July 29, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Bagian 2

Oleh : Taofik Andi Rachman, M.Pd. (Pengisi Tetap Channel Youtube Majelis Baitul Ummah)

A. Kemunafikan Barat dalam Jargon Toleransi dan Kebebasan

Barat selalu menggunakan standar ganda dalam menilai sesuatu, khususnya jika berkaitan dengan kamu muslimin. Standar ganda ini sesungguhnya menunjukkan kemunafikan mereka. Contohnya seperti ramainya protes beberapa kepala negara, UNESCO, hingga ke tokoh-tokoh agama dunia atas keputusan pengadilan Turki untuk memberikan kebebasan bagi pemerintah Turki dalam mengkonversi gedung Hagia Sophia dari sebuah museum menjadi sebuah masjid kembali. Di lain pihak, banyak masjid bersejarah di Eropa yang dijadikan gereja bahkan bar, namun tidak membuat mereka bersuara apapun.

Negara Barat dengan demokrasi kapitalismenya selalu menjual dan berbicara toleransi, baik toleransi dalam agama ataupun toleransi rasial. Namun, sikap toleransi mereka tidak ada jika berkaitan dengan kaum muslimin. Mereka menghina Nabi Muhammad saw dan membakar Al-Qur’an mengatasnamakan kebebasan. Namun, jika kaum muslim membela diri maka akan dianggap dan akan dicap sebagai pihak yang tidak toleran, radikal atau bahkan teroris. Sehingga, kaum muslim dipaksa untuk menghormati kepentingan Barat padahal posisi mereka tertindas dan hak beragamanya terzalimi. Keberadaan umat Islam tenggelam dan terdiskriminasi oleh arus opini Barat.

Suara Barat tidak ada ketika masjid bersejarah India, masjid Baabri, dihancurkan oleh kaum radikal Hindu. Suara Barat tidak ada ketika rakyat Kasmir dan muslim India didiskriminasi kewarganegaraannya oleh Hindu India. Suara Barat tidak ada ketika rakyat Palestina dibombardir oleh Yahudi zionis Israel. Suara Barat juga tidak ada ketika rakyat Rohingya dibantai oleh Budha Myanmar.

Begitu juga sikap mereka atas pembakaran masjid di Texas, kejamnya penembakan terhadap kaum muslimin ketika sholat di  Quebec, Kanada, ataupun di Christchurch, New Zealand. Semua ini menunjukkan kemunafikan Barat dengan standar ganda mereka.

Jika Barat komitmen atas kejujuran dan keadilan kepada semua pihak di dunia ini, seharusnya Barat membenarkan suatu kebenaran walau berpihak pada orang lain. Begitu juga menyalahkan sesuatu yang salah walau itu merugikan diri sendiri. Barat harus menghindari sikap munafik dalam menyikapi isu dunia, khususnya berkaitan dengan Islam. Namun sayang, kemungkinan kemunafikan Barat tidak akan hilang. Oleh karenanya, kaum muslim tidak memerlukan pendapat dan suara mereka, kaum muslim harus memiliki suara yang terdengar karena persatuan dan kesatuan Islam.

Barat juga bahkan tidak malu sering memuji diri sendiri dengan toleransinya yang palsu. Penelitian World Values Surve tentang sikap sosial global menuduh penduduk paling tidak toleran secara rasial semuanya berada di negara berkembang. Studi ini dilakukan terhadap 80 negara selama tiga dekade dan menemukan bahwa negara Barat paling toleran menerima budaya lain. Salah satunya Amerika Serikat dikatakan lebih toleran secara rasial daripada negara lain di dunia. (kompas.com, 11/09/2019)

Padahal di Amerika Serikat, masalah rasial masih menjadi masalah yang paling krusial. Kasus-kasus pelanggaran rasial oleh aparat kepolisian terus berulang terjadi dibarengi dengan kesenjangan di semua bidang di negara itu. Kasus itu diperburuk dengan sikap diskriminatif warga kulit hitam atas kulit putih. Masih hangat penembakan terhadap Blake padahal ketika di tengah gelombang demonstrasi yang mengecam sikap rasial aparat kepolisian pada kematian George Floyd dan Breonna Taylor.

B. Islamofobia Dibuat Secara Sadar dengan Kepentingan Tertentu

Image buruk terhadap umat Islam merupakan dampak dari kampanye islamofobia di Barat bukan hanya terbatas di negeri Skandinavia saja. Hasil studi oleh Ipsos Perils of Perception menyatakan bahwa warga Belanda tersusupi islamofobia secara akut. Mereka tidak hanya salah mengenai jumlah populasi Muslim di Belanda, namun tidak mengetahui bahwa sebagian besar Muslim Belanda dilahirkan dan dibesarkan di negaranya sendiri.

Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Komisi Hak Asasi Manusia Islam (IHRC) di London, para pendukung Palestina, aktivis HAM, para dosen, dan perwakilan dari organisasi-organisasi masyarakat sipil mengkaji tentang kampanye islamofobia dan kaitannya dengan Zionisme.

Ketua IHRC, Massoud Shadjareh mengatakan, “Para Zionis yang mengetahui bahwa sebagian besar Muslim mendukung rakyat Palestina yang tertindas, sedang berusaha menampilkan citra Muslim sebagai pendukung kekerasan dan pertumpahan darah.” (parstoday.com, 03/07/2020)

Zionis Israel juga bertanggung jawab atas kampanye anti-Islam yang mereka lakukan. Menurut Shadjareh, Zionis menyadari bahwa sekitar 85 persen Muslim mendukung rakyat Palestina dan sekarang mereka (Zionis) berusaha mempengaruhi pendukung Palestina agar jumlahnya terus berkurang setiap tahun agar mereka leluasa untuk membantai orang-orang Palestina. Namun, mereka telah gagal karena masyarakat semakin menyadari akan kejahatan dari Israel. Mereka juga membuat kampanya anti-Islam yang ditunjukkan untuk warga Eropa untuk mempengarushi persepsi mereka terkait Islam.

