August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Fitri Khoirunisa,A.Md (Aktivis Back To Muslim Identity)

Ada apa dengan kunjungan yang dilakukan oleh Menlu Amerika Serikat dan Cina ke Republik Indonesia? Tidak mungkin kedua negara adidaya tersebut hanya sekedar berkunjung tanpa adanya kepentingan dan keinginan yang terselubung? Melihat Indonesia yang begitu seksi dengan sumber daya alamnya, yang senantiasa menggoda negara penjajah seperti Amerika dan Cina untuk memilikinya. Gaya ekonomi lama untuk menjajah terus dijalankan sampai saat ini yaitu dengan program investasi sebanyak mungkin di Indonesia.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, mengundang investor Amerika Serikat (AS) untuk investasi di Kepulauan Natuna. Pernyataan tersebut disampaikannya kepada Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo saat berkunjung ke Indonesia. “Saya mendorong pebisnis AS untuk berinvestasi lebih banyak di Indonesia, termasuk untuk proyek-proyek di pulau terluar Indonesia, seperti Pulau Natuna,” ujarnya dalam konferensi pers. (galamedia.pikiran-rakyat.com, 29/10/2020).

Di sisi lain Cina pernah mengklaim bahwa perairan Natuna, kepulauan Riau, masuk dalam Nine Dash Line atau dalam artian Natuna itu masuk wilayah Cina. Sudah sangat jelas Indonesia menolak dengan keras klaim itu, karena sampai kapanpun Natuna masih berada dalam wilayah Indonesia bukan Cina. Terus bagaimana dengan AS?

Laut Cina Selatan tentu saja mejadi rebutan dua negara besar ini yaitu Amerika dan Cina. Kedatangan Pompeo jelas untuk memastikan Indonesia harus berada di pihak Amerika Serikat bukan Cina. Dan selama ini antara AS dan Cina memang sedang terjadi perang dingin, lebih spesifiknya yaitu perang dagang. Oleh karena itulah alasan kunjungan ke Indonesia dinilai sebagai salah satu mitra penting dan juga mitra strategis bagi AS di kawasan Indo-Pasifik.

Tujuan dua negara besar tersebut tiada lain adalah penjajahan di kawasan Asia, dan mereka tahu bahwa negara-Negara Asia adalah negara kaya akan sumber daya alamnya. Cina tentu berusaha menjadi penguasa kawasan tersebut dan AS terus berupaya membendungnya. Perebutan pengaruh di kawasan Asia merupakan faktor penting dalam politik luar negeri kedua negara tersebut.

Indonesia tak akan bisa selamanya bersikap netral dalam konflik Laut Cina Selatan. Sebagaimana peribahasa “Gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah”. AS dan Cina akan terus berupaya menyeret Indonesia ke pihaknya, baik dengan pendekatan pertahanan keamanan, ekonomi, kesehatan, maupun yang lainnya.

Selain bertemu dengan pemerintah, Pompeo pun melakukan kunjungan ke ormas Islam. Sebagaimana dikutip dari Oke News (29/10), Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) ini bakal menggelar pertemuan dengan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta. (OkeNews.Com, 29/10/2020).

Kunjungannya ke Ormas Islam jelas ingin mengarahkan umat Islam untuk bangga terhadap program moderasi Islam. Mereka terus menyuguhkan Islam ala Barat kepada kalangan kaum intelektual, agar generasi Islam saat ini semakin lemah pemahamannya terhadap Islam yang telah mereka bawa sejak lahir. Islam yang di ajarkan oleh Barat tersebut dilakukan melalui program moderasi Islam.

Ditemui sebelum menggelar pertemuan dengan Pompeo, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, GP Ansor memiliki beberapa kesamaan tujuan. Pertama, Ansor ini ingin agar citra soal Islam, terutama di dunia Barat tidak melulu citra yang identik dengan kekerasan dan teror. Ada sisi Islam yang lain, Islam yang penuh rahmah, Islam yang penuh kasih sayang yang di sini kita kenal dengan Islam rahmatan lil alamin.

Dikatakan Gus Yaqut, Islam rahmatan lil alamin ini sangat menghargai perbedaan- perbedaan, baik itu perbedaan agama, suku, ras dan lainnya. Apa yang dikatakannya ini sungguh jauh dari kenyataan. Islam rahmatan lil alamin yang di bawakan bukanlah Islam rahmatan lil alamin yang sebenarnya, karena fakta sesungguhnya para pengusung Islam moderat anti terhadap penerapan syariah Islam..

Oleh karena itu, perlu kita ketahui bahwa sangat berbahaya sekali bagi negara Islam menjalin kerjasama dengan negara kafir, apalagi AS dan Cina adalah negara kafir harbi yang sedang menyatakan perang dan memerangi serta menyiksa umat Islam. Bagaimana pula membuat Indonesia dapat bersikap tegas untuk menolak setiap bentuk penjajahan dan intervensi asing, baik dari timur maupun barat?. Sikap tegas ini hanya bisa terwujud jika Indonesia menjadikan ideologi Islam sebagai acuan politik luar negerinya bukan yang lain.

Selama masih menjadikan kepentingan ekonomi (investasi) sebagai acuan politik luar negerinya, Indonesia tidak akan pernah bisa bersikap independen. Indonesia akan selalu terombang-ambing antara “gelombang Barat dan Timur” terus saja begitu tanpa pergerakan.

Ideologi Islam yang benarlah yang akan menjadikan Indonesia memiliki pijakan yang mantap dalam setiap kebijakannya, baik kebijakan dalam negeri maupun luar negeri. Dengan menerapkan ideologi Islam yang kebenarannya dijamin wahyu Allah SWT maka Indonesia akan menjadi negara kuat yang tak akan mampu disetir oleh kepentingan asing.

Sudah saatnya Indonesia menjadi negara besar yang menjaga setiap jengkal wilayahnya agar tidak dikuasai oleh asing dan menjaga aqidah umat Islam agar terus lurus dengan apa yang Islam ajarkan bukan malah mengganti Islam yang telah sempurna dengan Islam ala moderat. Kemudian bukan pula memberikan ruang bagi infiltrasi asing, meski dengan dalih investasi atau kerja sama bilateral. Semua tawaran bantuan dan kerja sama dari asing tersebut hakikatnya adalah racun penjajahan untuk mengusai negeri-negeri kaum muslimin.

Indonesia jangan terperdaya dengan perangkap asing. Indonesia harus mampu membangun kekuatan internal agar menjadi kuat dan mampu melindungi batas wilayahnya secara mandiri. Dengan penerapan ideologi Islamlah maka Indonesia akan mampu mengelola kekayaan alam secara mandiri untuk kesejahteraan rakyat dan memiliki posisi strategis di Laut Cina Selatan. []

Wallahu’alam Bis Showwab