May 21, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Nanis Nursyifa

Tahun baru 2022 baru saja memasuki awal bulan, akan tetapi penistaan Agama kembali terjadi berulang kali seperti tidak akan pernah terhentikan. Kegeraman umat Islam belum berakhir akan kasus yang sama di tahun 2021. Namun kenyataannya orang-orang munafik tidak ingin memberikan ruang ketenangan bagi umat Islam dengan melakukan tindakan penistaan terhadap Islam.

Sebut saja Ferdinand Hutahaean sebelumnya telah dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh DPP KNPI karena cuitan di Twitter yang diduga bermuatan ujaran kebencian mengandung unsur SARA. Namun di sisi lain Kapitra meminta masyarakat memaafkan perbuatan Ferdinand yang mengaku mualaf sejak 2017 itu. “Saya minta dicabutlah semua laporan itu dan kita maafkan (Ferdinand), kita dialog,” (jppn.com, 9/1/2022).

Bagi Kapitra, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk membina Ferdinand guna menguatkan keislaman, begitu menurut Ketua Yayasan Keadilan Masyarakat Mandiri itu. “Ada pengakuan jujur, kita maafkan sebagai umat Islam, apalagi dia juga bagian dari umat Islam, karena dia baru mualaf, baru mengerti Islam. Kita umat Islam harus membimbingnya,” ujar Kapitra.

Penistaan terhadap agama Islam tidak boleh dibiarkan terus-menerus berulang. Justru diamnya umat Muslim tidak akan menghentikan hal tersebut. Diam dan bersabar bentuk dianggap sebagai bentuk kebaikan agar tidak menyebabkan kegaduhan. Padahal bungkamnya umat Islam membuat penista agama semakin menjadi-jadi. Tanpa di sadari, justru saat Agama Allah dinistakan dan hanya bisa diam, sesungguhnya merupakan suatu dosa karena sudah membiarkan kemungkaran.

Mereka seperti lupa dengan sindiran Imam asy-Syafii kepada orang yang diam saat agamanya dihina:

مَنِ اسْتُغْضِبَ فَلَمْ يَغْضَبْ فَهُوَ حِمَارٌ

Siapa yang dibuat marah namun tidak marah maka ia adalah keledai (HR al-Baihaqi).

Bahkan ulama besar Buya Hamka pun mempertanyakan orang yang tidak muncul ghirahnya ketika Agamanya dihina. “Jika kamu diam saat Agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan”.

Pada zaman Nabi saw. Ada seorang pria yang amat marah kepada istrinya karena terus menerus menghina Nabi saw. Akhirnya, sang suami membunuh istrinya tersebut. Ketika kabar ini sampai kepada Nabi saw. Dan pria ini mengakui perbuatannya, beliau bersabda : “Saksikanlah bahwa darah perempuan yang tertumpah itu sia-sia (tidak ada tuntutan). (HR. Abu Dawud)

Mentri Agamapun lebih membela si pelaku dengan dalih “agar tidak menimbulkan kegaduhan” seperti yang di kutip di artikel fajar.co.id (9/1). “Saya mengajak masyarakat untuk tidak buru-buru menghakimi Ferdinand. Kita tidak tahu apa niat sebenarnya Ferdinand memposting tentang ‘Allahmu Ternyata Lemah’ itu,” kata Yaqut di Jakarta, Jumat 7 Januari 2022 kemarin.

Yaqut memaklumi cuitannya Ferdinand karena status mualaf nya. Sehingga Yaqut sarankan ada tabayun. “Termasuk dalam hal akidah. Jika ini benar maka Ferdinand membutuhkan bimbingan keagamaan, bukan cacian. Untuk itu, klarifikasi (tabayyun) pada kasus ini adalah hal yang mutlak,” kata Yaqut.

Padahal jelas-jelas itu sebuah penistaan. Maka wajar jika orang-orang seperti ini subur di negeri ini. Selain pemerintahnya yang abai, juga didudkung oleh sistem negara yang berbasis sekulerisme-liberalisme yang akan selalu memberikan panggung kepada orang-orang untuk terus menista dan menyerang Islam. Mereka bahkan dilindungi oleh peraturan dan UU.

Agama Islam akan terus menjadi sasaran atas kejahilan mereka selama agama ini tidak mempunyai junnah atau pelindung. Satu-satunya pelindung yang memberikan ketentraman dan kenyamanan untuk umat ini hanya satu yaitu negara yang menerapkan aturan Islam. Negara itu adalah Daulah Islamiyah yang senantiasa akan menerapkan hukum dan sanksi peradilan sehingga memberikan efek jera untuk orang-orang munafik penista agama.

Seperti pada masa Khalifah Sultan Abdul Hamid II yang  sanggup menghentikan rencana pementasan drama karya voltaire yang menista kemuliaan Rasulullah saw. Saat itu Khalifah langsung mengultimatum kerajaan Inggris yang bersikukuh tetap akan mengizinkan pementasan drama murahan tersebut. Khalifah memeberikan ancaman dan pementasan itu akhirnya dibatalkan. Inilah bukti ketegasan Islam dalam menangani kasus Penista  Agama, dan inilah yang sesungguhnya umat Islam rindukan, adanya pelindung agung, itulah Khilafah.[]

Wallahu’alam