August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Lulu Nugroho – Pengurus Kajian Muslimah (KAMUS), Malang

Beberapa waktu ke depan, generasi millennial diantaranya para siswa dan mahasiswa sepertinya tidak akan mudah untuk ikut demo. Sebelumnya siswa-siswa STM pernah bergabung dengan mahasiswa tatkala demo penolakan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( RKUHP) dan revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) bulan September tahun lalu, kemudian menjadi viral dan berakhir ricuh, dan kini mereka pun kembali turun ke jalan untuk aksi menolak Omnibus Law.

Melalui aksi massa yang terdiri dari berbagai elemen, diantaranya siswa-siswa sekolah tadi menentang pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja, pada 6-8 Oktober 2020 terjadi serentak di 18 provinsi. Generasi yang selalu dianggap tidak peka karena berada di zona nyaman ini pun akhirnya sekali lagi ikut bergerak menyuarakan keresahan umat.

Kesulitan untuk ikut demo dari kalangan pelajar dan mahasiswa terjadi pada aksi yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jabodetabek-Banten ketika gelar unjuk rasa pada Jumat 16 Oktober 2020,  di kawasan Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Padahal ribuan orang yang terdiri dari buruh, pelajar, dan mahasiswa telah melakukan aksi di beberapa wilayah, namun beberapa diantaranya telah ditangkap setelah melakukan rangkaian aksi protes beberapa hari sebelumnya. (BBC.com, 9/10/2020).

Tidak tanggung-tanggung, pihak kepolisian akan mencatat para pelajar yang mengikuti demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja dan akan ditangkap aparat. Mereka terancam sulit mendapatkan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang biasanya digunakan untuk melamar pekerjaan. Salah satu yang bakal menerapkan hal ini adalah wilayah Tangerang dan Banten. (CNNIndonesia.com, 14/10/2020)

Sanksi ini menuai kontroversi. Salah satunya dari Komisioner KPAI, Jasra Putra, dalam telekonferensi, Kamis (15/10) mengatakan, “Menghindari praktik kekerasan, penganiayaan, intimidasi, misalnya ancaman tidak diberikan SKCK, yang kontra produktif dengan prinsip pembinaan dalam aspek sanksi yang mendidik.” (Ayobandung.com, 16/10/2020).

Sebelumnya imbauan kepada mahasiswa untuk tidak ikut aksi penolakan UU Cipta Kerja Omnibus Law pun telah dikeluarkan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Selain dikhawatirkan berakibat pada kesehatan, sebab melakukan aksi di tengah pandemi. Juga diharapkan mereka tidak termakan hoaks.

Namun mahasiswa sebagai garda intelektual terdepan, memiliki tanggung jawab moral untuk menjembatani perasaan dan pemikiran umat dengan penguasa. Kelebihan ilmu yang dimiliki, membuat mereka dengan mudah menerjemahkan isu kekinian yang menyentuh kehidupan. Maka wajar jika mereka bergerak, saat ditemukan kebijakan yang menyakiti umat.

Hanya saja sekularisme yang menjadi basis pengurusan umat, menjauhkan masyarakat dari berpikir sahih. Karenanya, unjuk rasa anak-anak bangsa lebih banyak didorong oleh naluri mempertahankan diri atau gharizah baqa. Akibatnyarawan disusupi pemikiran batil. Bahkan bukan tidak mungkin jika mereka pun tidak tahu ke mana arah perubahan bangsa.

Padahal mereka merupakan aset berharga suatu bangsa. Kekuatan fisik dan akal mereka jika dibentuk dengan akidah Islam, maka akan menghasilkan daya gerak yang luar biasa. Maka sangat disayangkan jika potensi yang ada tidak diarahkan pada pola sikap ideologis. Tambahan lagi, di pundak merekalah sejatinya beban kebangkitan umat itu diletakkan.

Islam Membentuk Generasi Pemberani

Sementara jauh ribuan tahun yang silam, di Madinah, Zaid bin Tsabit meminta kepada Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wassalam untuk berperang membela Agama Allah subhaanahu wa ta’ala. Di usia 13 tahun ia membawa pedang dengan ukuran yang jauh lebih besar dari pada tubuh kecilnya. Namun, Rasul pun menolaknya. Tiga tahun kemudian, Rasulullah baru mengizinkannya untuk ikut pasukan jihad.

Ada juga Usamah bin Zaid yang berusia 15 tahun. Berdiri tegak agar tubuhnya tampak terlihat tinggi di hadapan Rasul shallallaahu ‘alaihi wassalam, danberharap diperbolehkanterjun ke Perang Khandaq. Begitu pula Rafi’ bin Khudaij dan Samurah bin Jundab, di usia yang sama dengan Usamah bin Zaid, namun tidak diizinkan ikut dalam Perang Uhud.

Tidak hanya Rasullulah sebagai pemimpin negara yang fokus membentuk generasi mulia, para ayah pun tidak ketinggalan. Mereka bangga menjadikan anak-anaknya sebagai pembela agama Allah. Maka ayah Rafi’ segera menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, anakku Rafi’ ini ahli dalam memanah.” Akhirnya Rasulullah membolehkannya ikut perang. Samurah bin Jundab pun diizinkan setelah membuktikan bahwa ia ahli bergulat.

Bahkan Umair bin Abi Waqqash yang berusia 16 tahun, sembunyi-sembunyi masuk ke dalam pasukan. Tatkala Sa’ad bin Abi Waqqash, kakaknya, bertanya perihal itu, ia pun menjawab, “Saya takut kalau Rasulullah melarangku ikut dalam jihad ini, padahal saya ingin sekali ikut dalam jihad ini, mudah-mudahan saya menjadi syahid.” Keduanya menangis ketika Rasulullah shallallaahu alaihi wassallam melarang mereka ikut berperang.

Inilah bukti kekuatan pendidikan Islam. Di usia belia, generasi awal telah memilih jalan Islam, seperti Thalhah bin Ubaidillah, Al-Arqaam bin Abil Arqaam, Abdullah bin Mazh’un, Ja’far bin Abi Thalib, Qudaamah bin Abi Mazh’un, Said bin Zaid dan Shuhaib Ar Rumi dengan usia di bawah 20 tahun. Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Al-Awwam bahkan masuk Islam di usia 8 tahun.

Sungguh berbeda jauh hasil tempaan ideologi sahih. Melalui ri’ayah Islam, lahirpemuda yang siap membela yang haq dan menentang kebatilan. Inilah sebaik-baik generasi peradaban bangkit. Hati dan kepala mereka dipenuhi dengan kecintaan terhadap Islam. Mereka bergerak bukan lagi karena dorongan naluri, melainkan karena akidah.

Karenanya, membentuk millenial yang peka terhadap masalah umat adalah dengan menjadikan Islam sebagai asas di dalam mengelola urusan umat. Melalui upaya sistemik, anak-anak bangsa siap melesat menjadi generasi perubahan, membangun peradaban gemilang yang mampu mengguncang dunia.

Allahumanshurnaa bil islam.