September 15, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Kholid Mawardi

Entah siapa yang pertama kali memopulerkan ungkapan “Membiasakan kebenaran bukan membenarkan kebiasaan”. Siapa pun itu, bagi saya ungkapan tersebut sangat tepat dan sarat makna. Saya mencoba memahaminya sesuai dengan persepsi yang saya miliki.

Membiasakan kebenaran itu bermakna bahwa kita harus menjadikan standar kebenaran dalam hal apa pun, baik pikiran atau pun tindakan. Standar kebenaran seorang Muslim terikat dengan standar keimanan. Apa yang menurut Allah SWT dan Rasul-Nya benar, maka itulah kebenaran. Bukan yang lain.

Beda halnya dengan membenarkan kebiasaan. Banyak di antara kita yang menganggap hal yang sudah jamak dilakukan dan menjadi kebiasaan seolah itulah kebenaran. Padahal bisa jadi kebiasaan yang dilakukan itu justru melanggar aturan yang telah Allah SWT dan Rasul-Nya tetapkan.

Kebiasaan malas atau bahkan meninggalkan shalat misalnya, ini jelas hal yang dilarang. Tapi ada sebagian kaum Muslim yang seolah ‘membenarkan’ kebiasaan tersebut dengan berbagai dalih dan alasan. Sibuk lah. Repot lah. Dan akhirnya pun abai dengan ‘kebenaran’ yang harusnya dilakukan.

Atau kebiasaan bertransaksi ribawi, tidak menutup aurat, mengonsumsi khamr atau narkoba atau kebiasaan-kebiasaan lainnya yang sejatinya sebuah kekeliruan, tapi karena merasa itu sudah menjadi kebiasaan, maka dianggap lumrah dan wajar.

Atau lebih luas lagi dalam tata aturan kehidupan bernegara. Dengan alasan bahwa negeri ini sejak awal kemerdekaan sudah ‘sepakat’ mengambil sistem pemerintahan demokrasi dan sudah terbiasa dengan pola kehidupan sekular seperti ini, akhirnya kita pun membenarkan.

Padahal sebagai Muslim kita harus terikat dengan syariah yang telah Allah SWT turunkan. Dan itulah inti dari kebenaran.

Jadi, ungkapan “membiasakan kebenaran bukan membenarkan kebiasaan” maknanya adalah membiasakan diri untuk senantiasa menjadikan aturan Dzat Mahabenar Allah SWT sebagai standar dalam kehidupan. Bukan justru membenarkan kebiasaan-kebiasaan kita yang sejatinya merupakan kekeliruan.[]