August 2, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

BerandaIslam.com – Sunnatullah pada manusia bahwasanya para ulama akan diuji dan menghadapi berbagai cobaan. Hal ini juga untuk membedakan di antara para ulama tersebut mana ulama yang baik dan mana ulama yang buruk.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Ankabut : 1-3 : “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Para penguasa yang zhalim terbiasa menghukum orang-orang yang menentang tindakannya yang sewenang-wenang dan yang mengkritik pemikirannya yang sesat. Para penguasa tersebut juga tidak akan pernah membiarkan para ulama yang lurus dengan bebas mengungkapkan pendapatnya, melainkan menghukum mereka dengan berbagai macam hukuman.

Di antara para ulama tersebut ada yang tetap sabar menerima berbagai macam cobaan, karena mereka memahami firman Allah SWT : “Katakanlah, ‘Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas’, jikalau mereka mengetahui.” [TQS : At-taubah : 8]

Termasuk firman Allah yang lainnya : “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya.” [TQS : Al-Baqarah : 207].

Para ulama yang memahami ayat-ayat tersebut sejatinya akan dihormati dan dijunjung tinggi oleh umat Islam. Para ulama tersebut akan berada di barisan depan dalam mendapatkan ujian dan cobaan dari para penguasa zhalim karena menyuarakan Islam dan kebenaran.

Para penguasa yang zalim biasanya juga akan mengajak para ulama untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan penguasa tersebut, namun dengan keimanan mampu untuk menolaknya, walaupun akhirnya akan mendapatkan hukuman. Bagi para ulama yang secara terang-terangan menyatakan penentangannya kepada penguasa, karena penguasa tersebut telah melakukan pelanggaran hukum Islam, akhirnya akan membuat murka dan marah penguasa. Ada kalanya hukuman diberikan karena ulama menolak pemberian penguasa atau tidak mau didekati, atau dikarenakan ulama itu dengan berani menyatakan penentangan kepada penguasa yang melanggar hukum Islam.

Di negeri muslim, ulama memiliki peran yang sangat penting dalam dinamika politik di negara-negara muslim saat ini. Meskipun peran ulama berbeda pada saat kekuasaan Islam beberapa abad yang lalu dengan situasi sekarang yaitu dalam konteks negara bangsa, namun peran tradisional ulama sebagai benteng moral di masyarakat tetap tidak berubah. Posisi ulama di tengah masyarakat memiliki potensi politik yang sangat besar, ulama bisa memberikan legitimasi terhadap pemerintah dan ikut mempertahankan stabilitas pemerintahan, atau mendelegitimasi pemerintah dan memimpin revolusi. (Hasbi Aswar, 2015)

Hal ini memberikan penegasan bahwa ulama merupakan aktor yang penting dalam hubungannya sebagai benteng moral masyarakat dan negara termasuk penguasa di dalamnya. Bagi ulama-ulama yang lurus dan ikhlas maka mereka akan memberikan dorongan positif kepada penguasa.

Namun sayangnya para penguasa negeri-negeri muslim hari ini dikarenakan pengaruh sistem demokrasi-sekuler, malah menjadikan ulama yang tidak sejalan dengan kepentingan demokrasi-sekuler dan ekonomi-kapitalis sebagai musuh. Padahal peran ulama sebagai garda terdepan untuk menjaga negara dan umat, dalam rangka mewujudkan ketaatan kepada aturan-aturan Allah SWT.

Ketaatan kepada aturan –atuan Allah ini adalah merupkaan wujud cinta kita kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah di dalam Al-quran: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” [TQS. Ali Imran 31-32]

Dalam ayat tersebut Allah mengajari hamba-Nya agar membuktikan cinta mereka kepada Allah. Adapaun syarat wujud cinta tersebut adalah dengan meniti jalan mulia Rasulullah saw. Cinta hamba kepada Allah dibuktikan dengan mencintai keimanan, dan di saat yang sama ia membenci kekufuran, kemaksiatan, kefasikan bahkan kezaliman.

Begitu juga sikap buruk terhadap ulama, memperkusi pengemban dakwah, hingga mencitra burukkan ajaran Islam, merupakan bukti perbuatan seorang hamba yang tidak cinta kepada Allah SWT. Apalagi sampai berbuat memberikan hukuman kepada para ulama dan memenjarakan mereka tanpa alasan yang jelas.

Menghalang-halangi manusa menegakkan agama dan syariah Allah merupakan sebab mendatangkan kemurkaan-Nya dan menjauhkan dari cinta-Nya. Apa yang menimpa kaum Tsamud dapat menjadi pelajaran. Allah berfirman : “Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyikai buta (kesesatan) daripada petunjuk. Lalu mereka disambar petir azab yang menghinakan isebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” [TQS Fushshilat : 17]

Jangan sampai kita mengikuti jejaknya kaum Tsamud. Yaitu di saat Allah SWT melalui para ulama untuk memberikan petunjuk agar menerapkan syariah, menegakkan agama, malah menolak dan membela mati-matian sistem demokrasi-sekuler dan menjaga sistem ekonomi-kapitalis. Semua itu dulakukan demi menjaga kepentingan pribadi, hawa nafsu dan singgasana kekuasaan yang fana.

Ingatlah, di dalam ayat yang lain Allah berfirman : “(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah serta menginginkan agar jalan itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” [TQS. Ibrahim :3].[]

Wallahu’alam bisshawab