April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Agustin Pratiwi S.Pd (Aktivis Muslimah Ideologis Khatulistiwa)

Persekusi terhadap ulama kembali terjadi, kali ini menimpa Ustadz Ismail Yusanto. Beliau dituding mengusung ide berbahaya hingga dianggap hendak melakukan makar. Tudingan dan tuduhan tersebut lantas menjadi legitimasi dibenarkannya perbuatan persekusi kepadaya.

Para ulama yang teguh dalam berdakwah secara ahsan, mengkritisi kebijakan penguasa, hingga istiqomah mengingatkan umat agar mengamalkan Al Qur’an secara totalitas dalam seluruh aspek kehidupan saat ini akan dianggap sebagai kaum radikal yang mengancam keutuhan negara. Sedangkan merajalelanya korupsi, suap-menyuap di Dewan Perwakilan Rakyat, penipuan, narkoba, tontonan tak senonoh, free sex hingga ketimpangan hukum di negeri ini, sudah lumrah seolah jadi hal yang biasa terjadi.

Dalam sistem demokrasi, atas nama Hak Asasi Manusia, kebebasan menyampaikan pendapat adalah salah satu hak yang dilindungi. Di saat ide feminisme bahkan ide LGBT diberi ruang dan fasilitas untuk tetap eksis, nyatanya tak berlaku bagi para aktivis dakwah Islam. Hal ini telah menunjukkan wajah demokrasi yang hipokrit yaitu tidak konsisten. Di satu sisi melindungi dan memiliki sikap menerima terhadap ide-ide apapun dengan alasan kebebasan, tetapi di sisi lain memiliki sikap atau tingkah laku yang menentang kebebasan khususnya bagi ide dan ajaran Islam.

Ajaran Islam kian dinistakan hingga berulang kali, ancaman pembubaran kajian, dan insiden persekusi ulama yang istiqomah mendakwahkan Islam. Inilah ironi hidup dalam sistem demokrasi liberal, setiap orang bebas dalam mendefinisikan kebebasan sesuai dengan kepentingannya, namun naas hal ini tidak berlaku untuk kebebasan dalam mensyiarkan Islam.

Dakwah adalah perkara yang telah Allah SWT perintahkan kepada tiap insan kaum muslimin. Aktivitas menyeru manusia pada al-haq (Islam)  adalah semata-mata karena menjalankan perintah dari Rabb Yang Maha Kuasa, oleh karenanya tak ada hak bagi manusia lain untuk  menghalangi seorang hamba untuk menjalankannya. Tak terkecuali dakwah untuk menegakkan Khilafah.

Imam ad-Dumaiji menyatakan “Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini (kholifah) dan bahwa ia adalah wakil dari pemilik syariah (Rasulullah saw) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. (Kedudukan ini) dinamakan khilafah dan imamah dan orang yang melaksanakannya disebut kholifah dan imam” ( lihat ad-Dumaiji, Al Imamah al-Uzmah ‘Inda Ahl as-Sunnah w al jama’ah, hlm. 34).

Khilafah jugalah yang telah berperan besar menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Bahkan Khilafah merupakan warisan dari Rasulullah saw, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “Dahulu Bani Israel diatur hidupnya oleh para Nabi, setiap seorang Nabi meninggal, dia digantikan oleh Nabi yang lain, dan sesunggguhnya tidak ada Nabi setelahku. Dan akan ada para kholifah dan jumlah mereka akan banyak.” (HR.Muslim no 1842).

Dalam riwayat yang lain Rasululllah saw bersabda “Sungguh, orang yang hidup diantara kalian sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karna itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyin yang mendapat petunjuk dalam ilmu dan amal.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Namun, tetap saja didalam aktivitas dakwah Islam akan ada pihak yang tidak suka, dan hal ini  telah ada sedari dulu. Sebagaimana Allah SWT juga menceritakan kisah Namrud dan Firaun dalam Al-Qur’an.

Tantangan demi tantangan yang dialami Nabi Ibrahim tak jadikan semangatnya padam, Ibrahim as tak pernah putus asa untuk menyampaikan dakwah dan merubah pemikiran, keyakinan penguasa yaitu Namrud serta masyarakat kala itu. Begitu pula Nabi Musa as dan para pengikutnya. Meskipun rezim Firaun melarang menyebarkan dakwah dengan cara mempersekusi, mencemooh hingga melakukan serangan fisik, tak membuat mereka surut menyiarkan Islam.

Pada zaman Rasulullah saw, rezim jahiliyah bahkan sampai hati melakukan pemboikotan dan membunuh orang-orang yang bersikukuh memeluk Islam. Namun, itu semua tak menjadikan mereka yakni para nabi dan rasul untuk meninggalkan dakwah lalu menuruti kemauan penguasa untuk berhenti berdakwah. Benar saja, kini hasil seluruh perjuangan para nabi dan rasul dapat kita rasakan. Sedangkan hasil dari dakwah Islam, betapa indahnya risalah ini telah memenuhi 2/3 dunia hingga 13 abad masanya menguasai dunia dengan Khilafah Islam sehingga mendatangkan rahmat dari Allah SWT.

Oleh karena itu estafet perjuangan harus dilanjutkan untuk membumikan Islam agar seluruh alam merasakan rahmat dari Dzat Yang Maha Kuasa dengan menjalankan segala aturan dari-NYA. Semoga para penguasa yang menghalangi dakwah Islam segera bertaubat dan menyerahkan kekuasaannya kepada Islam hingga kecintaan dan keridhoan Allah dan RasulNya ia dapatkan.

Wallahua’lam bisshawwab.