October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Sebagaimana dimaktubkan oleh al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab sirahnya, baginda Muhammad SAW dilahirkan pada Senin 12 Rabi’ul Awwal Tahun Gajah. Pendapat inilah yang masyhur menurut jumhur ulama. Baginda SAW dilahirkan dalam kondisi yang suci dan bersih, tanpa rasa sakit yang dirasakan ibunda beliau Aminah, tanpa darah nifas, juga tanpa tangisan dari beliau SAW. Sungguh kelahiran yang tidak biasa sebagaimana kelahiran manusia yang lain. Beliau SAW dilahirkan dalam kondisi sujud disertai cahaya yang menutupi seluruh tempat kelahiran beliau, lalu menyinari Ka’bah dan sekitarnya, bahkan menyebar hingga menjangkau jarak yang tidak diketahui kecuali oleh Allah SWT.
Baginda SAW dilahirkan di Makkah yang hidup dengan ‘urf jahiliyyah. Di sana tersebar praktek judi, riba, khamr, tempat-tempat hiburan dan pesta nyanyian serta musik. Mereka biasa menzholimi dan keras terhadap orang-orang lemah. Mereka suka meremehkan hak-hak orang lain, memakan harta orang lain secara batil. Inilah yang diceritakan oleh Sayyiduna Ja’far bin Abu Tholib kepada Raja Najasyi:
“Wahai raja! Dulu kami adalah kaum jahiliyyah. Kami biasa menyembah berhala, memakan bangkai, mendatangi tempat-tempat maksiat, memutus silaturahim, berbuat jahat kepada tetangga, dan orang-orang yang kuat di antara kami suka memakan harta orang-orang yang lemah”.
Di tengah-tengah kondisi seperti inilah baginda SAW dilahirkan dan hidup. Makkah dan dunia saat itu tanpa terkecuali hidup dalam kegelapan jahiliyyah.
Dengan begitu kelahiran baginda al Musthofa Sayyiduna Muhammad SAW sebagai khatam an nabiyyin, merupakan kelahiran al huda bagi kaumnya bahkan seluruh manusia di dunia. Kelahiran seorang manusia termulia yang dipilih oleh Allah SWT nantinya mengemban amanah yang teramat besar sebagai nabi dan rasul, untuk menyebarkan cahaya petunjuk agar manusia hidup dengan Islam, sebagaimana firmanNya

الٓر ۚ كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (TQS. Ibrahim: 1)

Kelahiran yang juga bahkan telah dibisyarahkan lewat nabiyullah ‘Isa AS, sebagaimana dalam firmanNya

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُولٍ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِى ٱسْمُهُۥٓ أَحْمَدُ

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (TQS: ash Shaff ayat 6)

Oleh karena, memaknai maulid nabi SAW selain dengan kebahagiaan dan kegembiraan sebagai umatnya yang mulia, juga dengan pemaknaan bahwa ada hak-hak terhadap beliau SAW yang mesti kita tunaikan, yaitu kecintaan kepada beliau SAW yang diungkapkan dengan ketaatan kita sepenuhnya kepada al huda yang beliau bawa.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
قُلْ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ

Katakanlah -wahai Rasul-, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah ajaran yang kubawa secara lahir dan batin. Niscaya kalian akan mendapatkan cinta Allah, dan Dia akan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (TQS. Ali Imran: 31-32)

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya (TQS: al Hasyr: 7)
Wallahu a’lam bi ash shawab

Maraji’:
Ibnu Katsir, as Sirah an Nabawiyyah
Samih ‘Athif az Zain, Khatam an Nabiyyin Muhammad shallallahu alayhi wa alihi wa sallam