September 25, 2023

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Ada Apa Dengan Peringatan Hari Anak?

Oleh : Dwi Apriyani,S.Pd (Aktivis Back To Muslim Identity)

Puncak peringatan Hari Anak Nasional 2023 diselenggarakan di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (23/7/2023). Puncak acara peringatan Hari Anak Nasional ke-39 tahun 2023 yang mengusung tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” tersebut diikuti 644 anak dari seluruh Indonesia dan dipusatkan di Kota Semarang. (antarafoto.com, 23/07/2023)

Kementerian PPPA juga memberikan penghargaan Kabupaten/Kota Layak Anak 2023 kepada 360 kabupaten/kota yang terdiri atas 19 Kategori Utama, 76 Kategori Nindya, 130 Kategori Madya, dan 135 Kategori Pratama. Penghargaan Provinsi Layak Anak (Provila) diberikan kepada 14 provinsi. Terdapat 19 kabupaten/kota meraih penghargaan kategori utama di mana delapan Kabupaten/Kota di antaranya berhasil mempertahankan predikat dari tahun lalu, yaitu Kota Yogyakarta, Kota Surabaya, Kota Surakarta, Kota Denpasar, Kota Jakarta Timur, Kota Probolinggo, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Siak. Sementara itu, sebanyak 11 kabupaten/kota berhasil meraih peningkatan dari predikat Kategori Nindya menjadi Kategori Utama, yakni Kabupaten Bantul, Kota Balikpapan, Kota Sawahlunto, Kabupaten Tulungagung, Kota Semarang, Kota Jakarta Utara, Kota Jakarta Selatan, Kota Padang, Kota Padang Panjang, Kota Madiun, dan Kabupaten Sragen. (antaranews.com, 23 Juli 2023)

Peringatan hari anak sudah diselenggarakan setiap tahunnya, namun apakah dengan memperingati hari anak tersebut khususnya di Indonesia sudah merasakan hidup dengan rasa aman, nyaman dan mendapatkan pendidikan yang layak? Atau yang merasakan aman, nyaman dan pendidikan hanya berlaku bagi anak-anak tertentu saja, sedangkan bagi yang tidak mampu maka tidak berlaku.

Laporan dari World Health Organization pada 2020, menyebutkan sebanyak 49,2 juta anak di bawah 5 tahun terlalu pendek untuk usianya (stunting), 45,4 juta terlalu kurus untuk tinggi badannya (wasting), dan 38,9 juta terlalu berat untuk tinggi badannya (overweight). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan pada 2022, menyebutkan prevalensi balita stunting di Indonesia mencapai 21,6 persen, yang mana mengalami penurunan jika dibandingkan SSGI 2019 dan 2021 dengan prevalensi balita stunting yakni 27,7 persen dan 24,4 persen.

Stunting perlu mendapatkan perhatian yang serius karena memiliki efek jangka pendek dan juga jangka panjang. Jangka pendek mulai dari perkembangan kognitif, motorik, verbal tidak optimal, hingga daya tahan tubuh menurun. Sementara jangka panjang yakni risiko penurunan prestasi akademik, peningkatan risiko obesitas, kerentanan terhadap penyakit tidak menular, dan risiko penyakit degeneratif. (antaranews.com, 23/07/2023).

Saat ini, nyatanya anak Indonesia adalah generasi emas, namun faktanya hak-hak sebagian anak masih ada yang belum tersampaikan. Bagi anak yang tinggal dengan keluarga yang utuh dan hidupnya terjamin baik oleh orang tuanya, mereka sangat dilindungi haknya mulai dari pendidikan, bermain, maupun kesehatannya. Namun di sisi lain, mulai dari anak pedesaan hingga di tengah perkotaan, masih bisa dijumpai mereka yang di masa kecilnya harus mencari nafkah, melupakan pendidikannya, dan bahkan masa bermainnya terlewatkan dengan kehidupan yang tanpa pendidikan.

