August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Sri Suarni (Aktivis Muslimah Ideologis Khatulistiwa)

Aksi laporan dan persekusi kembali terjadi, hal ini pun gencar dilakukan oleh para pembenci Islam kepada ulama di negeri ini. Seperti yang baru saja menimpa Ustadz Muhammad Ismail Yusanto, sosok yang selalu tegas dan santun namun dengan argumentasi yang logis dan syar’i seringkali mematahkan sekaligus membalikkan pernyataan, tuduhan, maupun hujjah dari berbagai pihak yang menyudutkan Islam dan dakwah Islam. Belaiu telah dilaporkan ke polisi dikarenakan upayanya yang senantiasa teguh menyuarakan dakwah penegakkan Khilafah, yang dianggap mengancam keutuhan negara. 

Tuduhan yang ditimpakan terhadap ulama ini seringkali terjadi dengan kasus yang berbeda-beda. Para ulama tetap istiqomah berdakwah dalam rangka mengingatkan umat agar mau mengamalkan Al-Qur’an secara total dalam seluruh aspek kehidupan, temasuk aktivitas dakwah dalam rangka mengkritisi kebijakan penguasa, tetapi seringkali dianggap radikal dan berbahaya.

Sedangkan disisi lain ketimpangan hukum berbeda dilakukan seperti korupsi, penipuan, suap menyuap terutama yang melibatkan oknum pejabat dan koloninya yang nyata-nyata telah merugikan negara. Jeratan narkoba, aktivitas ribawi, tontonan tak pantas dan sex bebas, justru dianggap hal biasa, bahkan hukum negeri seperti menutup mata membiarkan menjadi tontonan rakyat yang dianggap tak mengerti. Demikian pula penistaan terhadap agama yang seringkali terjadi, namun penguasa tak pernah merespon atau memberi tanggapan yang berarti.

Berbeda halnya jika ada ulama atau umat muslim yang mendakwahkan penerapan syariah secara secara kaffah serta menolak dominasi barat yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Maka diksi radikal, garis keras yang mengandung konotasi negatif akan dituduhkan terhadap seorang pengemban dakwah kaffah, dan upaya monsterisasi ajaran Islam dan radikal menjadi istilah yang disematkan.

Kebebasan berpendapat yang selalu diagungkan dalam sistem demokrasi merupakan salah satu hal yang di lindungi dan bagian dari Hak Azasi Manusia. Namun hal itu sepertinya tak berlaku bagi para aktivis dakwah, yang acapkali mengalami tindakan tak terpuji dari upaya pembubaran paksa pengajian hingga mengalami penolakan dan persekusi.

Ulama memiliki tanggung jawab membina, membimbing, menjaga umat di jalan kebenaran dan menghindarkan mereka dari jalan kesesatan sesuai syariat Allah SWT dan Rasul-Nya. Keberadaan para ulama di tengah-tengah masyarakat merupakan karunia yang tak ternilai harganya yang mutlak dibutuhkan umat sebagai penawar dalam kehidupan yang serba keras dan melenakan. Ulama harus ditaati dan dihormati sesuai koridor syar’i.

Ulama yang baik adalah seorang pemimpin agama yang dengan kesungguhan dan kesabarannya untuk menegakkan kebenaran, menjalankan dan teguh menyuarakan serta memperjuangkan apa yang menjadi perintah Allah SWT tanpa memilih posisi aman dengan menyembunyikan visi dan misi dakwah Islam. Sebagaimana firman Allah dalam surah As-Sajadah ayat 24, 

“Kami jadikam diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami, ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” [TQS As-Sajadah : 24]

Kedudukan ulama yang begitu terhormat tersebut, maka menjaga kehormatannya menjadi sebuah keniscayaan. Membela ulama sama dengan membela agama itu sendiri. Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata “Memuliakan para ulama adalah sebuah kewajiban. Karena mereka adalah pewaris para nabi. Sikap meremehkan ulama yang dilakukan termasuk merendahkan kedudukan mereka. Juga perendahan terhadap ilmu yang mereka miliki. Jika kita tidak memiliki kepercayaan pada para ulama, lalu kepada siapakah kita akan menaruh kepercayaan? Tempat seharusnya untuk meminta solusi dalam menyelesaikan masalah-masalah dan penjelasan tentang hukum-hukum syariat?” 

Inilah jalan dakwah yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shalallahualaihi wasallam, teladan umat manusia di dunia, guru bagi pejuang sepanjang masa. Demi menuju perubahan hakiki sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu tetap bersama ulama yang lurus. Jika kita tidak mempercayai ulama yang konsisten berdakwah demi mengajak umat tunduk kepada aturan Allah, maka akan terjadi kekacauan dan kebingungan di dalam diri umat.

Bahwasanya kemenangan Islam adalah janji Allah, dengan atau tanpa kita. Tidakkah kita mengambil pelajaran dari para pembenci Islam kaffah, sejarah para penghalang dakwah? Karena sejatinya dunia hanya tempat persinggahan kita, maka sudah selayaknya kita memperjuangkan agama Allah seperti yang telah dicontohkan oleh ulama-ulama sholih. Sesungguhnya bukan Islam yang memerlukan kita, tapi kitalah yang memerlukan Islam sebagai penerang jalan menuju tempat yang kekal. 

Wallahu a’lam bi shawab