October 18, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Lulu Nugroho (Pengurus kajian muslimah (KaMus))

Hadits “Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Ishaq bin Musa bin Mahran al-Ashbahani (w. 430 H) dalam kitabnya Hilyatu al-Awliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’ dari Ibn Abbas, ia berkata: aku bertanya kepada Umar ra, “Karena apa engkau disebut al-Faruq?”

Umar berkata: “Hamzah masuk Islam tiga hari sebelumku, kemudian Allah melapangkan dadaku untuk Islam.

Aku berkata, “Dimana Rasulullah saw?

Saudara perempuanku berkata, “Beliau di rumah al-Arqam bin al-Arqam di bukit Shafa,”

Maka aku datang ke rumah itu, lalu aku berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.”

Umar berkata, “Maka orang yang ada di rumah itu meneriakkan takbir sehingga terdengar oleh orang-orang di masjid.”

Umar berkata, “Lalu aku katakan: “ya Rasulullah saw, bukankah kita di atas kebenaran jika kita mati dan jika kita hidup?”

Beliau menjawab, “Benar, demi Zat yang jiwaku ada di genggaman tangannya, sungguh kalian berada di atas kebenaran jika kalian mati dan jika kalian hidup.”

Umar berkata, “Kemudian aku katakan, “Lalu kenapa sembunyi? Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran sungguh kalian harus keluar.”

Maka kami keluar dalam dua barisan, Hamzah di salah satunya dan aku di barisan satunya lagi. Ia memiliki garam halus seperti tepung, sampai kami masuk ke masjid.

Umar berkata, “Lalu aku memandang kepada Quraisy dan kepada Hamzah, maka mereka ditimpa bencana yang semisalnya belum pernah menimpa mereka, maka Rasulullah saw pada saat itu menamaiku al-Faruq, dan Allah memisahkan antara yang haq dan yang batil.”

_____________________________________

Upaya menggerakkan masyarakat untuk mengemban Islam tampak dalam wajah reuni 212. Aksi ini merupakan salah satu cara menyampaikan pendapat. Akhirnya menjadi acara tahunan, sebab kehadirannya selalu dinanti jutaan umat. Meski kini diselenggarakan dalam bentuk virtual, sebab terkendala dengan adanya pandemi Covid-19, namun tidak menghalangi para ulama dan tokoh masyarakat kembali menyelenggarakan reuni 212 dalam berbagai bentuk kajian diskusi.

Awalnya digelar pada 2 Desember 2016 silam. Kala itu, Monas menjadi hamparan putih dipenuhi massa yang menggugat kasus penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Massa datang dari seluruh penjuru tanah air, memenuhi monas hingga ke sudutnya, kecuali area berumput. Hingga mengular ke Jalan MH Thamrin dan Medan Merdeka. Diperkirakan saat itu 2 juta orang yang hadir.

Berbagai media dalam dan luar negeri meliput peristiwa ini. Seluruh mata dunia memandang ke sana, takjub melihat potensi umat. Semua berjalan dengan tertib tanpa perusakan fasilitas umum. Peserta aksi pun tidak meninggalkan sampah. Namun lebih dari itu, pesan yang ingin disampaikan kepada dunia adalah bahwa umat tidak rela Islam dilecehkan.

Pada tahun 2017 yang hadir hingga 7 juta orang, menjadi lebih banyak, sebab umat merasakan nikmatnya ukhuwah. Gelombang massa berdatangan terus menerus, bagai air bah. Tak terkira banyaknya. Ketika sekat-sekat ashobiyah itu dilepaskan, saat itulah umat kembali menjadi satu tubuh. Persatuan umat niscaya menggentarkan musuh-musuh Islam. 

Meski sempat dikhawatirkan terjadi kerusuhan dan mengganggu stabilitas politik, namun melalui tayangan YouTube KOMPASTV, Rabu (27/11/2019), Slamet Maarif Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212, menjamin bahwa reuni akbar 212 dilakukan sebagai gerakan moral terhadap kebijakan pemerintah. (Tribun.com, 29/11/2019)

Hal ini menjadi refleksi bersama bahwa politik dalam Islam berbeda dengan sekularisme, yaitu mengurusi urusan umat atau ri’ayah suunil ummah. Tidak ada pemisahan antara agama dengan kehidupan umat. Islam ada di seluruh aspek. Menjadi landasan pemikiran atau qaidah fikriyah, sehingga seluruh sistem yang berdiri di atasnya tegak di atas hukum Allah.

Dalam sekularisme, politik hanya seputar kekuasaan, pemilihan, mencari kursi dan suara. Bahkan digambarkan sebagai sesuatu yang kotor sehingga orang-orang salih dicegah untuk terlibat di dalamnya. Padahal justru itulah yang diperintahkan Allah subhaanahu wa ta’ala, yaitu menggunakan Islam dalam mengelola kehidupan umat.

Maka tidak heran, syu’ur Islam bangkit tatkala ajaran-Nya direndahkan. Sampai-sampai mengusik perasaan umat untuk membela Islam. Akhirnya masyarakat pun tumpah ruah di monas. Gelora perjuangan, mengalir di tubuh umat. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَا ذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَ صْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖۤ اِخْوَا نًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّا رِ فَاَ نْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara

Sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 103)

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Hal ini sejalan dengan aktivitas corporeal politics seperti ditulis Timothy Snyder dalam bukunya ‘On Tyranny’, “power wants your body softening in your chair and your emotions dissipating on the screen. Get outside. Put your body in unfamiliar places. Make new friends and march with them.

Snyder mengajak kita meninggalkan zona nyaman, bangun dari kursi empuk dan lepaskan hape. Kemudian ke luar rumah dan bergabung dengan banyak teman yang baru di tempat yang baru, untuk melakukan aksi. Tirani hanya bisa dihancurkan jika umat bergerak. Jika tidak, maka kezaliman akan merajalela.

Di tahun ketiga bi’tsah kenabian, Allah SWT memerintahkan Rasulullah shollallahu alaihi wassalam untuk mendakwahkan Islam secara terbuka, dengan turunnya ayat ini:

فَا صْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَ اَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS Al-Hijr: 94).

Maka kaum muslim pun ke luar dalam 2 barisan yang rapi. Hal ini mengejutkan masyarakat Makkah. Mereka telah mengenal Muhammad bin Abdullah, namun belum pernah menyaksikan kutlah politik. Rasulullah shollallaahu alaihi wassalam bersama mereka, thawaf di sekitar Ka’bah.

Menjadi penanda berpindahnya tahapan daur istikhfa‘ (dakwah sembunyi-sembunyi) ke daur al-‘ilan (dakwah secara terang-terangan). Maka mulailah terjadi benturan fisik dan pemikiran di tengah masyarakat. Kafir Quraisy menganiaya Rasulullah shollallaahu alaihi wassalam juga pengikutnya dari golongan yang lemah.

Seperti halnya saat ini banyak persekusi terjadi di tengah umat. Namun upaya pencerdasan umat tidak boleh berhenti. Tsaqofah barat yang bercokol di hati dan kelala umat harus disingkirkan dan diganti dengan Islam. Inilah yang akan menggerakkan umat, mengantarkan mereka pada peradaban baru di bawah kepimpinan Islam. Allahumma ahyanaa bil islam.[]

Wallahu’alam Bisshowwab