September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Ummu Nabila (Anggota Revowriter)

Dunia saat ini telah memasuki era Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0). Hal ini akan berdampak besar pada dunia pendidikan dan seluruh aspek penunjangnya baik dari sisi ancaman, tantangan, sekaligus peluang. Rekognisi capaian pendidikan hingga kualitas SDM pun harus mengikuti tuntutan global. Mulai dari fasilitas dengan infrastruktur canggih, sistem informasi, hingga otomatisasi teknologi. Peningkatan sumber daya manusia mulai dari staf pengajar hingga Mahasiswa dengan program student dan staf exchenge juga harus mengikuti indikator capaian pendidikan tinggi berkualitas seperti World Class University (WCU).Globalisasi dalam dunia pendidikan sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak tahun 1983. Indonesia sendiri telah meratifikasi konvensi UNESCO yang mengamanahkan “Fourth Pillars of Educations” sejak tahun 2000 hingga saat ini. (MuslimahNews.com, 13/5)Dilansir dari kompas.com (27/07) bahwa Presiden Jokowi menyerukan perguruan tinggi agar berkolaborasi dengan praktisi dan pelaku industri dalam mendidik mahasiswa. Bahkan mengganti kurikulum dosen dengan kurikulum industri. Pengetahuan dan keterampilan mahasiswa harus mengikuti perkembangan terkini dan masa depan. Nantinya mereka akan diarahkan untuk menjadi industriawan yang bisa membuka lapangan pekerjaan.Komitmen perguruan tinggi untuk mengembangkan kurikulum berbasis industri sudah menjadi kebutuhan, tak bisa ditawar lagi. Brand Communications Manager Kalbis Institute, Raymond Christianto mengatakan, inilah saatnya menjadikan perguruan tinggi sebagai rumah bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan, baik akademik maupun nonakademik. Harapannya setelah lulus, mahasiswa siap untuk terjun di dunia industri dan usaha (www.medco.com, 22/01/2021)Sekilas tak ada yang salah dengan pernyataan tersebut, namun apakah ini berarti mengalihkan arah dunia pendidikan yang harusnya mencetak generasi yang intelektual, kritis, dan agamis menjadi generasi “buruh” korporasi?*Bahaya Dibalik Penerapan Kurikulum Industri*Pandemi belumlah usai menyelimuti negeri ini, banyak ahli dan ilmuwan yang ilmunya tak terpakai karena kalah oleh kepentingan korporasi. Belum lagi ketika kampus yang harusnya mencetak generasi intelektual dan inovatif kini dipaksa tunduk pada kurikulum industri sesuai kepentingan korporasi.Hal ini sangat berbahaya karena akan membajak potensi intelektual generasi dan memalingkan fokus mahasiswa dari perannya untuk mendalami ilmu. Selain itu akan menghambat kemampuan berkarya serta inovasi mahasiswa dalam mengabdikan ilmu untuk kemaslahatan umat. Jiwa kritis aktivis mahasiswa juga akan terkikis karena mengejar gelar, lulus cepat dan langsung kerja. Akhirnya peran mahasiswa sebagai corong dari kegelisahan dan kekhawatiran masyarakat akan semakin sempit dan mandul. Terlebih lagi kondisi masyarakat yang sulit untuk hidup di dalam sistem kapitalisme seperti saat ini terlebih di masa pandemi.Bahaya lain yang dapat terjadi yaitu akan menjadi ancaman jangka panjang bangsa karena kehilangan SDM yang memiliki kepakaran ilmu untuk melahirkan inovasi bagi kemaslahatan rakyat. Karena yang tersisa hanya SDM operator mesin industri yang sewaktu-waktu dapat dibuang oleh tuannya bila dirasa telah usang dan tidak berguna lagi. Sangat jelas bahwa pendidikan tinggi hari ini sedang dimanipulasi oleh Barat dengan program dan agendanya. Pendidikan tinggi telah difungsikan sebagai pintu imperialisme akademik, hegemoni riset dengan dana dari korporasi, serta lahan subur bagi propaganda ide-ide sekuler dan liberal. Tak ayal, pendidikan tinggi telah menjadi alat penjajahan untuk mencapai tujuan-tujuan kapitalisme Barat.Akhirnya, pendidikan tinggi tidak lagi menjadi pihak yang menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten dan profesional dalam melayani kebutuhan umat serta menghasilkan inovasi-inovasi terbarukan agar umat dapat memperoleh manfaat luas darinya. Namun kini pendidikan tinggi justru lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri. Dengan kata lain, perguruan tinggi lebih mirip sebagai instansi penghasil buruh pintar, dibandingkan institusi berbasis intelektual dan agen perubahan. Terlebih dengan adanya Omnibus Law UU Cipta Kerja, semakin menunjukkan bahwa kebijakan tersebut memiliki andil besar untuk menggeser urgensi perguruan tinggi dari posisinya sebagai mercusuar peradaban menjadi sekadar pion-pion pasar dari industri kapitalistik.*Peran Perguruan Tinggi Sebagai Basis Intelektual dan Agen Perubahan*Intelektual adalah aktor kunci kebangkitan. Jika intelektual selaku aktor kunci kebangkitan ini berfungsi dengan baik, pengaruhnya bagi umat juga akan besar.Fungsi aktor kunci ini dapat diwujudkan ketika terjadi keserasian antara pemikiran dan perasaan di dalam benak kaum intelektual. Ketika fungsi ini telah terwujud niscaya mereka akan berjuang mengamalkan ilmu tanpa dikotomi tehadap agama.Mereka juga akan berkorban untuk kepentingan rakyat dengan sempurna. Perjuangan mereka pun bukan sebatas emosional sesaat, yang akan habis ketika mereka telah beroleh capaian pribadi maupun jabatan. Akan tetapi perjuangan mereka akan terus melahirkan generasi-generasi penerus perjuangan.Demikianlah, pentingnya kaum intelektual tidak hanya bergulat dengan kepentingan pribadi semata. Kaum intelektual berperan untuk membangkitkan umat dengan mengajak umat tertunjuki pada landasan perubahan hakiki disertai pengamalan kehidupan yang sesuai dengan perintah Allah SWT, Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan.Oleh karenanya intelektualitas dan perubahan harus diarahkan kepada aliran arus Islam. Karena, baik kaum intelektual maupun masyarakat, semua adalah makhluk Allah SWT yang wajib terikat terhadap aturanNya begitu juga perubahan sosial ke arah Islam itu layak untuk diupayakan. Sangat disayangkan ketika intelektualitas tidak berbanding lurus dengan ketaatan. Yang ada, hanya akan tercipta intelektual-intelektual sekuler yang mudah tergiur iming-iming dan kemanfaatan dunia.Arah gerak perubahan tanpa spirit iman yang kokoh, tak ubahnya pergerakan yang membabi buta, tak jelas mengarah ke mana. Ketika ilmu tidak bersanding dengan iman, mustahil derajat yang tinggi selaku aktor kunci kebangkitan itu akan terwujud.Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur.” (TQS Fathir [35] : 10).[]Wallahu ‘Alam Bii Ash-Showwab