July 31, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Perbincangan tentang Khilafah hingga saat ini tak pernah kosong dari ruang publik. Pasca pembubaran HTI, Khilafah rupanya masih menjadi topik hangat yang mewarnai perjalanan perpolitikan di Indonesia. Dari isu pilpres hingga perdebatan mengenai film dokumenter yang belakangan ini telah dirilis, yaitu film Jejak Khilafah di Nusantara. Film tersebut mendapat banyak respon positif, karena berhasil menggambarkan benang merah hubungan antara Nusantara dengan Khilafah yang saat itu menjadi negara adidaya di dunia. Bagi yang merespon negatif, mereka mengatakan film tersebut adalah propaganda yang didalamnya terselip agenda HTI.

Hal ini menarik. Sesuatu yang wujud organisasinya sudah tidak ada terus-menerus disebut yaitu HTI. Gagasan tentang Khilafah sebagai solusi problematika kehidupan, ternyata bisa membuat pemilik kekuasaan gelisah. Hal ini terindikasi dari pemutaran perdana film Jejak Khilafah di Nusantara. Belum lama ditayangkan, konten film tersebut diblokir oleh pemerintah. Sebuah film saja bisa sedahsyat itu mempengaruhi sikap penguasa.

Ada apa dengan khilafah? Bahkan menteri agama pun sudah menyatakan HTI sudah bubar, tidak boleh ada yang main ‘khilafah-khilafahan’. Benarkah Khilafah mainan dari HTI? Sebegitunyakah penguasa terganggu dengan Khilafah?.

Sementara itu, Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Wahid juga menegaskan bahwa paham Khilafah yang menyeragamkan tidak sesuai dengan kesepakatan pendirian bangsa yang berlandaskan keberagaman. Dengan begitu, menurut Alissa, sama saja dengan membatalkan dan membubarkan Indonesia. (jpnn.com, 26/8/2020)

Benarkah khilafah akan membubarkan Indonesia? Menghilangkan wujud NKRI? Untuk merespon pernyataan Alissa Wahid dan mereka yang ribut soal Khilafah, dibutuhkan pemikiran jernih dan pandangan objektif tentang Khilafah. Agar tidak ada dusta di antara kita.

Pertama, pendapat yang mengatakan Khilafah akan mengancam NKRI adalah pernyataan narasi yang dibangun selama ini untuk menolak Khilafah. Narasi lainnya adalah Khilafah dianggap mengancam kebhinnekaan; Khilafah bertentangan dengan Pancasila; Khilafah antikeberagaman, dan Khilafah membat bubar NKRI. Begitulah narasi yang berkembang selama ini.

Mengenai Khilafah mengancam NKRI, jika ditilik dari sejarah kegemilangan Islam di masa Khilafah berkuasa, pernahkah ada bukti secara historis bahwa Khilafah melenyapkan suatu negeri yang ditaklukannya? Faktanya, negeri yang ditaklukan oleh Khilafah justru akan dilindungi, dan Khilafah akan memberikan kebebasan penduduk negeri tersebut untuk menjalankan agama sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.

Di masa peradaban Islam berkembang, penduduk didalamnya tidak hanya dari kalangan umat Islam saja. Kita dapat berkaca pada Palestina di masa kepemimpinan Shalahuddin Al Ayyubi. Semasa Islam berkuasa, Palestina hidup damai dengan penduduknya yang memeluk tiga agama, yaitu Islam, Nasrani, dan Yahudi. Dan masih banyak fakta-fakta lain tentang peradaban Khilafah apda waktu itu yang tidak memberangus umat agama lain. Hal ini sekaligus membantah pernyataan orang-orang yang mengatakan Khilafah anti keberagaman.

Kedua, benarkah Khilafah akan membuat Indonesia bubar? Secara faktual, Indonesia sedang berjalan menuju kehancuran. Justru penjajahan ideologi Kapitalisme lah yang membuat Indonesia babak belur. Kekayaan alam dieksploitasi oleh para Kapitalis. Dari semua kekayaan alam Indonesia, berapa persen yang murni dimiliki dan dikelola oleh negara?

