April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Lulu Nugroho – Pengurus Kamus (Kajian Muslimah)

Persoalan pendidikan di tengah pandemi Covid-19, masih belum menemukan titik terang. Perkara ini seakan-akan jalan di tempat. Di satu sisi, siswa membutuhkan kegiatan belajar mengajar seperti biasa terjadi, namun di sisi lain, sebagian besar anak Indonesia tidak mampu mengakses pelajaran melalui proses belajar daring.

Maka ketika Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat memberikan lampu hijau kepada sekitar 71 SMA/sederajat di Jawa Barat untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka, wacana ini sontak menuai berbagai reaksi dari berbagai kalangan. Hal ini merupakan hasil verifikasi para pengawas dan kantor cabang dinas di 282 kecamatan yang berstatus kawasan zona hijau Covid-19 di kota/kabupaten se-Jawa Barat.

Sekolah-sekolah tersebut tersebar di wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Majalengka, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Cirebon. Sejalan dengan yang demikian, Bupati Cirebon Imron Rosyadi menyampaikan, saat ini Pemkab Cirebon tengah mengaji pembukaan sekolah untuk KBM tatap muka. Dimulai dari jenjang SMA/SMK/MA, kemudian SPM/MTs, hingga tingkat SD, TK, dan lainnya.

Akan tetapi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon, Enny Suhaeni, mengaku tidak setuju jika KBM tatap muka di Kabupaten Cirebon dibuka. Pasalnya, tren perkembangan kasus Covid-19 di Kabupaten Cirebon tengah meningkat meski dikarenakan hasil tracing kontak erat kasus sebelumnya. (Tribunnews.com, 27/8/2020)

Seperti diketahui, belum lama ini terjadi 7 kasus baru yang terkonfirmasi pada Jumat (21/8), 3 pasien di antaranya adalah pelajar. Masing-masing 2 perempuan berusia 8 tahun dan 13 tahun, serta seorang laki-laki berusia 15 tahun. Mereka berasal dari 2 kecamatan berbeda di Kabupaten Cirebon. (Ayobandung.com, 21/8/2020)

“Ke-3 pelajar itu terkonfirmasi positif setelah berkontak erat dengan pasien positif sebelumnya,” ungkap Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Kabupaten Cirebon yang juga anggota Divisi Pelayanan Informasi, Pusat Data, TIK, dan Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon, Nanan Abdul Manan.

Inilah yang menimbulkan kontroversi di tengah umat, sebab KBM tatap muka masih berpotensi memunculkan klaster penyebaran kasus di sekolah. Tentu sangat berbahaya, sebab kesehatan, bahkan nyawa anak-anak bangsa menjadi taruhannya. Bahaya terpapar virus masih sangat besar. Apalagi kurva penularan Covid belum melandai, malah naik.

Enny meminta agar status zona kecamatan sekolah tersebut berada jangan dijadikan patokan untuk membuka KBM tatap muka. Pasalnya, sekolah tersebut tetap mempunyai potensi didatangi siswa dari zona merah. Pihaknya menilai status zona kewaspadaan suatu kecamatan tidak dapat dijadikan patokan untuk KBM tatap muka. (Tribunnews.com, 27/8/2020)

Indonesia saat ini telah memegang rekor tertinggi tingkat kematian anak di Asia Pasifik akibat Corona Covid-19 yaitu sebesar 2,5 persen. Sementara berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), 11 ribu anak Indonesia terpapar Covid-19. (Liputan6.com, 14/8/2020)

Karenanya sekolah dengan tatap muka masih belum aman. Sebab tidak hanya resiko terpapar ada pada siswa, guru pun berpeluang sama. Karenanya diperlukan kecermatan menanggapi hal ini agar anak didik tetap mendapatkan haknya meskipun di tengah pandemi wabah, sama halnya dengan perlunya menjaga kesehatan bagi tenaga pengajar.

Pendidikan Islam Solusi di Tengah Pandemi

Sistem pendidikan Islam tegak di atas asas akidah yang sahih dan kokoh, yakni berupa keyakinan bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala. Karenanya akidah ini mengarahkan visi pendidikan Islam sebagai wasilah untuk melahirkan generasi terbaik yang memahami tujuan penciptaan, yaitu sebagai hamba yang terus meninggikan kalimat Allah SWT.

