October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah SAW berumur 35 tahun, kaum Quraisy berkumpul untuk membangun Ka’bah”. Saat itu banjir besar menghancurkan dinding Ka’bah yang rapuh setelah kebakaran menimpanya. Ibnu Ishaq melanjutkan, ”Kemudian kabilah-kabilah Quraisy mengumpulkan batu untuk membangunnya. Setiap kabilah mengumpulkannya sendiri-sendiri, kemudian membangunnya. Ketika pembangunan sampai pada tempat Hajar Aswad, mereka lalu bertengkar karena masing-masing kabilah ingin meletakkan Hajar Aswad tersebut. Abu Umayyah al Mughirah al Makhzumi berkata, ”Wahai Quraisy, jadikanlah orang yang pertama kali memasuki pintu masjid ini (pintu Bani Syaibah) adalah yang akan memberikan keputusan atas masalah kalian ini. Mereka pun menyepakatinya. Ternyata yang pertama kali memasukinya adalah Rasulullah saw. Mereka pun meridhainya, lalu memberitahukan kepada beliau saw perselisihan mereka.”

Rasulullah saw meminta sehelai kain, lalu meletakkan Hajar Aswad di atas kain tersebut. Kemudian beliau meminta masing-masing kabilah untuk memegang sisi-sisi kain tersebut, lalu mengangkatnya bersama-sama. Ketika sampai di tempatnya, Rasulullah saw sendiri mengambil Hajar Aswad tersebut, lalu meletakkannya. Pembangunan Ka’bah kemudian dilanjutkan hingga selesai.

Peristiwa ini mengungkap kedudukan Nabi saw ditengah-tengah Quraisy. Ada dua kemuliaan Rasulullah saw yang bisa disaksikan pada peristiwa ini. Pertama, mengakhiri perselisihan dan menghentikan perang yang mungkin bisa terjadi di antara kabilah-kabilah Quraisy. Kedua, Allah SWT mempersiapkan Rasulullah saw untuk meletakkan Hajar Aswad dengan kedua tangannya yang mulia. Begitulah hikmah ilahiyah, tampilnya Rasulullah saw sebagai hakim bagi perselisihan Qurasiy dan menjadikan beliau sosok yang bijaksana serta dapat dipercaya bagi penduduk Makkah bahkan semua orang Arab.

Ketika umur Rasulullah saw mendekati 40 tahun, perhatian terhadap kehidupan yang telah beliau lalui telah memperlebar jarak pemikiran beliau dengan kaumnya. Praktek syirik yang tersebar di masa jahiliyah itu sangat meresahkan beliau. Hal inilah yang mendorong Rasulullah saw untuk senang menyendiri. Setiap tahun beliau pergi ke Gua HIra’, terletak di Jabal Nur kurang lebih 2 mil dari Makkah. Di sanalah setiap bulan Ramadhan Rasulullah saw bermukim. Rasulullah saw menghabiskan waktu untuk bertafakkur tentang kehidupan di sekitar, mencari kebenaran atas semua yang membebani pemikiran beliau.

Begitulah Allah SWT menyiapkan Rasulullah saw al amanah al kubra, mengubah wajah dunia dan meluruskan garis sejarah. Allah SWT menyiapkan ‘uzlah ini selama 3 tahun sebelum menerima taklif untuk menyampaikan risalah Islam. Allah SWT lalu memberikan hidayah atas apa yang membebani pemikiran beliau selama ini, dengan turunnya wahyu yang pertama kali yaitu surat al-Alaq ayat 1-5.

Hal ini sebagaimana telah dinyatakan dalam ayat yang lain. Allah SWT juga berfirman :

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

“Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (TQS. Ad-Dhuha: 7)

Wallahu a’lam bi ash shawab

Rujukan:

Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah

Asy-Syaikh al-Khudari, Nur al-Yaqin fi Sirah Sayyid al-Mursalin

‘Ali Muhammad Muhammad ash-Shallabiy, as-Sirah an-Nabawiyah

Muhammad al Ghazali, Fiqh as-Sirah

Shafiyurrahman al Mubarakfuriy, ar-Rahiq al-Makhtum