August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Ummu Nabila (Anggota Penulis Revowriter)

Kanada adalah salah satu negara yang berada di kawasan Amerika Utara. Negara yang beribukota di Ottawa ini terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah. Bahkan termasuk dalam 10 besar negara dengan tingkat perekonomian terstabil di dunia. Kanada baru-baru ini menyedot perhatian publik. Bukan karena perekonomiannya, namun karena serangan terhadap keluarga Muslim di London, Ontario.

Isu Islamofobia kembali marak di Kanada usai serangan tersebut. Kejadian ini menewaskan empat orang korban, yang mencakup tiga generasi. Satu keluarga tewas ketika Nathaniel Veltman (20 tahun) menabrak mereka yang tengah berjalan malam dekat rumah mereka. Anggota kelima keluarga itu, seorang bocah laki-laki berusia sembilan tahun, berhasil selamat. (cnnindonesia.com, 14/06/2021)

Menyikapi hal tersebut, ribuan orang berunjuk rasa sekitar tujuh kilometer dari lokasi kejadian tabrak lari menuju ke sebuah masjid terdekat. Sejumlah demonstran membawa poster bertuliskan “kebencian tak pernah diterima di sini”. Sejumlah aksi serupa juga digelar di kota lain sebagai wujud dukungan terhadap warga muslim Kanada.

Dari penyelidikan awal polisi diketahui serangan itu termotivasi kebencian terhadap Muslim. Menteri Keamanan Publik Kanada Bill Blair, mengkonfirmasi bahwa kasus tersebut sedang diselidiki sebagai tindakan teror. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, mengecam aksi pembunuhan terhadap 4 anggota keluarga Muslim dan menyebutnya sebagai “serangan teroris”. (Kompas.com, 09/06/2021)

Rangkaian aksi kekerasan terhadap umat Islam di Kanada yang terus berulang. Aksi kekerasan yang menimpa satu keluarga muslim di Kanada ternyata bukanlah hal baru. Bahkan, umat islam di Kanada harus menghadapi kengerian setiap harinya. Kekhawatiran bahwa mereka bisa saja menjadi korban aksi kekerasan dimanapun dan kapanpun hanya karena keyakinan yang mereka anut.

Diskriminasi berbasis kepercayaan Islam atau yang dikenal sebagai Islamofobia, sudah sejak lama terjadi di Kanada, terutama di Provinsi Quebec dan Ontario. Mengutip dari kumparan.com, dari ratusan kasus kekerasan dan diskriminasi terhadap Muslim Kanada, setidaknya ada tiga insiden berdarah yang didasari Islamofobia sepanjang tahun 2017-2021.

Pertama, penembakan maut di Masjid Quebec. Dikutip dari The Canadian Encyclopedia, Penembakan ini terjadi di Pusat Kebudayaan Islam Kota Quebec, Sainte-Foy. Insiden ini terjadi pada 29 Januari 2017, usai jemaah melaksanakan ibadah Salat Isya. saat itu, si pelaku yang bernama Alexandre Bissonnette mendatangi masjid pada pukul 19.54 waktu setempat. Pelaku secara membabi buta menembak hingga 11 jemaah dalam waktu 2 menit, menyebabkan 6 orang tewas di lokasi dan 5 lainnya kritis.

Kedua, penusukan penjaga Masjid di Toronto. Dikutip dari CBC Canada, penusukan terjadi di Kota Toronto, Provinsi Ontario, pada 12 September 2020. Korban yang bernama Mohamed-Aslim Zafis (58) adalah seorang relawan Organisasi Muslim Internasional (IMO) yang bertugas menjadi pengurus Masjid Etobicoke. Zafis saat itu sedang mengawasi para jemaah, memastikan mereka mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Zafis yang tengah duduk di sebuah kursi itu dihampiri oleh pelaku, Guilherme “William” von Neutegem (34). Tiba-tiba saja Neutegem menusuk leher Zafis, seketika menewaskan Zafis di lokasi kejadian.

Ketiga, Tabrak lari yang menewaskan satu keluarga musim di kota London, Ontario. Inilah peristiwa terbaru yang menambah daftar panjang bukti islamophobia yang menjangkiti masyarakat barat.
Islamofobia sendiri adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka, diskriminasi, ketakutan, dan kebencian terhadap Islam dan muslim. Istilah ini sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. (Wikipedia.org).

Psikolog dan professor Universitas Simon Fraser, Stephen Wright menilai islamofobia hadir karena adanya pemahaman yang mengaitkan antara Muslim dengan kekerasan dan terorisme. Kesalahpahaman ini telah meresap dalam keyakinan masyarakat Kanada.

Sosiolog dan professor Universitas Wilfred Laurier, Jasmin Zine telah mempelajari Islamofobia di Kanada selama lebih dari satu dekade. Zine menyatakan bahwa dibalik islamofobia dan penindasan ada industri di belakangnya yang merujuk pada tokoh media terkemuka dan kelompok nasionalis kulit putih. Menurut Zine, ada situasi yang mendorong kebencian dan retorika anti-Muslim di Kanada selama bertahun-tahun. Seperti keputusan politik dan undang-undang keamanan, Undang-Undang Anti-Terorisme Kanada yang mulai berlaku setelah serangan 9/11. Juga RUU Quebec 21, yang melarang orang memakai simbol agama seperti hijab dan niqab di tempat kerja. Bahkan, pemikiran ini tak hanya dipercaya masyarakat, tetapi terwakili dalam kebijakan pemerintah dan retorika politik arus utama.

