May 21, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Sri Suarni

Acara silaturahmi Rajab 1443 pada 20 Februari 2022  yang mengusung tema “Ambruknya Kapitalisme Tegaknya Peradaban Islam” kita mendapat pencerahan bahwasanya melalui sejarah Rasulullah dan para sahabat melakukan aktivitas dakwah tanpa kekerasan, tanpa terikat dengan negara kufur dan segala pertentangan yang dialami untuk menegakkan islam dalam bingkai negara. Dengan momen Rajab ini diharapkan kita bisa menggali peristiwa bersejarah dan berjuang mewujudkannya kembali.

101 tahun tanpa Khilafah. Bagaimana dunia Islam pasca runtuhnya khilafah yang selama ± 13 abad menjadi perisai dunia? Penjajahan yang terjadi di negara-negara muslim, dan pelecehan terhadap wanitanya sebagaimana yang terjadi di India dan di belahan dunia lain.

Pada materi pertama disampaikan tentang kegemilangan peradaban Islam. Saat nikmat iman, nikmat Islam dirasakan saat taat pada seluruh syariatnya, maka peradaban yang gemilang akan terwujud. Sesuatu yang harus diakui bagaimana peran Islam dalam peradaban. Walau bagi sebagian orang saat ini hanya dianggap sebagai bagian sejarah. Padahal banyak pengakuan Barat terhadap peradaban Islam yang menciptakan negara adidaya (superstate) yang wilayahnya terbentang luas, dengan ratusan warga dengan perbedaan kepercayaan dan suku.

Ketika Rasulullah saw berada di Madinah beliau menjalankan aktivitas dakwah sebagai pemimpin negara (aktivitas yang dilakukan secara terencana dengan konsep-konsep kenegaraan). Sehingga terciptalah kesejahteraan yang tidak terbantahkan. Di masa Khalifah Umar ibn al-Khattab dibangun pabrik roti untuk memfasilitasi kebutuhan pangan warga. Bahkan dimasa Umar bin Abdul Aziz tidak ada warga yang berhak menerima zakat, karena warga sudah berkecukupan. Peradaban Islam tidak hanya untuk kesejahteraan warganya namun juga memberi banyak sumbangsih pada negara lain. Demikian pula keunggulan sains dan teknologi, tatkala di Eropa pada saat itu sedang dalam keadaan suram. Sehingga tidak ada satu erapun tanpa terinspirasi dari kejayaan Islam. Itulah warisan Islam untuk dunia.

Karen Amstrong yang mengatakan, “Cendekiawan Muslim menemukan penemuan-penemuan ilmiah penting selama kurun waktu yang panjang di seluruh sejarah yang pernah ada sebelumnya”. Mantan Presiden Amerika Barack Obama juga mengatakan peradaban saat ini berhutang besar pada Islam.

Peradaban yang besar tadi ada yang sering dilupakan, yaitu peran sentral negara, peran sentral Khilafah, yang dilupakan bahkan “dinyinyiri” sebagian orang. Dengan secuil gambaran kegemilangan Islam di atas tidak lain sebagai bentuk retrospeksi sekaligus introspeksi yang tentu amat diperlukan oleh kaum Muslim saat ini.

Harapannya kaum Muslim dapat menyadari dan jujur sehingga akan mampu melihat kembali kebesaran peradaban Islam sekaligus potensinya untuk kembali hadir pada masa depan. Karena itu selain meretrospeksi keagungan peradaban Islam masa lalu, presentasi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memproyeksi sekaligus merekonstruksi masa depan peradaban Islam di tengah-tengah hegemoni peradaban Barat sekuler yang sesungguhnya yang saat ini sudah mulai tampak jompo, rapuh dan kelihatan tanda-tanda kemundurannya.

Pro dan kontra terkait khilafah, dikulik tuntas pada materi selanjutnya. Banyak argumen yang menentang Khilafah, namun terjawab dengan penjelasan di dalam al-Quran Surah Al-Maidah ayat 8, 44, 45, 47, 49. Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang menjalankan pemerintahan dengan menegakkan hukum-hukum Allah. Siapa yang tidak mau berhukum dengan hukum Allah maka orang kafir, zalim, atau merupakan orang fasik. Dikatakan kafir, zalim dan fasik tentu ada ketentuannya. Dikategorikan kafir, karena tidak percaya bahwa hukum Allah adalah yang terbaik. Sedangkan kategori zalim dan fasik karena malas dan tidak mau tahu.

