October 20, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

Dilansir dari Kompas.com (14/01), Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi menyatakan siap menjalin hubungan diplomatik dengan pemerintahan Amerika Serikat (AS) selanjutnya. “Amerika selalu menjadi satu dari mitra yang sangat penting bagi Indonesia, dan saya kira bukan hanya Indonesia tetapi bagi semua negara” ujarnya.

Retno meyakini ada “politik come and go“. Jika dulu Indonesia sudah berhubungan dengan  Amerika ketika dipimpin Trump yang berasal dari partai Republik, kini Indonesia pun siap menjalani hubungan diplomasi dengan Biden yang berasal dari Partai Demokrat. Bahkan Retno meyakinkan sudah bisa memperkirakan pola hubungan seperti apa yang akan terjadi.

Inilah yang disebut dengan masuk jebakan lubang yang sama. Dan pelakunya pun bisa dikatakan bodoh sebab tidak belajar dari pengalaman sebelumnya. Amerika Serikat (AS) siapapun yang memimpin akan sama yang diterapkan. Sebab, AS saat ini adalah negara ula (pertama atau pemimpin), ia menguasai bangsa-bangsa di dunia dengan hegemoni kapitalisnya.

Sebagai negara adidaya, tentu ada garis besar kebijakan yang akan terus menerus diterapkan agar posisinya tidak bergeser. Hanya caranya saja yang berbeda, pada saat Trump memimpin ia memang cenderung keras dan blak-blakan, dan seperti itulah rata-rata karakter politikus besutan partai Republik.

Nama-nama berikut, laksana pion-pion AS seperti Richard Nixon, Ronald Reagen, Goerge H.W Bush, George Bush hingga Donald Trump yang berasal dari partai Republik cenderung terang-terangan untuk menimbulkan krisis dan konflik ketika ada perlawanan terhadap kebijakan yang mereka terapkan kepada koloninya (jajahan).

Peristiwa runtuhnya gedung WTC pada tanggal 11 Maret 2001 salah satu contoh kelicikan AS yang ditampakkan secara jasad mata. Saat itu Presiden George W Bush mengatakan, serangan itu merupakan serangan Al-Qaeda, beberapa menit setelah kejadian. Beberapa tahun kemudian terungkap, bahwa kejadian tersebut diduga hanyalah rekayasa AS sendiri yang berhasil diungkap oleh para ahli. Terjadi pada peristiwa yang sama namun lebih soft, tentu masyarakat belum lupa dengan kemunculan  ISIS yang merupakan propaganda untuk mencitraburukkan negara Islam (Khilafah) dan itupun ternyata rekayasa AS sendiri.

Memang tak langsung disadari pada saat itu, namun terungkap ke publik hasil rekayasa AS berasal dari pernyataan menteri luar negerinya sendiri, Hillary Clinton. Ia  secara terang-terangan mengakui bahwa Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) merupakan gerakan buatan AS guna memecah belah dan membuat Timur Tengah senantiasa bergejolak.

Jadi , manakah yang lebih baik Trump atau Biden? Yakinkah Indonesia memiliki strategi khusus untuk menghadapi AS dengan model kepemimpinan baru yang berasal dari partai Demokrat ini? Sebagaimana kita ketahui di awal kemenangan Joe Bidden-Haris Kamala Bidden telah berpidato dan menyatakan janjinya akan memperjuangkan posisi negara demi memulihkan jiwa Amerika, membangun kembali tulang punggung Amerika yaitu kelas menengah dan membuat Amerika kembali disegani di dunia.

Bidden sadar, demokrasi sudah mulai ditinggalkan oleh warga AS sendiri sehingga ia berusaha mengembalikan kepercayaan itu namun tak sepenuhnya untuk rakyat AS, melainkan untuk kelas menengah, para kapital yang mereka sebut sebagai tulang punggung AS selama ini. Dan bagaimana caranya AS mengembalikan kepercayaan tersebut? Tentu dengan menyebarluaskan dan menambah cengkeraman neoimperialisme dan neokolonialisme atau penjajahan gaya baru yang selama ini sudah diterapkan. Maka keduanya sama saja baik Demokrat maupun Republik.

Tak ada cara lain guna menunjukkan kekuasaan Amerika kecuali dengan jalan penjajahan atau paksaan. Melalui berbagai perjanjian bilateral maupun multilateral termasuk jebakan hutang. Bisa dengan tangan AS sendiri secara langsung ataupun dengan tangan organisasi dunia bentukan AS seperti PBB, IMF, World Bank, G7, OKI dan lain sebagainya, termasuk memperkokoh antek-anteknya.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar, seharusnya menyadari bahaya ini. Namun sayang para pejabat dan pemangku kekuasaan lebih memilih untuk tunduk dan patuh pada kepemimpinan AS. Padahal Allah sudah memperingatkan dalam QS Ali-Imran : 28 yang artinya:

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kamu kembali.

Ayat ini sangat jelas dan gamblang untuk memerintahkan umat Islam agar tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin, pemberi solusi apalagi bergantung kepada mereka. Sebab kafir penjajah sudah jelas pula sifatnya, mereka memiliki tipu daya yang tak pernah habis sehingga umat Islam mengikuti millah-nya mereka.

Bahkan kini bukan tangan mereka sendiri yang bekerja, melainkan melalui tangan-tangan kaum Muslim sendiri. Umat islam yang menjadi antek mereka melakukannya demi kepentingan perut dengan sukarela menjadi musuh bagi saudaranya sendiri. Hingga tak sungkan lagi mengatakan bahwa kaum kafir penjajah adalah orang-orang penting. Melalui jalan demokrasi kebebasan berpendapat yang dijamin UU justru bukan untuk kemaslahatan umat. []

Wallahu a’lam bish showab.