April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Ibunda Nabi Muhammad SAW, Aminah, wafat ketika beliau berumur 6 tahun. Saat itu, ibunda Aminah mengajak Rasulullah saw pergi ke Yatsrib mengunjungi paman-paman beliau dari Bani Adi bin an Najjar. Dalam perjalanan pulang ke Makkah, tiba-tiba Ibunda Aminah terserang demam lalu meninggal di Abwa’ (terletak di antara Madinah dan Makkah). Sepeninggal Ibunda Rasulullah saw, pengasuhan beliau beralih ke kakek beliau yakni Abdul Muthallib.

Abdul Muthallib mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada cucunya baginda Rasulullah saw. Begitu juga keluarga dari Abdul Muthalib. Nabi saw hidup di rumah yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Kehadiran orang-orang yang menyayangi Nabi saw, menjauhkan rasa kesendiriannya sehingga beliau tidak merasakan pahitnya kehilangan kedua orang tua. Inilah ri’ayah rabbaniyah, salah satu nikmat dari Allah SWT kepada Rasulullah saw, sebagaimana firman-Nya

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (TQS. Adh-Dhuha: 6)

Bahkan ketika Abdul Muthallib melihat rahasia penting pada kehidupan cucunya yang kelak menjadikan Rasulullah saw memiliki kedudukan yang agung, maka, Abdul Muthallib menyediakan tempat khusus untuk Rasulullah SAW. Kebiasaan Abdul Muthallib menyediakan hamparan di bawah naungan Ka’bah. Hamparan tersebut dikelilingi anak-anak beliau juga para pembesar kaumnya dari kalangan Quraisy dan pemimpin Makkah. Tidak ada satupun yang boleh duduk di atasnya sebagai bentuk penghormatan kepada Abdul Muthallib.

Namun, ketika baginda Nabi Muhammad SAW datang, Abdul Muthallib memanggilnya untuk duduk di samping beliau di atas hamparan tersebut, tanpa orang lain bahkan anak-anak beliau sendiri. Abdul Muthallib berkata, ”Biarkan anakku ini karena demi Allah,  sesungguhnya ia memiliki kedudukan yang agung”. Tentu saja ini menjadi perbincangan bagi masyarakat Makkah maupun yang datang ke sana, sehingga Rasulullah SAW menjadi sorotan orang-orang Arab pada masa itu.

Baginda Rasulullah Muhammad SAW terus menerus dalam keadaan di bawah pengasuhan kakek, hingga beliau berumur 8 tahun, dan Abdul Muthallib wafat. Selanjutnya, pengasuhan terhadap Rasulullah SAW beralih kepada paman beliau, yaitu Abu Thalib.

Abu Thalib mengasuh baginda saw dengan sepenuh jiwa dan raga, sebagaimana yang dilakukan ayahnya. Untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan kemampuan Rasulullah saw dalam menghadapi beban hidup, Abu Thalib melatih beliau menggembala kambing milik keluarganya. Rasulullah SAW tidak mengeluh, bahkan sebaliknya mendapati banyak hal ketika menggembala. Menggiring kambing menuju padang gembalaan dan sumber air, menjaga agar kambing tetap berada dalam gerombolannya hingga menuntunnya kembali ke kandang, akan menumbuhkan karakter sebagai seorang yang bertanggung jawab dalam memelihara urusan yang diamanahkan kepadanya.

Selain itu, interaksi Baginda SAW dengan para penggembala lainnya, yang sebagian besar merupakan orang miskin dan budak, makan dan minum bersama mereka, akan menumbuhkan semangat untuk tolong menolong, saling merasakan kebutuhan orang miskin dan merasakan penderitaan orang-orang yang lemah. Inilah hikmah Allah menjadikan Nabi dan Rasul adalah para penggembala. Ibnu Ishaq berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Tidaklah seorang Nabi itu kecuali ia pernah menggembala kambing.” Dikatakan, “Bagaimana dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau SAW bersabda, ”begitu juga aku”.

Wallahu a’lam bi ash shawab