April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Tyas Ummu Amira

Akhir pekan ini kabar memanas datang dari dua negara adidaya yang sedang berseteru. Mengutip Global Time, Partai Komunis China secara terang-terangan menyatakan bahwa Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) akan melakukan latihan besar-besaran untuk menghalau “provokasi AS pascapandemi”. Kapal induk, kapal perang, pesawat tempur, kapal anti bajak laut, seluruhnya dikerahkan dalam latihan militer tersebut sebagaimana dilansir dari Republika, Selasa (5/5/2020).

Di sisi lain, dilansir dari Viva, Sabtu (01/8/2020), menurut laporan yang dikutip VIVA Militer, China akan melakukan serangan balasan langsung jika terlibat insiden dengan militer Amerika. Bahkan, media China yang didukung Partai Komunis China (CPC) mewakili sikap pemerintah terkait langkah yang akan diambil di Laut China Selatan.

Beberapa fakta diatas dapat menunjukan bahwa konflik akan bergejolak, jika salah satunya melancarkan serangan. Sebab kejadian ini bukan kali pertama, aksi sebelumnya pun juga pernah terjadi. Misalnya, pada tanggal 3 April yang lalu  kapal penjaga pantai RRC menenggelamkan kapal nelayan Vietnam. Kemudian pada tanggal 16 April, kapal survei China, Haiyang Dizhi 8 menyambangi dan mengusik lokasi eksplorasi migas West Capella yang dilakukan Petronas. Lalu pada tanggal 18 April, tindakan China kembali membuat negara-negara di tepian Laut Cina Selatan kesal dan ikut mengklaim bagian yang sudah dicaplok China. 

Semua aksi China tersebut membuat Amerika serius untuk mengambil sikap. Wajar bila suatu saat nanti akan terjadi peningkatan konflik yang serupa, apabila saling mempertahankan dan mengklaim wilayahnya. Kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki juga akan dimungkinkan menghasilkan pertempuran. Karena, tidak diragukan lagi kekuatan militer kedua negara ini masing-masing mempunyai senjata yang dijadikan andalan.

Lantas kenapa Laut Cina selatan menjadi incaran berbagai negara, hingga saat ini sering terjadi sengketa dan konflik? khususnya persaingan antara Amerika dan China?

Jawabannya adalah karena Laut Cina selatan merupakan aset terpenting dan terkaya akan sumber daya alam, serta merupakan jalur perdagangan laut yang sangat strategis. Wajar saja jika banyak negara yang ingin mengusai dan memiliki dengan berbagai cara dan strategi, sebab menurut data ada  sekitar 11 miliar barel minyak yang belum dimanfaatkan, serta 190 triliun kaki kubik cadangan gas alam yang belum dieksploitasi di laut. (CNBC Indonesia, 25/07/2020)

Selain ada banyak cadangan minyak dan gas yang belum tereksploitasi―Laut China Selatan juga merupakan tempat bagi sumber penangkapan ikan yang melimpah. Menurut penelitian, di kawasan itu, tangkapan tahunan pada tahun 2012 mencapai sekitar 10 juta ton―itu sekitar 12 persen dari total tangkapan dunia yang bernilai sekitar 28 miliar dolar Australia. (Mata Mata Politik, 20/02/2019)

Amerika dan China akan saling berebut pengaruh dan kekuasaan dengan memenangkan ideologinya, yaitu untuk mengambil keuntungan di Laut China Selatan. Sedangkan, negara – negara ASEAN lainnya seperti Indonesia, Filipina, Thailand dan lainnya tak memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan mereka, karena tidak memiliki kedaulatan negara yang utuh. Belum lagi diikat dengan sikap ‘netral’ untuk menghormati perjanjian UNCLOS. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN memiliki kelemahan untuk menjaga kedaulatan, karena terkungkung dengan berbagai kebijakan negara penjajah -seperti AS dan China- termasuk jeratan hutang luar negeri.

Termasuk Indonesia, kedaulatan negaranya masih sangat rapuh dan lemah. Indonesia masih dipengaruhi cengkeraman ideologi demokrasi kapitalis, dimana negara penyokong modal akan lebih mudah untuk mengintervensi regulasi dan aturan yang akan disusun. Akhirnya, tidak akan bisa berkutik ketika wilayah teritorialnya di jajaki dan dirampas secara perlahan – lahan. Dan akan semakin terpuruk, dari sisi penguasaan sumber daya alam serta kedaulatan wilayah kekuasaan.

Sangat ironis bukan, ketika sistem demokrasi kapitalis ini telah merenggut sendi – sendi kehidupan bernegara. Para pemimpin negeri ini pun kehilangan taringnya, sebab sudah tak memiliki daya kekuatan apapun. Ketergantungan kepada AS ataupun China karena yang telah menyuplai semua kebutuhan pokok rakyat melalui perdagangan.

Beginilah wajah lusuh negeri yang berasaskan pada sistem buatan manusia yaitu kapitalis-demokrasi. Seluruh aspek kehidupan dipandang berdasarkan materi semata, dan asas sistemnya berdasarkan pada asas sekulerisme yaitu memisahkan nilai agama dengan kehidupan. Pantas saja kerusakan demi kerusakan tak terelakan, lantaran sistemnya memang tak sempurna dan cacat bawaan mulai dari lahirnya.

Oleh sebab itu, sudah seyogyanya negeri ini harus mengambil langkah jitu untuk bisa mengembalikan kedaulatan negara. Sistem yang mampu dan mumpuni menyelesaikan semua problematika kehidupan yaitu sistem Islam. Sistem Islam memiliki solusi yang komprehensif yang sudah teruji dalam sejarah abad keemasan dan kejayaan pada masa Daulah Islam berkuasa.

Lalu, bagaimana  Islam mengatur sistem pemerintahan kedaulatan negara? Sistem Islam menerapkan aturan berdasarkan dengan apa yang dibawa oleh nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah SWT dan penyampai risalah-Nya. Dalam setiap aturan yang Nabi terapkan, murni sepenuhnya bersumber dari wahyu Allah SWT.

Aturan di dalam Islam pasti memiliki banyak maslahat bagi kehidupan manusia. Seorang pemimpin negara juga akan memiliki sandar hukum yang akan digunakan untuk mengatur berbagai urusan, baik peraturan maupun undang-undang yang akan diimplementasikan. Inilah bentuk negara yang mencerminkan Daulah Islam, yaitu bersumber kepada Al-quran dan As-sunnah dalam melegislasi aturan. 

Kemudian tidak boleh ada intervensi dari negara asing apalagi negara kafir penjajah, sebab negara Islam akan mampu berdiri kokoh sesuai dengan sistem yang diembannya yaitu sistem Islam. Yakni, sistem yang dikelola dan dipimpin oleh orang-orang yang bertaqwa serta amanah dalam menjalankan tugasnya. Inilah yang membedakan sistem pemerintahan Islam (Khilafah) dari semua sistem negara lainnya, sebab sumber hukum Allah adalah hukum yang tertinggi untuk dijadikan sebagai acuan dan standar.

Demikianlah sistem Islam mengatur urusan negara dan memberikan aturan untuk menjaga kedaulatan negara. Islam dan pancaran sumber hukum syariahnya akan menyinari serta mengayomi semua umat manusia .

 Wallahu a’lam bis showab.