September 16, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Ummu Nabila (Anggota Penulis Revowriter)

India. Siapa yang tak kenal dengan negeri Bollywood yang satu ini. Dunia hiburannya berhasil menembus pasar dunia layaknya Hollywood dan K-POP Korea. Namun kali ini, India menjadi buah bibir dunia bukan karena eksistensinya di dunia hiburan. Melainkan karena gelombang Tsunami Covid-19 yang melanda negeri tersebut.

Setelah mencapai puncak gelombang pertama pada September 2020, angka kasus Covid-19 di India berhasil turun hingga Februari lalu. Namun, Gelombang kedua tsunami Covid-19 di India mencetak rekor baru dunia. Setelah berhasil memberi vaksin tercepat awal tahun lalu dan membuat dunia kagum. Kini India justru jatuh dalam penyebaran Covid-19 terburuk di dunia.

India mencatat rekor baru dalam pandemi dengan melaporkan 314.835 kasus Covid-19 dalam sehari pada Kamis (22/04/2021). Laporan tersebut menandai jumlah kasus harian Covid-19 tertinggi di dunia sejak pandemi dimulai pada tahun lalu. Catatan tersebut membuat layanan kesehatan di India kewalahan menangani dan menampung pasien Covid-19. (Kompas.com, 22/4/2021)

Awal Mei ini, India mencatatkan rekor kenaikan harian kasus infeksi covid-19 mencapai 401.993 kasus baru. Dilansir Reuters, Sabtu (1/5/2021), angka kasus Covid-19 baru yang melonjak drastis ini terjadi di saat India membuka upaya vaksinasi corona besar-besaran untuk populasi orang dewasa. Ini adalah pertama kalinya jumlah kasus harian Covid-19 di India mencapai 400.000 kasus, setelah selama 10 hari berturut-turut mencatatkan infeksi harian 300.000 kasus. Bahkan, kematian akibat Covid-19 di India juga melonjak menjadi 3.523 kasus selama 24 jam terakhir. Kondisi ini, dari data resmi, menjadikan total korban meninggal karena Covid-19 di India telah mencapai 211.853 kasus. (Kompas.com, 01/05/2021)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa pertemuan massal, rendahnya tingkat vaksinasi, dan adanya varian baru virus Corona yang lebih mudah menular menyebabkan kasus Covid-19 di India melonjak. Kombinasi ketiganya menjadi “badai sempurna” yang membuat gelombang kedua Covid-19 yang mematikan di India.

Juru bicara WHO, Tarik Jasarevic memperingatkan agar India tidak menyalahkan varian baru virus Corona sebagai satu-satunya penyebab tsunami Covid-19 yang melanda dalam beberapa pekan terakhir. Jasarevic menyatakan bahwa perilaku berpuas diri atas capaian berkurangnya kasus Covid-19 juga telah berkontribusi dalam mendorong sistem perawatan kesehatan negara itu berada di ambang kehancuran.

Satu varian baru Covid-19 yang ditemukan di India adalah B1617 yang memiliki dua mutasi dianggap lebih menular, menurut beberapa laporan sains dan anekdot awal dari dokter di garda depan. (Detik.com, 28/04/2021)

Berkaca dari India, Indonesia Berisiko Mengalami Lonjakan Kasus Covid-19

Adanya kemiripan antara India dan Indonesia dari segi kepadatan penduduk, perilaku masyarakat, serta besarnya mobilitas dan kondisi kemiskinan yang terjadi, membuat Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra. Ia menilai Indonesia berpotensi mengalami hal serupa bahkan bisa jadi lebih parah. Mengingat penanganan pandemi di India lebih baik dari Indonesia.

Hermawan menjelaskan potensi badai Covid-19 di Indonesia bisa terjadi karena 3 faktor. Pertama, strategi pengendalian pandemi oleh pemerintah yang meliputi tes, telusur dan tindak lanjut (3T) mengalami kemunduran. Kedua kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan 3 M (masker, mencuci tangan, menjaga jarak) pun mengalami kemerosotan. Ketiga, jika Indonesia kedatangan mutasi virus Corona. (CNNIndonesia.com, 28/04/2021)

Kondisi terbaru, sepuluh orang Indonesia dilaporkan terpapar varian baru virus Covid-19 dari India. Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan (menkes) Budi Gunadi Sadikin, Senin (26/04/2021) dalam konferensi pers virtual melalui YouTube Sekretariat Presiden. Kendati demikian, Menkes Budi Gunadi tidak menyebutkan secara spesifik varian Covid-19 apa yang dimaksudkan.

