April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

(Hubungan Kesultanan Qadriah-Pontianak, Kesultanan Mempawah, Kesultanan Matan-Sukadana dan Kesultanan Banjar)

Pulau Kalimantan termasuk bagian dari Nusantara khususnya Kesultanan Qadriah, Pontianak, dan memiliki hubungan yang penting dengan Khilafah Turki Utsmaniyah. Pontianak, sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, telah berdiri Keraton Kadariah (Keraton Qadriah) sebagai istana Kesultanan yang dibangun pada dari tahun 1771 sampai 1778 masehi. Sayyid Syarif Abdurrahman Al-qadrie adalah sultan pertama yang mendiami istana tersebut.

Keraton ini berada di dekat pusat Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Sebagai cikal-bakal lahirnya Kota Pontianak, Keraton Qadriah menjadi salah satu objek wisata sejarah. Dalam perkembangannya, keraton ini terus mengalami proses renovasi dan rekrontuksi hingga menjadi bentuk yang sekarang ini.

Sosok Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie (1738-1808 M), masa mudanya telah mengunjungi berbagai daerah di Nusantara dan melakukan kontak dagang dari para Saudagar di berbagai negara. Ayah beliau Habib Husein Alkadrie, yang pernah menjadi hakim agama kerajaan Matan dan ulama terkemuka di Kerajaan Mempawah, wafat pada tahun 1770 M, yang mendorong Syarif Abdurrahman beserta keluarganya untuk mencari daerah pemukiman baru.

Berdirinya Kesultaan Qadriah ini tidak lepas juga dari pengaruh Kesultanan Mempawah, Kesultanan Matan-Sukadana, dan Kesultanan Banjar. Ketiganya merupakan bagian dari Kekhilafahan Turki Utsmaniyah, yang pada saat itu sudah menjalin hubungan dagang dan politik di Nusantara.

Sultan Suriansyah sebagai penguasa di Kesultanan Banjar tidak menganggap dirinya sebagai sultan yang terpisah dari kesultanan lain di Nusantara dan kekhilafahan di dunia islam yang berpusat di Turki. Menurut Sultan Khairul Saleh (Sultan Banjar saat ini), Sultan Suriansyah pernah berkunjung ke Istanbul, Turki. Kemungkinan besar hal itu dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada Khilafah Utsmaniyah. Sultan Suriansyah juga menganggap Kekhilafahan Islam di Turki sebagai payung/pemimpin puncak/imamah ‘uzhma. Sebagaimana Kesultanan Aceh di Sumatera dan Kesultanan Demak di Jawa (apahabar.com, 10 februari 2019).

Peranan dan pengaruh Kekhilafahan Islam di turki sangat terasa dalam hal pengamanan jalur atau rute ibadah haji dari Nusantara ke Haramain yang melalui Selat Malaka. Selain itu, pengiriman tentara ke Aceh untuk membantu Kesultanan Islam di Sumatera dalam rangka mengusir Portugis, hingga pengangkatan atau penganugerahan gelar Sultan kepada para sultan di Nusantara. Hal ini sudah cukup menunjukkan bahwa terdapat pengaruh politik Kekhilafahan Turki Utsmaniyah. Adapun pihak yang melakukan upacara penganugerahan adalah Syarif Makkah. Posisi Makkah adalah Kewalian (wilayah setingkat Provinsi), dan posisi Kesultanan Islam di Nusantara sebagai Ke’amilan (wilayah setingkat Kabupaten). Maka jadilah Kesultanan Islam bagian dari Khilafah Islamiyah.

Kesultanan Pontianak merupakan kesultanan termuda di kawasan Nusantara, bahkan di dunia, khususnya di Kalimantan Barat (Alqadrie, 1979:12). Kesultanan ini didirikan pada tanggal 23 Oktober 1771 (Rahman dkk, 2000). Kesultanan Pontianak dikenal dengan nama Kesultanan Qadriah, karena ia didirikan oleh dinasti Al-Qadrie. Pendirinya adalah Syarif Abdurrahman Al-Qadrie, putera Sayyed Hussein Al-Qadrie, atau Habib Hussein Al-Qadrie. (kalbariana.we.id, 22/02/2012)

Habib Hussein Al-Qadrie lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman Selatan pada tahun 1706. Beliau dibekali ilmu Islam dan ilmu pengetahuan umum dari gurunya Sayyid Muhammad Hamid di Kulandi, Al-Mukalla. Yaman Selatan adalah wilayah yang masih berada di bawah kekuasaan Khilafah Turki. Habib Hussein juga belajar ilmu pelayaran dan perdagangan dan bergabung dengan usaha pelayaran dagang di sekitar Teluk Persia sampai ke Kalkuta dan di pantai Barat Afrika.

