December 6, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Fitri Khoirunisa,A.Md ( Aktivis Muslimah)

Tak pernah ada habisnya mendengar berbagai macam kasus kekerasan yang terjadi di negeri ini. Negeri yang konon katanya berpayung hukum namun ternyata tak mampu untuk melindungi jiwa rakyatnya. Begitulah hasil dari penerapan sistem kapitalisme saat ini yaitu hasil buah pemikiran manusia yang lemah. Kekerasan terjadi dimana-mana, siapapun bisa jadi pelaku, baik itu remaja, dewasa, para pemuka agama, bahkan seorang ibu dapat bertindak terhadap bayinya.

Aksi penganiayaan Kembali terjadi terhadap bayi. Kali ini menimpa seorang bayi berusia empat bulan di Desa Mattoanging, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Bayi tersebut meninggal setelah dianiaya dengan cara dibanting ke lantai oleh seorang pria, Sabtu 22 Oktober 2022 pukul 04.00 Wita. Akibat bantingan tersebut, sang bayi mengalami luka parah di bagian kepala (tribunnews.com, 25/10/2022).

Peristiwa kejahatan dapat terjadi dalam suatu keluarga. Bayangkan saja, seorang bayi tidak berdaya bisa mati di tangan kedua orang tuanya. Tidak hanya itu, orang tua yang renta pun bisa dibunuh oleh anak kesayangannya. Suami juga dapat menganiaya istri seakan-akan sesuatu yang biasa-biasa saja. Begitupun sebaliknya, istri menganiaya suami tampaknya dianggap lumrah.

Banyak pula kejadian prilaku kekerasan berbasis komunal. Tawuran antar pelajar, perundungan, pengeroyokan, dan konflik horizontal jadi berita sehari-hari. Kasus terakhir yang terjadi di Kanjuruhan juga dianggap sebagai musibah nasional. Bahkan tidak jarang kekerasan tersebut menyebabkan nyawa hilang dalam kesia-siaan.

Lantas dimana peran negara yang seharusnya menjaga setiap jiwa rakyatnya? Masyarakat tanpa peran negara ibarat anak kehilangan induk. Dalam struktur negara saat ini sudah memiliki susunan kabinet, dewan, kepolisian yang lengkap, namun tak pernah jelas dan tuntas dalam mengurusi urusan masyarakat.

Lantas, bagaimana juga dengan urusan agama dan moral anak bangsa sekarang? Paradigma sekuler kapitalistik neoliberal justru menjauhkan keduanya (red_agama dan moral) masuk dalam ranah kehidupan. Maka wajar saja  jika aktivitas politik begitu sarat dengan intrik. Sementara itu, bidang ekonomi begitu timpang dan eksploitatif. Pun di bidang sosial, kehidupan masyarakat begitu sarat dengan spirit bebas dari aturan. Sedangkan bidang hukum dan hankam gagal menjamin rasa aman.

Dalam bidang pendidikan, alih-alih menjadi sarana menyemai kebaikan, yang ada justru menjadi jalan menanamkan pola pikir yang jauh dari Islam. Bahkan penguasa membuat peta jalan yang berselisih dengan pendidikan Islam. Sampai-sampai, siapa pun yang dekat dengan agama, justru rentan distigma radikal.

Alhasil, individu dan keluarga hidup tanpa pegangan. Beban ekonomi yang makin berat, menjadi alasan mereka masuk dalam berbagai tindak amoral. Sementara itu, masyarakat kehilangan tradisi amar makruf nahi mungkar.

Semua ini disebabkan nilai halal dan haram semakin tidak dikenal. Sementara tolok ukur perbuatan hanya bersandar nisbi kemanfaatan. Kehidupan benar-benar jauh dari keberkahan. Fisik berkemajuan, tetapi aspek ruhiyah begitu kering kerontang, inilah yang menyebabkan maayarakat kehilangan hati nuraninya.

Kehidupan rusak seperti ini jelas bukan habitat asli umat Islam. Karena sejatinya kehidupan umat Islam penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Peradaban mereka tegak di atas landasan iman. Pola pikir serta amal mereka bersandar pada halal/haram. (muslimahnews.net)

Negara dalam Islam benar-benar berfungsi sebagai pengurus dan penjaga. Peran kepemimpinan pun tidak dipahami sekadar dimensi dunia. Sebagai konsekuensinya, syariat Islam ditegakkan dengan sempurna hingga karenanya, jaminan rahmat dan kebaikan bisa mewujud di dunia nyata.

Dalam masyarakat Islam, berbagai kerusakan Kehidupan rusak seperti ini jelas bukan habitat asli umat Islam. Karena sejatinya kehidupan umat Islam penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Peradaban mereka tegak di atas landasan iman. Pola pikir serta amal mereka bersandar pada halal/haram.