Islamofobia merupakan propaganda barat untuk memojokkan islam. Sebenarnya barat paham betul dengan kekuatan islam dan kaum muslim. Hanya saja, saat ini kaum muslim bagaikan singa yang sedang dininabobokan. Mereka terlelap buaian dongeng barat, sehingga amnesia akan sejarah keadidayaan dan kegemilangan penerapan islam secara kaffah. Bahkan yang lebih memprihatinkan, segolongan umat ini malah terjangkiti islamofobia dan menganggap radikal kaum muslim lain yang mempercayai islam sebagai ideologi sekaligus aturan kehidupan yang wajib diterapkan.

Umat Islam Butuh Junnah untuk Menghentikan Islamofobia

Islamofobia yang ada hari ini memiliki akar sejarah yang kuat di masa lalu. Ketakutan terhadap pengaruh Islam yang semakin meluas mulai tertanam di kalangan masyarakat Barat untuk pertama kalinya semasa Perang Salib (antara 1095–1291) yang melibatkan tentara Muslim dan Kristen Eropa.

Dalam kurun waktu tersebut, Kekaisaran Bizantium dan Roma menggunakan propaganda sentimen anti-Islam untuk merebut Yerusalem dari tangan kaum Muslimin. “Para sejarawan mencatat, jumlah orang Islam dan Yahudi yang terbunuh di al-Quds (Yerusalem) selama berlangsungnya Perang Salib tidak kurang dari 70 ribu jiwa,” ungkap A Said Gul dalam tulisannya, History of Islamophobia and Anti-Islamism yang dimuat oleh the Pen Magazine (2011).

Pada tahun 2004, Daniel Pipes, pendiri Middle East Forum yang juga dikenal sebagai dalang gerakan Islamofobia menulis sebuah artikel berjudul “Rand Corporation and Fixing Islam”. Pipes mengaku senang karena harapannya untuk memodifikasi Islam berhasil diterjemahkan dalam sebuah strategi oleh peneliti Rand Corporation, Cheryl Benard.
Sebelumnya, Cheryl Benard pernah mencetuskan ide untuk mengubah Islam menjadi agama yang pasif dan tunduk kepada Pemerintah AS. Serangkaian strategi pun dirancang dan dituliskan. Ia memaparkan konsepnya itu dalam buku berjudul “Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies.”

Dapat disimpulkan bahwa tujuan besar dari proyek Islamofobia saat ini adalah untuk mencegah bahkan menghentikan dakwah islam politik dalam bingkai Khilafah. Kesadaran umat islam akan hadirnya junnah yang akan menghentikan kekerasan dan penjajahan atas merekapun hari ini meningkat. Sudah saatnya umat islam memiliki Khalifah yang akan melindungi darah dan jiwanya.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw,
إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ
كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

Sesungguhnya Imam/Khalifah adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya. (HR Muslim).
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa imam/khalifah adalah junnah (perisai), yakni seperti tirai/penutup karena menghalangi musuh menyerang kaum Muslim, menghalangi sebagian masyarakat menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam dan tempat orang-orang berlindung kepadanya.

Frasa yuqâtalu min warâ’ihi bermakna, masyarakat bersamanya memerangi orang-orang kafir, bughât, khawarij, seluruh pembuat kerusakan dan orang-orang zalim. Dalam hal ini masyarakat berperang berdasarkan pendapat dan perintah imam/khalifah dan tidak menyalahinya sehingga seakan mereka berada di belakang imam/khalifah.

Makna min warâ’ihi bukan berarti secara fisik harus berperang di belakang imam/khalifah; imam tidak harus menjadi orang terdepan di pertempuran. Boleh saja orang berperang di depan atau di belakang imam, bahkan imam tidak harus memimpin sendiri pertempuran. Gambaran seperti inilah yang lebih pas sesuai dengan realita peperangan sera apa yang berlangsung pada masa Rasulullah Saw. dan Khulafaur Rasyidin.

Dengan demikian, makna yuttaqâ bihi (berlindung kepadanya) bukan menjadikan imam/khalifah sebagai tameng dalam pertempuran, tetapi bermakna, masyarakat berlindung kepadanya dari keburukan musuh, para pembuat kerusakan dan kezaliman, serta segala bentuk keburukan dan kemadaratan. Imam menjadi sandaran masyarakat untuk menghindari semua keburukan itu.

Selanjutnya Rasulullah saw. mewanti-wanti, “Jika imam/khalifah memerintahkan ketakwaan dan berlaku adil, baginya ada pahala,” yakni pahala yang amat besar. Sebaliknya, jika ia memerintahkan yang selainnya ia akan bertanggung jawab atasnya di hadapan Allah.[]

Wallahu’alam bisshhowab