October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Nanis Nursyifa

Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Australia telah mengumumkan aliansi keamanan trilateral baru bagi kawasan Indo-Pasifik untuk menghadapi ancaman abad ke-21 dengan nama aliansi AUKUS. Aliansi ini memungkinkan pembagian kemampuan pertahanan yang lebih besar, termasuk membantu Australia untuk memperoleh kapal selam bertenaga nuklir. Untuk saat ini, hanya enam negara di dunia yang mengoperasikan kapal selam bertenaga nuklir. Mereka di antaranya Amerika, China, Prancis, India, dan Rusia. (dw.com, 16/9/2021)

Aliansi ini awalnya dibentuk untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir, kemudian juga untuk bekerja sama di kawasan Indo-Pasifik. Kebangkitan China dipandang dapat meningkatkan ancaman, dan mengembangkan teknologi yang lebih luas.
Kekhawatiran semacam ini kembali mengingatkan Indonesia mengenai pentingnya memperkuat pertahanan negara. Meskipun Indonesia terkenal dengan sebutan negara cinta damai tapi pertahanan terhadap negara Indonesia sesuatu yang harus terus menerus dilakukan. Untuk saat ini, AUKUS rasa-rasanya belum akan berpengaruh signifikan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Indonesia. Namun pemerintah harus mendiskusikan AUKUS secara serius, dan mencari skema serta langkah-langkah terbaik untuk memastikan kepentingan nasional Indonesia terjaga dengan baik dari segala ancaman.

Harus disadari bahwa munculnya AUKUS menambah banyak pintu masuk kepentingan negara besar dalam rangka menjajah kawasan Indonesia. Hal ini bukan tanpa sebab mengingat banyaknya potensi sumber daya alam yang melimpah di negara Indonesia.

Sayangnya Indonesia kehilangan kekuatan, kekayaan dan kemampuan dalam hal kemiliteran apalagi dalam melindungi nyawa rakyatnya. Kita lihat kasus-kasus terbaru perihal keselamatan nakes di Papua. Sejauh ini belum ada tindak nyata dari pemerintah dan hal ini semakin menunjukkan minimnya penjagaan negara terhadap nyawa rakyat. Jika Indonesia sadar akan posisi dan potensi strategisnya, semestinya Indonesia bisa menjadi negara yang memimpin dan mengarahkan setiap kawasan untuk terlepas dari cengkraman penjajah.

Kedaulatan sekaligus kemandirian sebuah negara akan terwujud secara benar jika negara tersebut mengadopsi Islam dalam mengatur sistem kenegaraan. Tidak hanya menjadikan Islam sekedar formalitas atau simbol saja, melainkan tampak dalam seluruh bentuk interaksi masyarakat dan negaranya.

Menjaga perbatasan negeri sangatlah penting dalam kacamata politik pertahanan Islam. Di dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200).

Dalam Tafsir Jalalain diterangkan sebagai berikut: “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dalam melaksanakan ketaatan, dalam menghadapi berbagai musibah, maupun dalam menghindari berbagai kemaksiatan, serta lebih bersabarlah kalian dalam menghadapi musuh-musuh kalian, janganlah musuh kalian lebih sabar daripada kalian, dan jagalah perbatasan kalian dengan menegakkan jihad fii sabilillaah, bertaqwalah kalian kepada Allah dalam berbagai situasi dan kondisi kalian, agar kalian beruntung di surga dan selamat dari siksa neraka.”

Rasulullah saw bersabda : “Ribath (menjaga perbatasan wilayah Islam dari serangan musuh-musuh Islam) sehari semalam lebih baik dari pada puasa sunnah dan shalat sunnah sebulan penuh. Dan jika seorang murabith mati di tengah melakukan ribath, maka amal perbuatannya itu akan terus berpahala. Dan ia diberikan rizqinya disurga kelak, serta tidak ditanya di dalam kubur (oleh malaikat munkar dan nakir)” (HR. Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“(ada) Dua mata yang niscaya kelak tidak akan tersentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga malam (tidak tidur) demi menjaga keamanan umat Islam berjuang di jalan yang diridlai Allah” (HR. Tirmidzi).

Sudah waktunya bagi penguasa Muslim khususnya Indonesia yang mayoritas masyarakatnya muslim untuk mengadopsi kembali visi maritim Islam yang akan membebaskan tanah dan laut mereka dari ketundukan terhadap negara-negara kafir penjajah sehingga akan mampu menjaga kedaulatan wilayahnya dengan supremasi hukum-hukum Islam. Oleh karena itu sebuah visi yang menjadikan dorongan iman, jihad, dan ketakwaan sebagai pondasi, bukan keserakahan dan penjajahan ekonomi seperti saat ini.[]