Negara dalam Islam benar-benar berfungsi sebagai pengurus dan penjaga. Peran kepemimpinan pun tidak dipahami sekadar dimensi dunia. Sebagai konsekuensinya, syariat Islam ditegakkan dengan sempurna hingga karenanya, jaminan rahmat dan kebaikan bisa mewujud di dunia nyata.

Kemudian Dalam masyarakat Islam ini, berbagai kerusakan tidak mendapat tempat sebagaimana dalam sistem sekarang. Syariat Islam kafah yang diterapkan menjamin terjaganya jiwa, akal, akidah, harta, kehormatan, serta wibawa negara. Dengan kata lain, syariat Islam menutup celah bagi semua faktor pemicu kekerasan, termasuk merebaknya stres sosial.

Bagaimana tidak, penerapan sistem ekonomi Islam dipastikan akan menjamin keadilan dan kesejahteraan. Penerapan sistem sosial dan pendidikan, juga media massa Islam akan mewujudkan individu takwa, sekaligus keluarga tangguh dan masyarakat berperadaban. Adapun penerapan sistem hukum dan sanksi Islam, dipastikan menjamin keamanan dan ketenteraman.

Kalaupun ada kasus kekerasan dan tindak kejahatan, maka sifatnya hanya kasus dan personal. Kuatnya tradisi dakwah di tengah umat Islam akan mengisolasi penyimpangan hingga tidak menjadi fenomenal. Konsistensi penerapan sistem hukum dan sanksi Islam oleh negara bahkan akan memberi efek jera bagi para pelaku kejahatan.

Jangankan perbuatan yang disengaja, kekerasan atau tindak kejahatan yang tidak disengaja saja tidak akan luput dari sistem sanksi Islam. Meski tidak seberat kejahatan yang disengaja, tetapi sanksi Islam bagi pelakunya menjadi cara tersendiri untuk mendidik masyarakat agar selalu ada di jalan yang benar.

Islam mengenal kisas berupa hukuman badan atau harta kekayaan (diat) bagi pelaku penganiayaan dan pembunuhan. Apakah disengaja, mirip disengaja, atau tidak disengaja. Setiap kadar kejahatan yang dilakukan akan mendapat sanksi yang sepadan. Yang paling berat adalah hukuman mati sebagai sanksi yang maksimal namun tidak mendapat tempat sebagaimana dalam sistem sekarang.

Syariat Islam kafah yang diterapkan menjamin terjaganya jiwa, akal, akidah, harta, kehormatan, serta wibawa negara. Dengan kata lain, syariat Islam menutup celah bagi semua faktor pemicu kekerasan, termasuk merebaknya stres sosial.

Penerapan sistem ekonomi Islam dipastikan akan menjamin keadilan dan kesejahteraan. Penerapan sistem sosial dan pendidikan, juga media massa Islam akan mewujudkan individu takwa, sekaligus keluarga tangguh dan masyarakat berperadaban. Adapun penerapan sistem hukum dan sanksi Islam, dipastikan menjamin keamanan dan ketenteraman.

Kalaupun ada kasus kekerasan dan tindak kejahatan, maka sifatnya hanya kasus dan personal. Kuatnya tradisi dakwah di tengah umat Islam akan mengisolasi penyimpangan hingga tidak menjadi fenomenal. Konsistensi penerapan sistem hukum dan sanksi Islam oleh negara bahkan akan memberi efek jera bagi para pelaku kejahatan.

Tegaknya syariat Islam kafah tentu butuh beberapa prasyarat yang harus di taati. Pertama, adanya individu-individu yang bertakwa sebagai penopang masyarakat dan negara. Kedua, kuatnya kontrol masyarakat, yang mengondisikan individu dan negara agar ada pada jalurnya. Ketiga, adanya negara berlandaskan Islam yang menegakkan syariat dengan konsisten dan sempurna.

Tanpa ketiga syarat ini, jangan harap Islam bisa tegak dengan sendirinya, lalu tiba-tiba masyarakat bisa keluar dari kondisinya yang memilukan. Semua prasyarat ini tentu harus kita upayakan bersama-sana. Caranya adalah dengan melakukan dakwah pemikiran, sesuai metode yang telah Rasulullah saw. contohkan.

Oleh karena itu perjuangan ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak sekali tantangan dan rintangan sudah terhampar di hadapan mata. Negara-negara penjajah, yakni para pengusung kapitalisme global telah siap memasang garis penghalang bagi kebangkitan Islam. Mereka pun berkolaborasi dengan para penguasa muslim yang jiwanya sudah tergadai oleh harta dan kedudukan.[]