Selain itu, banyak juga terdapat dalil-dalil seputar kewajiban Khilafah. Dengan tegaknya Khilafah maka akan menegakkan hudud, menjaga perbatasan, memungut zakat. Karena seluruh kewajiban tersebut tidak bisa ditegakkan tanpa adanya sistem negara Khilafah yang melaksanakannya. Rasulullah bahkan menegaskan tidak akan ada Nabi setelahku tapi akan ada banyak para Khilafah. Maka penuhilah (taat) kepada Khilafah sepanjang sesuai dengan syara’. Walaupun akhirnya Khilafah runtuh hingga kekhilafahan terakhir pada tahun 1924M.

Khilafah sering juga dikatakan sebagai ancaman kebhinekaan. Padaha Akidah Islam pasti mendorong uamt Islam untuk berdakwah juga kepada non muslim. Dalam sejarah negara Khilafah tidak ada paksaan dalam beragama bagi warga negara. Begitupun di dalam Khilafah akan ada banyak mazhab atau pendapat fiqih yang memang digali melalui ijtihad para ulama. Fakta menunjukkan bahwa Andalusia di bawah Islam hidup dengan rukun dan sejahtera, serta beberapa agama hidup berdampingan. Namun pada saat Ratu Isabel merebutnya dari Islam dan berkuasa justru penduduknya dipaksa untuk masuk ke dalam agama tertentu.

Khilafah sering juuga dianggap tidak cocok di zaman sekarang. Padahal secara empirik tidak ada akar sejarah ketika memperjuangkan Khilafah akan membuat umat menjadi mundur ke belakang. Bahwa Islam otoriter, yang berarti bertidak semaunya. Khilafah tidak seperti itu.

Keberadaan Khilafah dapat dianalogikan sebagaimana imam shalat ketika dipilih jamaahnya dengan parameter kemampuan dalam bacaan dan disukai. Maka jamaah harus mengikuti imam sebatas gerakan salat. Jika diluar itu jamaah tidak boleh mengikuti. Demikian pula Khalifah yang dipilih umat dan memerintah harus sesuai hukum syara. Ketika Khalifah menyimpang maka bisa dimakzulkan (red_dimundurkan) karena amar ma’ruf nahi mungkar.

Apakah Khilafah hanya sekedar sejarah? Banyak bukti-bukti yang sifatnya sub ordinat. Bahkan jejak dan sejarahnya di Nusantara. Misalnya pemintaan bantuan kepada pasukan Khilafah, dan meminta izin menyatukan para sultan dalam melawan penjajah. Sehingga sejarah Khilafah menancap kuat bahkan di Nusantara.

Lalu apakah Khilafah merupakan kemunduran?  Kemunduran seperti apa? apakah tidak mau berada dalam posisi agung, saat peradaban Islam tegak? Seperti saat ini banyak hinaan kepada kaum muslimah, sementara tidak ada pembela (Khilafah). Maka menyatakan Khilafah merupakan kemunduran hanya berdasarkan prasangka tanpa menggunakan data.

Lantas bagaimana metode menegakkan kembali peradaban Islam? Materi selanjutnya memaparkan bahwasanya semua sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Hanya tinggal kita pahami dan ikuti. Banyak kitab sirah nabawiyah yang ditulis para ulama yang mengkaji kehidupan Rasulullah dan para sahabat. Tidak hanya sekedar cerita turun-temurun saja tetapi banyak suri tauladan yang dapat diambil untuk dijadikan pijakan dalam beraktivitas untuk mewujudkan sebuah blueprint negara Islam.

Rasulullah dan para sahabat mulai beraktivitas dan mengkaji Islam di Darul Arqom. Ketika Allah memerintahkan untuk dakwah terang-terangan para sahabat melakukan interaksi kepada masyarakat dan memunculkan kutlah dengan memisah menjadi dua kelompok barisan dengan mengelilingi ka’bah. Ini adalah fase terang-terangan atau dakwah terbuka.

Begitu pula interksi dakwah di tengah publik, dilakukan Rasul saat datang ke Thaif sampai dilempari batu. Sampai-sampai Rasulullah diminta untuk memberi azab kepada penduduk Thaif tetapi Rasul menolak. Interksi pada suku mayoritas di Madinah, akhirnya terjadi bai’at aqobah pertama dan kedua dari suku Aus dan Khazraj yang dikenal sebagai kaum Anshor, menjadi pembela dakwah dan Rasulullah saw.

Momen satu Muharam dimulai sejak hijrahnya Rasulullah ke Madinah disebut sebagai tahun siyasah/politik. Itulah momen pertama kali Rasulullah saw menjadi kepala negara. Maka metode inilah yang harus dipilih dan dicontoh sebagai metode untuk menerapkan Khilafah. Semua itu tanpa melakukan aktivitas kekerasan. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita tidak berpaling  dari apa yang dilakukan Rasulullah saw. Bahwa Khilafah merupakan pangkal dan kewajiban kita di dunia.[]

Wallahu a’lam bishowab

#Reportase Rajab