April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Renita (Aktivis Muslimah dan Pemerhati Generasi)

Popularitas Korean Wave (Hallyu) kini telah menjamah hampir seluruh pelosok dunia, tak terkecuali Indonesia. Hal ini, dapat dilihat dengan menjamurnya tayangan hiburan ala korea seperti  drama korea, lagu korea (k-pop), makanan khas korea, korean culture, korean skincare serta acara-acara reality show yang digagas Negri Ginseng tersebut. Berbagai acara yang beraroma K-Wave, kini bisa diakses dengan mudah melalui kanal media sosial maupun televisi nasional.  Tak hanya digandrungi oleh remaja, bahkan orangtua pun ramai memperbincangkannya. Semua hal yang berbau korea rasanya sayang untuk dilewatkan.  “Demam K-Pop” benar-benar telah menjangkiti generasi bangsa ini.

Bak gayung bersambut, fenomena ini direspon positif oleh Wapres Indonesia, K.H. Ma’ruf Amin. Dalam peringatan 100 tahun kedatangan Korea ke Indonesia, beliau menyatakan bahwa, saat ini anak muda di berbagai pelosok Indonesia mulai mengenal artis K-Pop dan gemar menonton drama Korea. Maraknya budaya K-Pop diharapkan dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri (tirto.id, 20/9/2020). Pernyataan tersebut sontak mendapat respon beragam dari masyarakat. Dalam pernyataannya, setidaknya ada dua hal yang menjadi harapan Pak Wapres terkait  budaya K-Pop :

Pertama, Dengan banyaknya masyarakat indonesia yang menonton drama korea  atau lagu-lagu K-pop diharapkan dapat mengundang wisatawan Korea untuk berkunjung ke Indonesia.

Jika dicermati, sungguh pernyataan Pak Wapres ini bagaikan blunder bagi K-Waveitu sendiri. Bagaimana tidak, jika banyak generasi yang menyaksikan drama korea, lagu korea, bahkan sampai membeli produk-produk korea, memasang poster-poster korea, apakah orang Korea akan tertarik untuk berwisata ke Indonesia? Atau justru masyarakat Indonesia yang memiliki keinginan untuk jalan-jalan ke Korea? Apakah orang Korea akan mengenal budaya Indonesia? Atau malah bangsa kita menjadi pembebek budaya Korea alias generasi latah.  Sudah pasti, animo masyarakat akan hal yang berbau Korea semakin tinggi. Alih-alih membuat wisatawan Korea datang ke Indonesia, malah wisatawan Indonesia yang akan lebih tertarik untuk berkunjung ke Korea Selatan.

Berdasarkan data dari Korea Tourism Organization (KTO),  kunjungan wisatawan Indonesia ke Korea memiliki tren yang positif dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari jumlah wisatawan yang terus meningkat setiap tahunnya. Tahun 2018 lalu, terdapat sekitar 249 ribu wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea. Di tahun 2019, data kunjungan wisatawan Indonesia sampai bulan Oktober sudah mencapai angka 225 ribu wisatawan (visitkorea.com, 27/12/2019). Ini menunjukkan betapa besarnya antusiasme masyarakat Indonesia pada Korea Selatan, khususnya setelah masuknya Korean Wave ke Nusantara.

Kedua,  Wapres Ma’ruf Amin berharap budaya K-Pop dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia. Pernyataan Ma’ruf Amin soal K-Pop mendapat kritikan dari politikus Partai Gerindra, Ahmad Dhani.

Dikutip dari news.detik.com, Ahmad Dhani menyebut musisi Indonesia jauh lebih berkualitas ketimbang artis K-Pop dan tentu lebih kreatif. Menurut Dhani, yang dibutuhkan musisi Indonesia saat ini ialah dukungan dari pemerintah. Di Korea, disiapkan dana besar untuk memajukan musik nasional Korsel. Pemerintah Korsel serius untuk mengangkat industri musik Korsel menjadi masuk ke industri musik dunia (news.detik.com, 20/10/2020).

Selain itu, apabila kita amati gelombang Korean Wave memang tak hanya menyuguhkan para oppa dan eonnie berwajah glowing, mata lebar, wajah tirus, hidung mancung,  atau yang lebih dikenal dengan istilah “good looking”. Faktor utama kesuksesan K-Wave juga ditopang kolaborasi dukungan pemerintah Korea Selatan dan inovasi serta inisiatif dari sektor swasta. Nuansa sinergi antara pemerintah dan swasta dalam popularitas K-Wave sangat kental. Ibarat sepasang sepatu, pemerintah maupun swasta Korea saling beriringan dalam memajukan K-Wave untuk kemajuan ekonomi maupun diplomasi publik Korea Selatan.

Budaya Kpop dan Generasi Muda

Bagaimanapun juga, seorang pemangku kekuasaan, tidak sepatutnya menyarankan generasi muda untuk menjadikan budaya K-Pop sebagai inspirasi. Dari segi kacamata moral dan adat ketimuran saja sudah tidak selaras. Apalagi, jika dilihat dari kacamata syariat, terdapat disorientasi yang sangat transparan. Narasi yang diungkapkan oleh Wapres ini sungguh jauh dari panggang dari api. Pasalnya, budaya K-Pop yang banyak digandrungi generasi muda malah lebih banyak menimbulkan efek negatif ketimbang  positif. K-Wave yang disuguhkan dalam balutan lagu K-Pop dan Drakor, faktanya jauh sekali dari nilai-nilai ketimuran dan kesopanan, terlebih dari ajaran syariat.