Oleh sebab itu dari sini akan lahir generasi yang siap menjadi pemimpin peradaban. Apalagi desain pendidikan dalam Islam pun diarahkan pada pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyah Islam). Maka pendidikan merupakan jalan kemuliaan mewujudkan peradaban cemerlang.

Target yang melangit inilah kemudian diturunkan dalam bentuk kurikulum pendidikan Islam disertai metode pembelajaran, di setiap tingkatannya. Dalam penerapannya tidak main-main, negara menunjang penuh dengan berbagai sarana dan prasarana. Termasuk para pendidik yang dibekali dengan kapasitas dan kapabilitas mumpuni.

Guru, ilmuwan dan para peneliti mendapat apresiasi tinggi dari negara. Sehingga para pendidik memiliki kesadaran penuh untuk berkhidmat pada umat, dengan mengerahkan segenap tenaga memberikan hasil karya terbaik berupa anak-anak didik yang cinta pada agamanya. Tidak dengan label sebagai ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’, tapi digaji minim seperti para guru di negeri ini.

Seluruh pembiayaan ditanggung negara, warga tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Pendidikan tidak dijadikan komoditas dan tidak bernilai profit. Setiap warga berhak memperoleh pendidikan setinggi-tingginya, sebab pendidikan Islam adalah hajjah asasiyah atau kebutuhan dasar. Dengannya dihasilkan anak-anak bangsa yang siap terjun di kancah kehidupan serta mampu menyelesaikan seluruh persoalan umat.

Hal yang demikian tetap berjalan, meski di tengah pandemi. Islam memberi tuntunan pemberlakuan karantina bagi wilayah terdampak. Prinsip memisahkan orang sakit dari yang sehat, untuk mencegah penularan meluas. Maka metode penyampaian ilmu pun dipisahkan antara warga sakit dan sehat, agar tidak bercampur. Sehingga bagi warga yang sehat tetap beraktivitas belajar mengajar seperti biasa.

Sedangkan bagi warga yang sakit, ditempuh cara-cara penanggulangan wabah terlebih dahulu, seperti aktivitas penyembuhan, mengobati, serta mencarikan jalan pencegahan agar warga sehat lainnya tidak terkena penyakit. Di saat perekonomian lumpuh, negara juga menjamin seluruh kebutuhan dasar warganya, baik itu pangan, sandang dan papan.

Riset pun dilakukan besar-besaran untuk memutus penyebaran penyakit. Negara fokus menanggulangi wabah. Karakter kepemimpinan dalam Islam adalah memberikan keadilan yang melingkupi kehidupan umat. Pemimpin yang menjadi raain dan junnah, bertanggung jawab memenuhi hak rakyatnya.

Imam adalah pemimpin, ia akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari)

Ketika wilayah karantina membutuhkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, maka hal ini bisa ditempuh melalui daring. Tentunya berbagai sarana dan prasarana disediakan negara, baik itu gawai (peranti elektronik atau mekanik dengan fungsi praktis; gadget), kuota, atau jaringan internet, serta para pengajar yang siap dengan kurikulum dan metode pembelajaran khusus di tengah pandemi.

Sehingga tidak akan ada anak didik yang ketinggalan pelajaran sebab tidak memiliki gawai, kuota atau karena belum masuknya jaringan internet di tempat tinggalnya. Sebaliknya, tidak akan ada kasus guru yang mengalami kesulitan merancang proses belajar mengajar ala pandemi seperti sekarang ini. Sebab tujuan pembentukan syakhsiyah Islam telah baku dan menancap kuat, tidak akan bergeser dalam keadaan apapun.

Inilah sebaik-baik negara yang pernah ada. Memiliki kemandirian politik dan ekonomi sehingga menjadi soko guru bagi keberhasilan pendidikan. Produknya pun tidak tanggung-tanggung, melahirkan generasi yang siap tampil mengguncang dunia. Oleh karena itu, saatnya kembali pada Islam, pada kegemilangan tatanan kehidupan yang pernah ada di muka bumi. Tsumma takuunu khilaafatan ala minhajin nubuwwah.[]