Menanggapi hal ini, Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menyatakan bahwa varian baru Covid-19 dari negara lain, sangat besar potensi masuknya ke Indonesia. Karena Indonesia bukan negara yang menerapkan sistem pembatasan (masuk) WNA yang ketat. Tidak seperti Australia yang malah menutup pintu masuk WNA. Terlebih sebelumnya, aturan karantina terhadap WNA maupun warga Indonesia yang datang dari luar negeri juga hanya berlangsung lima hari.

Beginilah kenyataan cara menghadapi pandemi ala kapitalis, mudik dilarang namun pintu pariwisata tetap dibuka. Pernikahan masyarakat yang menghadirkan kerumunan dibubarkan, tapi pernikahan fublic figure dihadiri oleh kerumunan masyarakat walaupun dikonfirmasi seluruh tamu undangan telah swab antigen. Nyawa tidak menjadi pertimbangan asalkan roda ekonomi berjalan. Walaupun, pada kenyataannya buah dari kebijakan ini tidaklah optimal. Justru korban semakin berjatuhan, ekonomi pun masih mengalami perlambatan. Lantas, bagaimanakah agar tsunami Covid-19 yang menimpa India tak terulang kembali?

Solusi Komprehensif Islam dalam Mengatasi wabah

Sepanjang sejarah sebenarnya pandemi silih berganti pernah terjadi. Bahkan pada masa Rasulullah saw telah mencontohkan kepada kita bagaimana cara islam menyelesaikan penularan wabah pandemi. Konsep Islam dalam mengatasi wabah dimulai dari aspek preventif, promotif, kuratif, hingga rehabilitatif.

Preventif, konsep karantina (lockdown) akan langsung diberlakukan di tempat wabah ketika pertama kali ditemukan sekaligus menutup pintu-pintu perbatasan, disertai jaminan hidup dasar bagi penduduk wilayah yang di karantina.

Ketika menghadapi wabah penyakit yang mematikan, Rasulullah saw mengingatkan,”Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah swt  untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga menganjurkan untuk isolasi bagi yang sedang sakit dengan yang sehat agar penyakit yang dialaminya tidak menular kepada yang lain. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Promotif, negara harus aktif mengedukasi masyarakat tentang konsep pencegahan penularan virus dan memberikan sanksi tegas bagi pelanggar protokol kesehatan tanpa tebang pilih. Termasuk dalam menghasilkan kebijakan yang tidak mendua, ketika mudik dilarang namun pariwisata tetap dibuka.

Kuratif, melakukan penelusuran dan tes masaal untuk mendeteksi secara cepat rakyat yang sakit sehingga dapat segera dipisahkan dari yang sehat. Bagi yang sakit maka harus diisolasi dan diberikan perawatan intensif yang berkualitas.

Rehabilitatif, ketika dilakukan karantina wilayah, maka negara wajib menjamin kebutuhan setiap individu yang terdampak baik sandang, pangan dan papan termasuk kesehatan, keamanan dan pendidikan.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat, maka ada beberapa langkah kebijakan yang dilaksanakan secara bertahap, antara lain sebagai berikut.

Pertama, negara memerintahkan kepada setiap kepala keluarga bekerja mencari nafkah. Allah SWT berfirman yang artinya “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (men-derita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula….” (QS. Al-Baqarah: 233)

Kedua, negara menyediakan lapangan pekerjaan agar setiap orang yang mampu bekerja dapat memperoleh pekerjaan. Ketiga, negara memerintahkan setiap ahli waris atau kerabat terdekat untuk bertanggung jawab memenuhi kebutuhan pokok orang-orang tertentu. Jika ternyata kepala keluarganya sendiri tidak mampu memenuhi kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya maka negara mewajibkan kepada tetangga terdekat yang mampu untuk memenuhi sementara kebutuhan pokok (pangan) tetangganya yang kelaparan.

Ketiga, negara secara langsung memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan seluruh warga negara yang tidak mampu dan membutuhkan. Pembiayaan seluruh kebutuhan rakyat berasal dari baitulmal. Pemasukan untuk baitulmal diperoleh dari pengelolaan sumber daya alam baik air, tambang, dan hutan maupun sumber syar’i lainnya yang dibenarkan dalam islam.[]

Wallahu ‘Alam Bii Ash-Showwab