October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Dwi Apriyani (Aktivis Back To Muslim Identity)

Dinding pemisah antara agama dengan kehidupan di Indonesia semakin meluas. Bahkan ‘psikologi’ jadi salah satu alasan untuk tidak menanamkan peraturan Sang Kholiq pada anak sejak dini. Kesiapan berjilbab tanpa paksaan telah menjadi sorotan di berbagai media sosial dan kalangan masyarakat, padahal kesiapan berjilbab tanpa latihan dan pemahaman yang ditanamkan sejak dini, akan mudah menjadikan seseorang melakukan penundaan kewajiban tersebut secara terus menerus. Tanpa disadari, penjajahan berbentuk sesat pikir oleh kaum liberal semakin menjadi-jadi untuk menjauhkan masyarakat Islam dengan aturan islam, salah satunya pada pemakaian jilbab.

“Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu,” kata Rahaeng Ika menjawab pertanyaan DW Indonesia. “Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul,” tambah Ika. Sebagaiman dikutip Jurnal Gaya dari konten video Media asal Jerman Deutch Welle (DW) yang mengulas tentang sisi negatif anak menggunakan jilbab sejak kecil. (PikiranRakyat.com, Sabtu,26/09/2020)

Masih dari sumber yang sama menurut Darol Mahmada, “wajar-wajar saja seorang ibu atau guru mengharuskan anak memakai hijab sejak kecil, tapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” dengan yang lain,” kata Darol. (PikiranRakyat.com, Sabtu,26/09/2020)

Tak jauh berbeda hasilnya dinyatakan bahwa “Pemakaian jilbab karena kesadaran, sebagai pilihan dan ekspresi pencarian jati diri, tanpa paksaan atau tekanan, patut dihormati dan dihargai.” Sebagaimana pernyataan DW Indonesia. Padahal kenyataannya seseorang apabila tanpa dikenalkan dengan suatu hal terlebih dahulu, dan tanpa dilatih maka akan menyebabkan seseorang tersebut juga tidak akan memahami dan tidak akan sadar dengan sendirinya. Oleh karena itu setiap orang perlu adanya informasi terdahulu sebagai sember pemahamannya.

Tujuan dari video tersebut telah banyak dibantahkan oleh banyak pihak, meskipun DW Indonesia sendiri mencoba menanggapi dengan bijaksana, namun tetap terlihat menunjukkan sikap islamofobia. Jelas bahwa seorang anak mencerminkan kertas yang kosong, ketika bukan pena yang dilukiskan indah di atasnya, maka debu yang akan mengotori kertas putih tersebut.

Terbantahkan pula bahwa pemaksaan berjilbab dapat mempengaruhi kejiwaan seseorang, karena hampir semua hal baik yang dilakukan oleh seorang anak, diawali dengan keharusan dari orang tua, contohnya bayi yang dipaksa dikenakan pakaian, anak kecil yang diharuskan untuk memakan sayur, mendaftarkan anak ke sekolah, dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan cara menanamkan pemahaman dan melatih seorang anak sejak kecil, sehingga setelah dewasa anak tersebut terbiasa melakukan hal-hal baik dan  taat dengan perintah Allah SWT dengan kesadaran dirinya sendiri.

Jangan melemahkan pelaksanaan berjilbab hanya karena alasan kejiwaan serta melalaikan dari kewajibannya dengan berbagai alasan yang tidak jelas. Belum ada fakta yang menunjukkan bahwa berjilbab dapat membuat seseorang menjadi gila dan tidak waras. Justru terbukti jilbab tidak menghalangi seseorang dalam bergaul, semakin seseorang dekat dengan perintah Allah dan aturan Allah SWT. Niscaya ridho Allah jauh lebih baik dari segalanya.

Sudah sangat jelas perintah mengenakan jilbab sebagaimana diterangkan dalam ayat Alquran, Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Mendidik anak dengan baik dan benar sesuai dengan perintah Allah SWT adalah kewajiban bagi seluruh orang tua, karena pada dasarnya orang tua adalah pendidikan pertama yang didapatkan bagi seorang anak. Orang tua berkewajiban mengenalkan Allah sebagai tuhannya dan segala aturan Allah harus juga disampaikan, salah satunya adalah kewajiban berjilbab.

Di dalam Islam, menutup diri dengan berjilbab selain kewajiban bagi setiap muslimah juga sebagai identitas diri agar dapat dikenali, serta menjadi penjagaan terutama saat ia dewasa. Ketika sejak dini seseorang telah memahami kewajiban berjilbab dan berkhimar, maka ketika tumbuh dewasa ia akan terbiasa dan bukan lagi melaksanakannya karena paksaan, namun karena ia paham akan aturan Allah SWT.

Janganlah zalim dengan perintah dan aturan yang jelas berasal dari Allah SWT. Stop duakan jilbabku hanya karena alasan kejiwaan, stop duakan jilbabku hanya karena pola pikir yang belum sampai, stop cegah amar makruf nahi mungkar. Biarkan ibuku berkreasi untuk membinaku, biarkan aturan Sang Kholiq digenggamanku. Wahai para ibu, teruslah engkau didik anakmu dengan ridhoNya.

Wallahu A’lam Bish-shawab