Munculnya islamofobia, beberapa kasus memang disebabkan aksi terorisme yang sebenarnya tidak dibenarkan dan didukung oleh masyarakat muslim manapun. Seperti aksi penyerangan di kantor redaksi tabloid Charlie Hebdo dengan penembakan dan menewaskan 12 korban jiwa. Namun ternyata aksi ini terprovokasi dari majalah itu sendiri dengan menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai lelucon dan bahkan digambarkan dalam karikatur berpose porno di tabloid tersebut.

Kampanye anti-Islam juga dilakukan dan dimanfaatkan secara politik oleh beberapa kelompok dan partai politik di dunia Barat. Sebagaimana parpol Hard Lines (garis keras) yang dipimpin Rasmus Paludan, menggunakan isu anti-Islam untuk mendongkrek suara di Denmark namun tidak berhasil. Di Belanda, ada partai untuk kebebasan (Partij voor de Vrijheid, PVV) parpol sayap kanan Geert Wilders, yang dikenal sebagai anti-Islam.

Barat ketakutan dan merasa khawatir akan adanya upaya islamisasi Eropa atau merubah kaum Kristen dan Katolik menjadi Islam. Misalkan, kelompok paling keras di Jerman yang menolak Islam adalah Pegida. Pegida atau Patriotic Europeans Against the Islamisation of the West menduga ada upaya sistematis, terukur dan masif untuk mengislamkan Eropa, dan berusaha mengganti nilai agung Eropa dengan Islam. Mereka berusaha menggambarkan Islam dengan gambaran sangat buruk dan menuduh ada upaya mengubah non muslim jadi muslim, padahal Islam tidak pernah memaksakan agama Islam untuk dipeluk oleh siapapun.

C. Perlu Gerakan Nyata Menghilangkan Aksi Penghinaan Terhadap Islam

Islamofobia Barat memang sudah lama terjadi dan bukan barang baru yakni bagaimana Barat menilai tentang Islam dan kaum Muslim. Tidak bisa dipungkiri islamofobia disebabkan karena budaya ideologi kapitalisme yang sudah mengakar. Kapitalisme yang berlandaskan pada sekulerisme, yaitu agama harus disingkirkan dari ranah pengaturan publik. Berbeda sekali dengan Islam bahwa syariah harus diterapkan sampai ke ranah negara. Sehingga apabila didalam kajian ideologi, dua ideologi ini akan terus bertentangan yakni Islam dan Sekulerisme.

Kejadian aksi pembakaran Al-Qur’an harus dikecam. Seperti, yang dilakukan oleh Grand Syeikh Al-Azhar Mesir, Ahmed Al-Tayyeb, telah mengecam penodaan Al-Qur’an yang terjadi di Swedia dan Norwegia. Syekh Ahmed Al Tayyeb, dalam akun facebooknya, menuliskan bahwa pembakaran Al-Qur’an merupakan tindakan terorisme. Beliau juga menegaskan bahwa tindakan penodaan pada Al-Qur’an itu sebagai perbuatan rasis dan kejahatan rasial yang ditentang oleh semua peradaban manusia.

Departemen Studi Islam, Pusat Islam Al Azhar Mesir, telah bekerja meluncurkan kampanye melawan islamofobia. Melalui akun Twitter dan Facebooknya, kampanye berjudul “Islam yang Mereka Tidak Tahu” itu dilakukan menyusul aksi penodaan terhadap Al-Qur’an di Swedia dan Norwegia. Upaya kampanye melawan islamofobia melalui media sosial ini bertujuan meluruskan pandangan atau citra yang salah tentang Islam. (republika.co.id, 02/09/2020)

Muslim Eropa pun memiliki beberapa cara untuk meredam islamofobia, seperti, komunitas Muslim di kota Blackburn, Inggris, melakukan sebuah aksi kemanusiaan dengan menyiapkan 11.595 paket makanan dan menyumbangkannya ke bank makanan untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan saat musim dingin. Inisiatif ini melibatkan delapan masjid dan sembilan organisasi Islam di Inggris. (parstoday.com, 03/07/2020)

Cara-cara yang ditempuh di atas bisa dilakukan dimana saja dan oleh siapapun. Begitu juga upaya perjuangan politik harus dilakukan. Dengan kekuatan negara, harusnya kejadian yang terus-menerus berulang bisa dihentikan. Namun, masalahnya kebanyakan negeri-negeri Muslim diam seribu bahasa dengan kejadian-kejadian yang mendeskreditkan Islam. Hal berbeda jika korbannya adalah non Muslim, penguasa di negeri Muslim akan bersuara lantang dengan keras mengecam ini dan itu.

Walhasi, beberapa peristiwa yang sudah disebutkan, menjadi bukti yang nyata tentang perlunya persatuan umat Islam dan menyatukan mereka dalam institusi politik besar sebagai sebuah negara adidaya Khilafah. Tentunya dengan negara adidaya ini, umat Islam bisa mengatur, memutuskan hubungan, dan mengancam perang kepada negara yang nyata-nyata melakukan dan membiarkan penodaan kesucian Islam sebagaimana sebelumnya kekuatan ini pernah disegani bagi dunia Barat.[]

Wa Allahu A’lam