Kehidupan para pelaku K-Wave yang hanya berorientasi pada kepuasan materi, benar-benar telah membutakan mata dunia dengan menjadikannya sebagai panutan. Semua yang hal yang ditampakkan dalam K-Wave, baik itu drakor, film, lagu-lagu (k-pop), makanan, budaya, kosmetik, fashion hingga kehidupan para pelaku industrinya seakan menjadi pijakan bagi para penggagum setianya. Terlebih jika melihat karakter generasi muda kita yang belum paham akan jati dirinya, tujuan hidupnya hingga standar baik dan buruk perbuatannya.  Wajar, ketika ada budaya asing yang masuk menjadikan generasi muda kita sebagai generasi latah dan generasi halu. Tak ayal, apapun yang berasal dari barat dipandang sebagai sesuatu yang mengagumkan bahkan layak untuk diikuti. Tak terkecuali, budaya K-Pop yang secara tegas mempromosikan budaya hedonis dan apatis bagi generasi muda.  Lebih mirisnya, generasi muda justru dengan bangga turut mensupport budaya asing tersebut menjadi semakin besar dengan memviralkannya.

Namun, dibalik ketenaran dan gelimang materi yang ditampilkan para pelaku K-Pop, tenyata menyimpan segudang problem yang menghantui pelakonnya.  Beban latihan yang di luar batas kewajaran, diet ketat yang menyiksa, kontra kerja layaknya perbudakan, pelecehan seksual yang tiada henti hingga tidak adanya ruang privasi, telah menyebabkan tekanan yang luar biasa hingga sampai batas yang tak bisa ditolelir lagi. Sehingga, menyebabkan para idol itu mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya.

Ironis, generasi muda yang harusnya menjadi ujung tombak perubahan masa depan bangsa, malah didorong untuk mengambil inspirasi dari K-Wave yang justru akan menjerumuskan generasi muda kedalam jurang hedonisme. Lantaran, K-Wave memang mengajarkan kehidupan serba bebas dalam mencapai kepuasan materi serta tidak memiliki arah tujuan yang jelas. Jika tujuan kehidupan saja mereka tak paham, bagaimana bisa menjadi inspirator kemajuan peradaban? Betul-betul inspirasi yang sarat halusinasi!

Sesungguhnya, K-Wave memang menghasilkan devisa besar bagi negara Korea, baik itu dari penjualan produk-produk korea maupun maraknya kunjungan wisatawan ke Negri Ginseng tersebut.  Tapi, patut disadari bahwa K-Wave telah mengekspor budaya kerusakan yang nyata ke seluruh dunia. Maka, layakkah K-Wave kita jadikan panutan bagi generasi muda? Bukankah seorang Muslim sudah punya panutan yang lebih layak untuk diikuti? Bukankah seorang Muslim juga sudah memiliki pedoman yang lebih layak untuk disebarluaskan? 

Jadilah Generasi Muslim Terbaik

Seorang Muslim harus menyadari posisinya sebagai makhluk Allah SWT. Allah SWT telah membuat aturan hidup bagi manusia agar dapat dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan dengan baik dan benar. Maka, sudah seharusnya sebagai Muslim mengambil semua aturan yang telah Allah buat dengan sempurna dan menyeluruh.  Selayaknya kita memperhatikan Firman Allah Ta’ala :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Artinya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.[TQS Al-Baqarah : 185]

Merujuk kepada ayat diatas, hanya Al-Quran sajalah yang pantas menjadi pedoman bagi kita  untuk mengambil  inspirasi-inspirasi kehidupan, termasuk dalam membangun suatu peradaban. Bagaimanapun, K-Pop dan drakor adalah inspirasi semu yang hanya menampilkan label fisik semata. K-Wave sudah jelas merupakan tsaqofah asing yang harus kita hadang, karena dapat mengikis akidah, menjauhkan generasi dari identitasnya sebagai seorang Muslim serta menjerumuskannya menjadi generasi latah semata.

Untuk itulah, jika ingin mencari panutan, maka ada panutan yang lebih layak dan lebih pantas bahkan tak ada tandingannya yaitu Rasulullah Muhammad SAW, yang merupakan utusan Allah. Semua yang ada pada diri Rasulullah adalah teladan terbaik bagi kita. Seharusnya umat Islam kembali pada identitas sejatinya, yaitu sebagai Muslim yang taat yang siap menyebarluaskan Islam secara utuh beserta budaya dan nilainya ke seluruh penjuru dunia.

Oleh sebab itu, sudah sepatutnya juga sebagai generasi muslim agar tidak terbawa arus dengan trend budaya K-Wave yang sangat jauh dari tuntunan syariat. Hendaknya, kita selalu memotivasi diri untuk lebih  memahami Islam, menguasainya dan mempromosikan ajaran Islam serta mengkampanyekannya sehingga menjadi sumber life style global.  Bukan malah menjadi genarasi latah dan generasi halu akan tsaqofah asing, yang jelas-jelas bertentangan agama Islam. Karena, sudah terbukti generasi muda dalam islam mampu memberikan sumbangsih terbaik bagi peradaban.[]

Wallahu’ a’lam bii showwab