October 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Ridho Ryanto (Aktivis Muslim)

Awal tahun 2021 Indonesia berduka, dikarenakan peristiwa jatuhnya Pesawat Sriwijaya SJ-182 dengan rute penerbangan dari Jakarta menuju Pontianak yang terjadi di wilayah kepulauan seribu. Tak seorangpun menginginkan peristiwa duka ini terjadi, namun semua ini tentunya sudah menjadi Qadha’ dari Allah SWT yang tak mampu bagi manusia untuk menghindarinya.

Doa terbaik teruntuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa dan menerima amal ibadah bagi para korban dan semoga keluarga korban yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran atas segala musibah yang diberikan oleh Allah SWT.

Ditengah pemberitaan yang masif oleh media-media mainstream tentang jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dan upaya dari Basarnas mengevakuasi jenazah serta puing-pusing pesawat, muncul beberapa narasi tentang kemungkinan penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Pertama, mengenai usia pesawat yang sudah terlalu tua, yaitu sudah berumur 26 tahun sehingga dianggap sudah tidak layak terbang.

Namun jika merujuk pada aturan, Kementerian Perhubungan telah mencabut aturan batas maksimum usia pesawat melalui Peraturan Menteri Perhubungan No 27 Tahun 2020. Aturan ini menyebutkan, menghapus PM sebelumnya melalui PM No 155 Tahun 2016 Tentang Batas Usia Pesawat Udara. Artinya Peraturan Menteri Perhubungan No 155 Tahun 2016 Tentang Batas Usia Pesawat Udara yang digunakan untuk kegiatan Angkutan Udara Niaga dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Menanggapi hal ini, pengamat penerbangan Gerry Soejatman mengatakan, aturan yang membatasi usia pesawat terbang sudah sebaiknya dihapus. Menurut dia, aturan tersebut tidak sesuai sebab pesawat terbang beroperasi bukan dinilai dari usianya, namun dinilai dari kelaikannya. (CNBCIndonesia, 11/01/2021). Sementara itu, Direktur Utama Sriwijaya Air, Jefferson Irwin Jauwena, memastikan kondisi pesawat dengan kode penerbangan SJ-182 yang hilang kontak, dalam keadaan layak. Pesawat itu sebelumnya juga sudah terbang PP dengan rute Pontianak-Pangkal Pinang. (Bisnis.com, 10/01/2021)

Pilot Vincent Raditya yang juga seorang Youtuber, menyatakan usia pesawat tidak bisa dituding sebagai penyebab kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu. Dia mengatakan sebuah pesawat telah memenuhi berbagai persyaratan sebelum diizinkan terbang. (CNNIndonesia, 11/01/2021)

Baik pesawat berusia tua maupun muda sebenarnya bisa saja mengalami kecelakaan. Pesawat tua sekalipun tetap layak terbang asalkan mendapatkan maintenance yang baik. Begitupun sebaliknya jika pesawat berusia muda tidak di-maintenance dengan baik maka belum tentu layak terbang. Hanya saja pesawat tua pastilah memerlukan biaya perawatan yang lebih besar dibandingkan pesawat berusia muda. Jadi usia pesawat tidak bisa dijadikan alasan penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu. (CNNIndonesia, 11/01/2021)

Kedua, pendapat dari salah seorang pengamat tranportasi yang meminta pemerintah untuk mengevaluasi kembali kebijakan harga tiket pesawat berbiaya rendah (Low Cost Carrier/LCC). Pasalnya, dengan adanya tiket pesawat murah ini banyak orang khawatir dengan adanya pengurangan fasilitas penerbangan dalam pesawat. Adanya kebijakan tiket murah ini diduga dapat memangkas faktor-faktor keamanan. Contoh yang paling mudah adalah pemeriksaan pesawat. Selain itu juga ia menyatakan dengan aturan LCC ini para pihak maskapai tidak diwajibkan untuk memiliki pesawat sendiri, melainkan boleh menyewa pesawat.

Memang akibat dari kebijakan pesawat layanan LCC menyebabkan banyak fasilitas dipangkas, misalnya tidak disediakannya makanan dan minuman, tidak adanya bagasi tambahan, ruang tempat duduk yang sempit dan berbagai hal lainnya. Upaya ini dilakukan demi mendapatkan harga tiket yang murah sehingga terjangkau bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah. Berbanding terbalik dengan pesawat layanan Full Service Carrier (FSC) yang memberikan layanan premium sehingga harga tiketnya pun tinggi. (SimulasiKredit.com)

Mengkhawatirkan pemangkasan biaya pemeriksaan pesawat layanan LCC merupakan hal yang wajar, namun sebaiknya tidak pula cepat menyimpulkan layanan LCC lah penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 tersebut. Sebagaimana yang sudah diketahui bersama bahwasanya sebuah pesawat tidak akan dapat terbang jika belum memenuhi berbagai persyaratan terbang.  Sebaiknya berkaitan dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 ini biarkanlah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi untuk memastikan penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 tersebut. (Kompas.com, 11/01/2021)

Patut diduga narasi-narasi yang disampaikan oleh berbagai media mainstream maupun kalangan pengamat penerbangan ini seperti disengaja untuk membentuk opini umum ditengah-tengah masyarakat, agar muncul perasaan tidak percaya kepada maskapai dalam negeri, sebagaimana yang diinginkan oleh beberapa pihak dalam memanfaatkan momentum musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 ini. Pihak tersebut tidak lain tidak bukan adalah para kapitalis.

Perlu diingat pada tahun 2019 lalu sudah ada upaya dari para kapitalis melalui pemerintah mencoba mewacanakan sebuah kebijakan dengan mengundang maskapai asing untuk mengisi rute transportasi domestik. Pemerintah melalui Presiden Jokowi saat itu berdalih demi mewujudkan harga tiket yang murah. Hal ini kemudian memicu pro dan kontra ditengah-tangah masyarakat. (Detik.com, 12/06/2019)

Kebijakan ini pastilah akan merugikan maskapai dalam negeri sebab tak mampu besaing dengan maskapai dari luar negeri yang memiliki modal besar. Sudah banyak maspakai dalam negeri yang sudah gulung tikar apalagi nanti jika harus bersaing denga maskapai asing, akhirnya kebijakan ini akan mematikan maskapai dalam negeri.

Belum lagi masalah kedaulatan negara. Menurut pakar penerbangan Alvin Lie, pembukaan pintu bagi maskapai asing sama saja dengan menggadaikan kedaulatan negara. Bahkan negara dengan ekonomi liberal yakni Amerika Serikat (AS) tidak mengizinkan maskapai asing melayani rute domestiknya. (Detik.com, 12/01/2021)

Untuk mengatasi mahalnya harga tiket pesawat ini tentulah harus dicari akar masalahnya dengan teliti dan cermat, jangan sampai solusi yang diberikan kedepannya akan merugikan bagi maskapai dalam negeri maupun rakyat. Solusi yang diambil harus tepat demi menghadirkan harga tiket yang murah, penerbangan  yang aman dan nyaman serta memajukan maskapai dalam negeri.

Akhirnya, jangan sampai musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 ini dijadikan momentum masuknya maskapai asing ke Indonesia untuk menguasai rute penerbangan domestik. []