Dari pengalamannya tersebut, Hussein muda terdorong untuk berlayar ke negeri Timur. Keinginan berlayar ini bukan sekedar untuk berdagang, tetapi lebih kepada untuk menyebarkan agama Islam dengan menjadi mubalig dan penyebar agama Islam. Inilah misi dakwah baik secara individu maupun Kekhilafahan Turki, yang juga pada saat itu mengirim berbagai juru dakwah ke berbagai penjuru dunia. Wali Songo merupakan bagian dari utusan tersebut yang dikirim ke negeri Timur, yaitu Nusantara.

Akhirnya, Habib Hussein tiba di Aceh, kemudian tinggal disana kurang lebih satu tahun dan mulai menyelusuri Pantai Timur Sumatera dan hingga tiba di Betawi dan menetap di sana kurang lebih 7 bulan, kemudian menetap di Semarang lalu melanjutkan perjalanan untuk mencari pemukiman yang cocok untuk tempat tinggal, yakni kawasan yang subur dengan hutan lebat menghijau. Kawasan tersebut adalah Pantai Barat Kalimantan Barat.

Habib Hussein didukung oleh Syech Salam Hambal untuk menuju Matan, Sukadana, salah satu Kesultanan Islam tertua di Kalbar. Di sini ia diterima penduduk setempat, disenangi murid-muridnya dan mendapat simpati dari keluarga kerajaan, hingga beliau diangkat menjadi Hakim atau Qadhi.

Habib Hussein menikah disana dan memperoleh 4 orang putera salah satunya adalah syarif Abdurrahman Alqadrie, yang kelak akan mendirikan Kesultanan Pontianak. Selama di Matan, Habib Hussein dikenal hingga sampai Kesultanan Mempawah dan Sambas. Akhirnya ia ditawarkan untuk pindah ke Mempawah oleh Raja Mempawah, Opu Daeng Manambon.

Syarif Abdurrahman Alqadrie, tumbuh seperti ayahnya. Ia pun berlayar hingga ke kerajaan Palembang dan Banjarmasin. Setelah setahun berada di Banjarmasin, pada tahun 1768 Abdurrahman Alqadrie mengawini puteri keturunan Raja Banjar, yang bernama Syarifah Anum, atau Ratu Syahranum. Perkawinan ini semakin memperkuat jalinan hubungan politik antara Kesultanan Banjar dan Kesultanan Mempawah, bahkan termasuk Kesultanan Matan. Jalinan tiga aliansi ini berdampak positif terhadap Abdurrahman Alqadrie untuk mendirikan pemukiman baru sekaligus mengusir dominasi kolonialisme barat yang ingin menguasai perdagangan di Nusantara.

Dalam pelayaran dan perjalannya mencari pemukiman baru, akhirnya Abdurrahman Alqadrie tiba di Batu Layang, 15 km dari muara Sungai Kapuas, dan melanjutkan perjalan sampai mendekati persimpangan tiga pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di daerah inilah Abdurrahman Alqadrie beserta rombongan menebang dan membersihkan pohon serta mendirikan surau yang kelak menjadi Masjid Jami’ sekaligus mendirikan Istana Kesultanan Qadriah Pontianak.

Walhasil, pengaruh Kesultanan banjar, Kesultanan Matan dan Kesultanan Mempawah, sangat mempengaruhi perkembangan Kesultanan Pontianak, dan semuanya memilki keterikatan secara religius yaitu Islam dan ikatan politik antara satu dengan yang lain terutama dengan Kekhilafahan Turki Ustmaniyah.

Namun, hari ini fungsi keraton hanya sekedar jadi romantisme sejarah. Lebih jauh lagi pengembangannya hanya sebagai tempat pariwisata. Berbagai opini negatif untuk mencitrakan bahwa Khilafah adalah sesuatu hal yang berbahaya dan membahyakan sudah dilakukan sejak dahulu. Khususnya setelah Khilafah Turki Utsmaniyah diruntuhkan pada tahun 1924 M serta pengaruh dari paham nasionalisme dan sekulerisme.

Wallahu’alam

Sumber :

[1] https://apahabar.com/2019/02/kesultanan-banjar-menjadi-bagian-khilafah-islamiyah-di-turki/

[2] https://www.kalbariana.web.id/kesultanan-qadariyah-pontianak-perspektif-sejarah-dan-sosiologi-politik-1/

[3] Anonim. 2009. Khilafah dan Jejak Islam. Kesultanan Islam Nusantara. Bogor : Pustaka Thariqul Izzah.