April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Bagian 1

Oleh : Taofik Andi Rachman, M.Pd. (Pengisi Tetap Channel Youtube Majelis Baitul Ummah)

Kaum Muslim setelah sekian kalinya, kini kembali mengalami sikap intoleransi dan diskriminasi di wilayah mayoritas non muslim baik di Barat atau selainnya. Di Kota Malmo, Swedia Selatan, pihak kepolisian menyebutkan bahwa kelompok fanatik sayap kanan Swedia melakukan pembakaran salinan Al-Qur’an. Di dalam pernyataannya, kejadian ini memicu kerusuhan setelah lebih dari 300 orang berupaya memprotes aksi pembakaran. Kerusuhan ini terjadi pada tanggal 28 Agustus 2020 lalu, di sekitar wilayah Rosengard yang didominasi oleh imigran. (Republika.co.id, 30/08/2020)

Aksi kelompok sayap kanan ini muncul karena pihak berwenang mencegah kedatangan Rasmus Paludan. Dia merupakan pemimpin partai politik (parpol) Stram Kurs yang didirikannya sejak 2017, kemudian parpol ini berubah nama menjadi Hard Lines (garis keras). Paludan sendiri pernah membakar salinan Al-Qur’an di Denmark.

 Polisi mengumumkan larangan masuk dan menahannya sebentar di dekat wilayah Malmo. Rencananya dia akan berorasi di acara tersebut pada hari Jumat di Malmo. Polisi mencegahnya karena menduga ia akan melanggar hukum di Swedia. Ada juga risiko bahwa perilakunya akan menjadi ancaman bagi masyarakat sebagaimana track record-nya selama ini dan ternyata benar.

Kemudian, kerusuhan menular ke negeri tetangganya di Skandinavia, Norwegia. Aksi unjuk rasa anti-Islam di depan parlemen Norwegia ini digerakkan oleh kelompok Stop Islamization of Norway (SIAN). Aksi anti-Islam tersebut mengakibatkan terjadinya perobekan dan peludahan Al-Qur’an sehingga memancing keributan massa pendukung Islam yang juga pada saat bersamaan mengadakan aksi. Polisi pun kewalahan hingga barikade dapat ditembus oleh massa, aksi baku hantam antar kedua kelompok sulit dihindari. (Republika.co.id, 03/09/2020)

Lagi-lagi, para pemimpin negara-negara Barat membiarkannya. Bahkan, Perdana Menteri (PM) Norwegia, Erna Solberg, menganggap aksi perobekan Al-Qur’an sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Sehingga Erna tidak mempermasalahkan peristiwa tersebut pada saat unjuk rasa anti-Islam.

Pelecehan terhadap Al-Qur’an oleh SIAN juga pernah terjadi sebelumnya pada bulan November 2019. Pemimpin SIAN, Lars Thorsen, mencoba membakar salinan Al-Qur’an. Namun, pemuda muslim bernama Ilyas marah berlari ke arah Thorsen dan menggagalkan pembakaran salinan Al-Qur’an sebelum menendangnya, sehingga suasana menjadi gaduh kemudian dihentikan aparat keamanan. Pria ini pun dijuluki sebagai “Pahlawan Muslim” setelah berhasil menggagalkan aksi tersebut di Kristiansand, Norwegia. (Republika.co.id, 26/11/2020). Sebenarnya agama Islam merupakan agama terbesar kedua di Norwegia setelah Katolik. Lembaga riset Pew mengalkulasi 5,7 persen populasi Norwegia ialah Muslim pada tahun 2016. (republika.co.id, 03/09/2020)

Kejadian-kejadian anti-Islam ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada pasca meningkatnya sentimen anti-imigran dari Timur Tengah dan Afrika di Eropa, dari dulu maupun tahun 2015 hingga menyebabkan politik Denmark dan sejumlah negara Skandinavia bahkan Eropa berubah. Tabiat Barat sejak awal sudah sering terjadi. Pada masa Kerajaan Katolik, Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella I, pemenang dalam perebutan kembali wilayah Spanyol atau reconquista, juga memerintahkan pembakaran Al-Qur’an di Andalusia.

Sampai pada masa modern ini, sentimen anti-Islam di dunia Barat sering terjadi mengatasnamakan kebebasan. Tidak hanya Al-Qur’an, mereka juga tidak segannya menghina Nabi Muhammad saw dan ajarannya. Majalah Charlie Hebdo, koran Jyllands-Posten dan media lain yang mempunyai kebencian terhadap Islam telah berulang kali melakukan teror psikologis kepada umat Islam dengan menghina Nabi saw. 

Pada bulan September tahun ini, Charlie Hebdo kembali berulah dengan menampilkan kembali kartun-kartun Nabi Muhammad SAW dan dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM). PM Perancis sendiri pun menolak melakukan kecaman atas penerbitan ulang kartun serangan penghinaan kepada Nabi saw tersebut dan mengatakan ini bagian dari kebebasan berekspresi. (turkinesia.net, 03/09/2020)

Ironinya sikap islamofobia yang sangat buruk terjadi di era modern saat ini, padahal seharusnya era yang katanya menjunjung tinggi perbedaan suku bangsa, agama, ras, dan golongan apapun. Anehnya juga aksi ini dilakukan di negara-negara yang katanya dikenal paling toleran di dunia yaitu Eropa dan Barat. Apalagi negara Swedia yang merupakan negara asal Alfred Nobel yang memberikan penghargaan Nobel kepada siapapun karena berkontribusi dalam menjaga perdamaian. Tetapi malah membiarkan aksi-aksi yang justru meruntuhkan pilar-pilar perdamaian. … Bersambung Bagian ke-2