru yang dikeluarkan pemerintah adalah para santri didorong hanya untuk berwirausaha semata dan bisa jadi melupakan peran santri dalam penerapan syariat.

Aksi resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 dimulai dari seruan KH Hasyim Asy’ari kepada para santri dan ulama pondok pesantren dari berbagi penjuru Indonesia. Instruksi tersebut berisi untuk membulatkan tekad dalam melakukan jihad membela tanah air serta melawan dan  mengusir penjajah. Tertulis dalam situs resmi Universitas Islam Nusantara (Uninus), KH Hasyim Asy’ari menyebut aksi melawan penjajah hukumnya fardhu ‘ain. Melalui semangat resolusi jihad tersebut para laskar ulama-santri mempunyai semangat yang sama dalam mengusir tentara sekutu yang ingin merebut kembali Surabaya. (detik.com, 22/10/2021)

Peristiwa resolusi jihad tersebutlah yang dijadikan momentum untuk menjadi hari santri nasional. Oleh karena itu hari santri nasional sudah seharusnya dikembalikan kepada asal tujuan momentum tersebut yakni semangat dalam menegakkan syariah Islam serta menghalau segala macam bentuk penjajahan terutama penjajahan politik dan ekonomi. Penjajahan saat ini terjadi bukan dalam bentuk fisik melainkan dengan bentuk penerapan hukum dan aturan penjajah agar dapat terus berkuasa di negeri ini yakni dengan mudahnya merampok sumber daya alam dan memecah belah negeri dengan penerapan sistem sekuler-kapitalis.

Sayangnya, Peringatan Hari Santri Nasional 2021, dan Peluncuran Logo Baru Masyarakat Ekonomi Syariah atau MES, Presiden Joko Widodo berharap pengembangan ekonomi syariah terus dilakukan. Termasuk di kalangan santri. Acara ini digelar secara fisik dan virtual di Istana Negara Jakarta pada Jumat, 22 Oktober 2021. Hadir pula Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Menteri BUMN yang juga Ketua Umun Masyarakat Ekonomi Syariah, Erick Thohir, Gubernur BI Perry Warjiyo serta Menteri Kabinet Indonesia Maju lainnya. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengutip data The States of Global Islamic Economy Indicator Report yang menyebutkan bahwa peringkat ekonomi syariah Indonesia terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2020, Ekonomi syariah Indonesia sudah berada di peringkat 4 dunia.(viva.co, 22/10/2021)

Para santri saat ini diorientasikan untuk menggerakkan ekonomi dengan program kewirausahaan, hal ini tentu saja merampas potensi santri yang sebenarnya yaitu untuk melanjutkan perjuangan Islam. Inilah yang sebenarnya merupakan program sistem kapitalis saat ini. Serangan demi serangan perlahan menyerang jantung umat Islam. Dan lagi-lagi penguasa melemparkan tanggung jawab yang seharusnya tugas negara kembali dibebankan kepada rakyat yakni mengurusi perekonomian rakyat.

Tugas untuk menjalankan perekonomian termasuk membuka lapangan kerja bukanlah tugas para santri, melainkan tugas Pemerintah. Pemerintah adalah penguasa yang bertugas mengurusi (riayah) urusan rakyatnya, termasuk urusan lapangan kerja. Artinya penguasalah yang wajib menjalankan roda perekonomian, baik santri berperan atau tidak. Rasulullah saw bersabda : “Pemimpin masyarakat adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketika penguasa gagal menyediakan lapangan kerja untuk rakyat, sehingga banyak pengangguran, yang harus mereka lakukan adalah evaluasi diri, bukan menyuruh rakyat (santri) untuk membuka lapangan kerja dan menjalankan kewirausahaan. Bahkan Rasulullah saw. mendoakan keburukan bagi pemimpin yang menyusahkan rakyatnya, “Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim)

Jika bukan pada pemberdayaan ekonomi, lantas apa peran strategis dari para santri? Hal ini kembali pada kelebihan yang santri miliki, yaitu penguasaan tsaqafah Islam. Umat Islam saat ini berada dalam kehidupan sekuler, kondisi disaat Islam terabaikan, padahal Islam adalah solusi kehidupan. Akan tetapi, karena umat tidak mengenal Islam secara mendalam, jadilah mereka mencari solusi dari selain Islam.

Oleh karena itu akibat dari ketidaktahuan terhadap solusi Islam ini, berbagai permasalahan umat tak kunjung mendapat solusi. Dari hari ke hari, masalah umat makin rumit dan kehidupan makin sempit. Para santri itu adalah pelopor kebangkitan umat, dari zaman penjajahan santrilah yang berada di garda terdepan. Tsaqafah Islam yang ada di dadanya adalah “amunisi” untuk melenyapkan jahiliah modern, yaitu sekularisme, kapitalisme, dan liberalisme. Tsaqafah ini pun merupakan “obat” untuk menyembuhkan berbagai “penyakit” di tengah umat, baik penyakit akidah, akhlak, sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain.

Umat butuh para santri untuk mendakwahkan Islam ideologis di tengah masyarakat, bukan malah mejadi sales produk jualan yang diingini penguasa. Dengan aktivitas itu, para santri memimpin umat untuk meraih kebangkitan, yaitu dengan menerapkan Islam kafah di dalam system yang seharusnya yaitu sistem Khilafah bukan sistem sekuler-kapitalis.

Ketika Khilafah tegak, bukan hanya masalah pengangguran yang terselesaikan. Kesejahteraan pun akan terwujud secara merata. Para pelajar (santri) dalam Khilafah tak terbebani untuk membuka lapangan kerja sebab sudah terselesaikan oleh negara. Para pelajar (santri) leluasa mendalami Islam, sehingga tercetaklah para mujtahid yang berkontribusi besar bagi peradaban Islam. Sungguh mengagumkan, pantas saja dulu Khilafah pernah memimpin dunia berabad-abad lamanya.[]

Wallahu a’lam bisshowwab