May 19, 2024

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Beli Sekarang Bayar Nanti”, Kemudahan atau Jebakan

Oleh: Khairani (Aktivis Back to Muslim Identity Pontianak)

“Belinya sekarang bayarnya nanti”, tentu bukan lagi menjadi istilah yang asing terdengar di telinga kita. Hal itu wajar, karena promosi fitur ini sangat mudah ditemukan dimana-mana, baik di sosial media, iklan di televisi maupun ketika sedang menonton video di kanal YouTube. Iklan “beli sekarang bayar nanti” muncul tanpa diundang, dan dengan cara yang menarik dia menawarkan dirinya kepada para konsumen.

Sekilas fitur ini memberikan kemudahan bagi siapa saja yang menggunakannya. Namun ternyata, banyak yang telah merasakan bahwa fitur ini justru seperti jebakan. Diawali merasakan kemudahan untuk mengakses pinjaman, kemudian banyak pengguna yang kebablasan hingga akhirnya terjerat hutang yang menggunung.

Lantas muncul pertanyaan, paylater merupakan kemudahan atau jebakan?

Generasi Muda Terjebak Hutang

Berdasarkan survey Katadata Insight Center dan Kredivo terhadap 3.560 responden pada Maret 2021 menunjukkan pengguna paylater meningkat sebesar 55% selama pandemi. Sebanyak 16,5% pengguna berasal dari kalangan milenial, sementara Gen Z berkisar antara 9,7%. Survey ini jelas menunjukkan, bahwa sebagian besar pengguna paylater mayoritas berasal dari kalangan pemuda.

Tidak seperti instrumen peminjaman lainnya, Buy Now Pay Later memberikan kemudahan bagi pengguna untuk melakukan peminjaman uang. Pengguna hanya cukup memasukkan identitas dan memberikan persetujuan, maka dalam waktu yang singkat “Beli Sekarang Bayar Nanti” sudah dapat dilakukan.

Hal tersebut akhirnya menyebabkan masyarakat yang baru saja mendapatkan Kartu Tanda Penduduk (berusia 17 Tahun) sudah dapat mengajukan pinjaman, walaupun orang yang bersangkutan belum memiliki penghasilan.

Bahkan tidak sedikit dari pengguna yang mendapatkan masalah akibat penggunaan yang berlebihan. Bahkan ada yang gagal membayar cicilan rumah akibat harus menanggung hutang paylater yang menggunung.

Kapitalis Untung

Paradigma Kapitalisme yang diterapkan hari ini berhasil mengubah standar kebahagiaan individu sebatas pada materi semata. “Bahagia itu kalau berhasil mencapai kenikmatan materi duniawi sebesar-besarnya”.

Walhasil, generasi muda hidup dengan gaya hidup yang serba konsumtif, berjuang mati-matian untuk memenuhi gengsi agar terlihat keren, hebat, sukses, dan sebagainya.

Perilaku konsumerisme dan hedonisme yang melanda generasi muda sejatinya telah dimanfaatkan oleh rentenir gaya baru untuk menjerat mangsa. Kemudahan akses untuk pinjam uang, membuka peluang untuk memenuhi keinginan demi gaya hidup ala Barat.

Parahnya negara juga memfasilitasi jeratan haram dengan berbagai dalih, seperti terdaftar di OJK, bunga rendah, tanpa syarat adanya penghasilan dan lainnya, sehingga dianggap sebagai hal biasa bahkan sangat memudahkan. Padahal nyatanya jeratan menggurita ini membahayakan masa depan.

Islam Mengharamkan Riba

Dalam sistem kehidupan Islam, tentu tidak ada konsep Buy Now Pay Later, karena konsep tersebutpastinya mengandung riba. Hal ini dapat dilihat dari adanya bunga pinjaman dan denda ketika telat membayar. Memakan harta riba tentu tidak akan berkah, kesulitan demi kesulitan akan dihadapi di dunia.

Allah SWT dengan tegas mengharamkan transaksi riba, hal itu dijelaskan oleh-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi, “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Maka, terdaftar atau tidaknya di OJK sejatinya tidaklah menjadi standar keselamatan dalam transaksi pinjaman. Standar yang harus dijadikan patokan bagi seorang muslim haruslah syariat Islam itu sendiri.

Dengan sistem hidup Islam, generasi muda akan terhindarkan pada jebakan yang membahayakan ini. Seharusnya pada pemuda mendapatkan jaminan kehidupan baik itu Pendidikan, Kesehatan maupun keamanan. Termasuk keamanan dari godaan gaya hidup barat dan mendapatkan pendidikan yang berkualitas untuk menghantarkannya menjadi insan mulia.

Visi misi yang jelas dalam membentuk kepribadian Muslim membawa seorang Muslim untuk berpola pikir dan sikap sesuai dengan Islam. Oleh karenanya, pemerintahan Islam akan mengkondisikan masyarakatnya berkepribadian Islam. Dengan demikian, sebelum melakukan aktivitas, mereka akan menyandarkan segalanya sesuai Islam.

Kepribadian Islam akan menghindarkan masyarakat, termasuk pemuda, dari pola hidup hedonistik atau konsumtif. Mereka akan membeli sesuatu sesuai kebutuhan, bukan keinginan, termasuk ketika bertransaksi pinjam-meminjam.

Saat ini sistem kehidupan Islam belum terealisasikan secara kaffah, maka dari itu haruslah kita perjuangkan agar segera terwujud. Tentunya dengan aktivitas dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Yaitu dakwah yang membangun pemikiran dan tanpa aktivitas kekerasan.[]

Wallahu a’lam bish-shawab.