Sebagai contoh, tambang emas di Papua dikelola Freeport milik Amerika; tambang geothermal di Jabar dikelola PT Chevron juga milik Amerika; tambang batu bara yang sebagian besar dikelola perusahaan asing; sejumlah infrastruktur baik pelabuhan, bandara, jalan tol rata-rata menggandeng investor asing dalam betuk kerja sama regional. Apakah semua itu membuat rakyat pribumi sejahtera? Sama sekali tidak, yang sejahtera hanya rakyat minoritas kalangan konglomerat. Sementara yang mayoritas ya begini-begini saja tidak ada perubahan. Semakin miskin dan tertinggal.

Jadi yang membuat Indonesia bubar sejatinya adalah penerapan sistem ideologi Kapitalisme hari ini. Paham Sekuler telah mejadikan generasi muda mengalami dekadansi moral. Akibat kehidupan yang jauh dari nilai agama. Kapitalisme dan neoliberalisme juga yang membuat ekonomi Indonesia karut marut. Kita selalu bergantung kepada asing. Baik dalam bentuk utang maupun investasi.

Jikalau Indonesia terus seperti ini, prediksi Prabowo disaat pilpres lalu mungkin tinggal menunggu waktu. Indonesia bisa bubar. Jadi, tidak ada relevansinya Indonesia bubar karena Khilafah. Wujudnya saja belum ada kok sudah menyimpulkan Indonesia bubar karena Khilafah?

Ketiga, ada juga pernyataan Indonesia bisa bubar seperti Suriah dan Irak karena di sana sudah berdiri Khilafah ISIS. Kalaulah ISIS itu benar Khilafah, mengapa mereka justru berdiam diri terhadap Israel yang membantai Palestina? Mereka juga diam terhadap pengusiran Muslim Rohingya. Mereka bisu terhadap diskriminasi yang dialami umat Muslim  Uighur di Cina. Mereka pun menutup mata terhadap persekusi India terhadap kaum Muslim India dan Kashmir.

Tentu hal ini jelas bertentang dengan konsep Khilafah yang dijelaskan dalam kitab fikih dan para ulama mu’tabar. Keberadaan Khilafah sepanjang sejarahnya justru melindungi umat Islam yang tertindas. Lagipula, ISIS sendiri diragukan apakah mereka benar-benar pejuang Islam yang lurus? Karena pada tahun 2015 didalam sebuah pidato, Presiden AS saat itu, Barack Obama pernah mengatakan, “Kami meningkatkan pelatihan pasukan ISIL, termasuk relawan dari suku Sunni di Provinsi Anbar.” (cnnindonesia.com, 9/7/2020). ISIL adalah sebutan lain ISIS yang biasa digunakan pemerintah AS. Meski terpeleset, tapi terkadang penyataan tidak sengaja yang terpendam di alam bawah sadar biasanya merupakan kejujuran.

Aktivis anti perang Ken Stone di media Iran Press TV juga pernah mengatakan ISIL adalah aset Amerika. ISIS merupakan kuda Troya bagi AS untuk mempertahankan keberadaan mereka di Irak dan untuk mengubah rezim di Suriah. (kampusilami.com, 27/02/2016)

Hidayat Nur Wahid juga pernah memberi tanggapan terhadap berita yang mengatakan militer Suriah menemukan sejumlah senjata buatan Israel dan Amerika Serikat (AS) di gudang Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). Ia menilai penemuan senjata itu menguatkan pernyataan Hillary Clinton, bahwa ISIS adalah buatan Amerika dan Israel. (tribunnews.com, 29/5/2018)

Walhasil, terlepas pro dan kontra terhadap penerapan Khilafah di Indonesia, marilah kita jujur dalam menilai. Bahwa Khilafah merupakan bagian dari ajaran dan khazanah Islam. Tak patut dimonsterisasi atau disepadankan dengan paham Komunis yang jelas dilarang di negeri ini. Sebagai bagian dari khazanah Islam, sah-sah saja Khilafah itu dikaji, dipelajari, dan didiskusikan baik dari aspek histori, fikih, dan ilmu pengetahuan. Bukankah negeri ini memberi kebebasan berpendapat bagi semua warga? Mengapa dengan Khilafah sikap kita berbeda? Seolah ia ajaran terlarang yang tak boleh diketahui bagi umat Islam.

Wallahualam bisshowab