Selain ekonomi yang menyebabkan hak anak Indonesia tidak tersampaikan, namun ada juga peran orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang rela merampas kebahagiaan mereka dengan menyiksa mentalnya, masih banyak di negeri ini, anak Indonesia yang mengalami pelecehan seksual, penjualan anak, anak yang dipaksa kerja untuk mengejar target pasar, dan kebebasan yang justru membuat mereka tidak paham akan aturan yang sebenarnya, mulai pakaian dan penjagaan terhadap dirinya. Miris rasanya ketika rumah bukan lagi tempat yang aman untuk anak, bahkan dikehidupan yang modern dengan segala kecanggihan teknologi, melalui media sosial, remaja dapat mengorbankan dirinya untuk mendapatkan uang yang banyak, selain itu banyak kejahatan yang menimpa anak-anak indonesia, baik yang melukai fisik maupun mentalnya.

Dari beberapa problem yang dialami anak-anak, menunjukkan bahwa peringatan Hari Anak hanya seremonial belaka. Terlebih peringatan hari anak tersebut digelar setiap tahun dengan acara meriah, termasuk pemberian penghargaan Provinsi, Kabupaten dan Kota Layak Anak. Namun nasib anak masih memprihatinkan, seperti; masalah stunting, kekerasan, pelecehan seksual, rendahnya layanan kesehatan, pendidikan, dan lainnya.

Islam memberikan pengaturan yang sempurna dalam menumbuh kembangkan anak. Islam mengatur bahwasanya wajib menjamin dan melindungi anak, karena anak adalah calon generasi masa datang. Sistem Islam memiliki mekanisme yang komprehensif dalam memberikan jaminan kesejahteraan, termasuk layanan pendidikan dan kesehatan serta perlindungan dan keamanan.

Dalam sistem islam, seorang anak akan dibekali ilmu dan wawasan oleh orang tuanya sejak dini, mulai dari sebelum pendidikan formal dilakukan, hingga ia siap ketika sudah akil baligh. Saat itulah anak diharapkan memiliki kemandirian, sehingga mengetahui perbuatan baik dan buruk sebelum melakukan perbuatan tertentu. Maka dari itu anak harus dibekali dengan tsaqofah islam, dan ilmu pengetahuan kehidupan.

Ibu adalah sosok atau orang yang paling dekat dengan anak. Oleh karenanya, ia memiliki potensi dan peran yang sangat besar dalam proses pengasuhan dan pendidikan bagi anak. Ibu berperan besar dalam menciptakan lingkungan yang baik bagi anak ketika ia dibesarkan.

Suara yang pertama anak dengar ketika ia mulai mendengar, pemandangan pertama yang anak lihat, dan lingkungan yang pertama masuk ke dalam rekaman otak anak, adalah rumahnya, terutama orang yang paling dekat dengannya, yaitu ibunya. Suara ibulah yang pertama dan sering anak dengar. Wajah atau ekspresi ibu, juga perilaku dan kebiasaannya, merupakan hal yang pertama anak lihat. Sangat jelas bahwa seorang ibu sangat dekat dengan anak sehingga ia berperan besar membentuk kepribadian Islam yang andal pada diri anak.

Seorang ibu berkewajiban dan berperan besar dalam tumbuh kembang anak hingga anak mumayiz, yaitu bisa membedakan antara yang bermanfaat dan yang berbahaya bagi dirinya, yaitu sekitar menjelang usia 7 atau 8 tahun (menurut perkiraan normal). Oleh karena itu, pentingnya menjadi seorang ibu haruslah pintar dan mengerti banyak hal. Karena ibu menjadi telandan sikap anak dan tempat bertanya seorang anak.

Allah berfirman ketika memuji Rasul-Nya yang mulia, “Tersebab rahmat Allahlah engkau dapat bersikap lemah lembut dan lunak kepada mereka. Sekiranya engkau itu adalah seorang yang kaku, keras, lagi berhati kasar, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali Imran [3]: 159). Dalam ayat lain, Allah juga menjelaskan tanggung jawab suami terhadap keluarganya, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At-Tahrim: 6).

          Allah SWT juga telah membagi peran ayah dan ibu dalam membimbing dan mendidik anak untuk membangun akidah dalam diri seorang anak. Sehingga pentingnya menanamkan islam dalam diri seorang selain orang tua yang dituntut membina keluarga dan mendidik anak dengan baik, Negara juga memiliki peran penting demi terciptanya kemedekaan bagi anak di seluruh wilayah sehingga hak anak-anak dapat tersampaikan degan baik dan layak. Islam bukan hanya menjamin kehidupan yang layak, namun hak bemain, hak kesehatan dan hak pendidikan juga akan difasilitasi dengan baik oleh Negara.[]

Wallahu’alam bisshowwab