September 28, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Alfiyah (Pontianak-Kalbar)

Kenaikan harga gas Elpiji nonsubsidi 5,5 Kg dan 12 Kg dikeluhkan oleh konsumen dan para pedagang. Dampaknya dirasakan langsung karena kenaikan yang cukup signifikan, termasuk mempengaruhi penjualan terhadap konsumen (tribunpontianak.com, 01/03/2022)

Kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga gas untuk jenis nonsubsidi ukuran 5,5 kilo dan 12 kilo dinilai dapat mempengaruhi kenaikan inflasi dan juga pengeluaran masyarakat.

Padahal ditengah situasi ekonomi serba tak menentu seperti saat ini, termasuk tingkat inflasi yang sangat tinggi kita bisa menghitung apa saja yang bisa dipenuhi dengan uang sekecil itu. Alih-alih untuk konsumsi barang sekunder atau tersier, bahkan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari pun termasuk untuk memenuhi kebutuhan akan bahan bakar mereka sangat kesulitan.

Pedagang makanan semakin menjerit, selain aturan larangan penggunaan gas elpiji melon, kenaikan gas elpiji terus berulang. Ironi negeri kaya gas alam namun yang menikmatinya para asing, aseng dan kapitalis bukan untuk rakyat. Padahal gas elpiji merupakan kebutuhan setiap individu.

Terkait konsep kepemilikan mekanisme perolehan dan pengembangan kepemilikan serta pembelajaan kepemilikan. Islam telah menetapkan benda-benda tertentu sebagai milik individu, milik negara dan milik umum. Adapaun dalam konteks gas yang jumlahnya tak terbatas maka Islam menetapkan sebagai milik umum alias milik umat bukan milik individu atau milik negara sehingga haram bagi negara melakukan swastanisasi maupun kapitalisasi.

Gas adalah barang tambang yang merupakan kepemilikan umum yang wajib dikelola oleh Negara, pemanfaatannya untuk seluruh rakyat. Niscaya rakyat mudah mendapatkannya dengan harga murah bahkan gratis. Tapi sayang ini hanya bisa diterapkan dalam sistem Islam, bukan yang lain.

Dalam Islam kepemimpinan adalah wasilah bagi pengaturan urusan umat sesuai dengan tuntunan Dzat yang menciptakan manusia kehidupan dan alam semesta didalamnya bukan hanya mengandung dimensi profan atau duniawi semata tetapi juga mengandung dimensi ukhrawiyah.[]