August 2, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Doni Riw

Clifford Geertz, dalam bukunya yang berjudul The Religion of Java (1960), mendeskripsikan polarisasi masyarakat Indonesia di masa akhir penjajahan dan awal kemerdekaan.

Hasil peneliannya menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia terkotak dalam tiga golongan: Abangan – Santri – Priyayi.

MASA AKHIR PENJAJAHAN
Di masa akhir penjajahan, Kaum Abangan adalah masyarakat awam, pelaku slametan, larungan, adu jago, gemar ciu, dan sejenisnya.

Sedangkan Kaum Priyayi adalah para bangsawan, bekerja sebagai wedono atau bupati di bawah ketiak kompeni. Turut serta mensukseskan penjajahan di Nusantara.

Sementara Kaum Santri adalah kalangan muslim taat. Terdidik di Pesantren. Digerakkan oleh para saudagar sejak era Walisongo. Independen dari kendali belanda, sehingga aktif dalam perjuangan bersama Pangeran Diponegoro serta pahlawan lainnya.

ERA POLITIK BALAS BUDI
Pada masa Politik Balas Budi, Kaum Priyayi mendapatkan pendidikan dari penjajah. Melahirkan kaum nasionalis awal seperti tiga serangkai; Dr Cipto, Dewes Deker, RM Suwardi. Dari merekalah ide Nasionalisme, Demokrasi, serta Sekulerisme pertama kali masuk ke Nusantara.

ERA REVOLUSI KEMERDEKAAN
Generasi ke dua dari Kaum Priyayi adalah Sukarno, Hatta, dkk, yang mencoret 7 kata dalam piagam jakarta, serta getol menolak penerapan syariat sebagai dasar negara.

Kaum Santri adalag Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah), KH Wahid Hasyim (NU), dkk, yang memperjuangkan penerapan syariat melalui Piagam Jakarta.

ERA SEPUTAR GESTAPU
Menjelang 1950an hingga 1966, Kaum Abangan direkrut oleh PKI. Sementara Kaum Priyayi lebih terwakili dalam wadah PNI.

Di tahun 1948, kaum Abangan yang telah bertransformasi menjadi PKI menyerang Pesantren, Para Kiyai, dan Para Santri. Menimbulkan tegangan tinggi antar dua kubu.

Ketegangan meletus menjadi benturan fisik. Setelah kudeta 30 September 1965 yang gagal, Kaum Santri diprovokasi untuk membantai PKI.

ERA ORDE BARU
Kaum Priyayi era Sukarno, lebih condong kepada sosialisme dan marxisme. Meski tidak sepakat dengan PKI yang bersifat internasional.

Tetapi dengan penggulingan Sukarno, Kaum Priyayi baru mengambil alih. Inilah kaum priyayi dalam kubu Suharto.

Perjanjian internasional pertama Suharto pasca naik tampuk kekuasaan adalah penyerahan konsesi gunung emas Papua kepada freeport.

Selama Sukarno, gunung emas tidak pernah diserahkan ke asing. Karena bagaimanapun Sukarno lebih condong anti Kapitalisme.

Peralihan kekuasaan Sukarno ke Suharto adalah peralihan sosialisme ke kapitalisme. Meski kapitalisme Suharto masih beraroma feodal, lingkaran keluarga dan kroni.

Di era Orde Baru, PKI dan PNI dimusnahkan. Kaum Abangan dikanalisasi ke PDI. Sementara Masyumi, Muhammadiyah, NU, dikerangkeng dalam PPP.

Di era Orde Baru Suharto berhasil mendomestikasi Kaum Santri yang bersifat Politis menjadi Apolitis melalui asas tunggal pancasila.

Semua aset Islam seperti pesantren, ormas Islam, partai Islam, semua tertundukkan melalui ancaman dan imbalan. Hasilnya adalah Kaum Santri yang hanya bergerak di wilayah ibadah Mahdhoh saja.

ERA REFORMASI
Jika kapitalisme di era Suharto masih beraroma feodal, maka di era reformasi, kapitalisme di indonesia menjadi semakin liberal. BUMN diswastanisasi. Subsidi dicabut. Dlsb.

Era Reformasi juga menjadi era kebangkitan kembali Kaum Abangan dan Kaum Santri yang terkebiri di era Orde Baru.

Kaum Abangan, anak cucu PKI, yang di era Orde Baru terkungkung tak bisa menjadi apapun, di era reformasi bahkan mereka bisa menjadi anggota dewan dan pejabat publik.

Kaum Santri atau lebih tepatnya Islam Politis bangkit kembali meski tidak melalui jalur ormas dalam negeri. Tetapi jelas aspirasi mereka melanjutkan aspirasi Walisongo yang mendirikan Kasultanan Islam, meneruskan Ki Bagus Hadi Kusumo dan KH Wahid Hasyim yang memperjuangan syariat Islam saat pembentukan NKRI.

Maka di fase akhir ini kita sesungguhnya menyaksikan kembali bahwa Kaum Abangan dan Priyayi bersatu kembali seperti era Sukarno, dan bergesekan keras dengan Kaum Santri alias Islam.

Di dalam bahasa internasional, Abangan itu Sosialis Komunis. Priyayi itu Kapitalis. Sedangkan Santri itu adalah Islam.

Gimana? Jadi paham kan sekarang?

Jogja 29720