August 3, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Agustina (Aktivis Back To Muslim Identity)

Meningkatnya angka penularan covid menjadikan pemerintah melakukan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mulai dari tanggal 12 Juli Hingga 20 Juli. Penyekatan dilakukan selama 24 jam. Ini dilakukan untuk mengurangi mobilitas masyarakat dan mencegah kerumunan. Dengan penerapan PPKM darurat di kota-kota maka dilakukan penyekatan pada batas wilayah (Kompas.com, 9/7/2021).

Dampak dari diberlakukannya PPKM berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, sehingga dapat merugikan bagi pelaku usaha menengah ke bawah yang akhirnya harus menutup usahanya. Di tengah work from home, rakyat kembali dilema bagaimana cara mencukupi kebutuhan keluarganya karena tidak semua rakyat diberi bantuan. Rakyat resah antara di rumah atau harus berkerja karena perlu menghidupi keluarga yang tak dijamin oleh pemerintah.

Pada waktu yang bersamaan, di satu sisi rakyat harus PPKM tetapi di sisi lain TKA datang pada masa pandemi sungguh sangat ironi. Terdata sudah sebanyak 20 tenaga kerja asing (TKA) dari China tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Puluhan TKA China itu masuk Indonesia di tengah pandemi yang kini melanda negeri. Kedatangan pekerja asal China tersebut menjadi kontroversial lantaran saat ini pemerintah tengah menerapkan PPKM.

Sungguh sangat menyayat hati di saat anak negeri masih kebingungan mencari kerja pada masa pandemi, bahkan yang sudah berkerja pun mereka harus diliburkan dalam satu minggu kedepan karena situasi PPKM. Sedangkan gaji yang didapat sekadar hanya cukup untuk makan. Kabar duka terus menimpa rakyat karena kedatangan buruh kasar dari TKA China dan India yang masuk ke Indonesia. Padahal rakyat justru lebih membutuhkan pekerjaan karena banyak yang sudah kehilangan pekerjaannya.

Dilansir dari Kompas.com (14/7) kasus sebaran varian baru virus covid berasal dari kasus yang diimpor, didapatkan dari mobilitas orang dan perjalanan internasional. Walaupun TKA yang masuk ke Indonesia sudah mendapat pemeriksaan. Tetapi tidak menutup kemungkinan kontak langsung dengan TKA dapat menyebabkan terjangkiti varian of concern dalam hal ini virus penular relatif sangat tinggi. Dari sini terbukti kasus sebaran virus bukan berasal dari lokal melainkan dari impor. Seharusnya pemerintah mengambil langkah tegas dalam menanggani. Dengan melarang WNA masuk ke Indonesia selama penerapan PPKM darurat. Hal ini merupakan antisipasi varian virus baru dari luar negeri masuk Indonesia.

Hasil Dari Sistem Sekuler

Pada awal penanganan covid sudah jelas tidak ada keseriusan. Wajar kebijakan yang dibuat selalu mendapat kritik karena kurang tepat. Ketika banyak negara sudah terpapar covid, beberapa negara maju maupun berkembang mengambil keputusan untuk melockdown wilayahnya, tetapi Indonesia tetap membuka pintu pariwisata dan memberikan karpet merah kepada WNA masuk dengan mudah. Wajar, virus covid menyebar dengan cepat walaupun Indonesia dengan Cina, berjarak ribuan kilometer.

Melihat kondisi yang semakin darurat, tetap saja pemerintah tidak melakukan kebijakan karantina atau lockdown karena faktor utamanya adalah ekonomi. Hasil dari sistem sekuler telah menjauhkan kehidupan dari syariah Islam dalam menyelesaikan pandemi. Solusi yang dihasilkan berputar pada ekonomi karena nyawa bagi sistem ini hanyalah bagian dari faktor produksi yang tidak lebih penting dari faktor produksi lainnya, seperti modal.
Jelas akidah sekuler tidak pernah berpihak pada rakyat tetapi hal utama yang ingin diraih adalah materi. Rakyat dijauhkan dari Islam dan kehidupan diatur untuk memperoleh materi sebanyak-banyaknya khususnya bagi kaum bermodal. Kapitalisme dengan asas sekuleris akan terus menjadikan keselamatan ekonomi menjadi hal utama dibanding lainnya meskipun banyak nyawa yang menjadi korban.

*Islam Sebagai Solusi *

Ideologi Islam bukan hanya mengurusi perkara agama saja. Tapi Islam mengatur secara menyeluruh dari bangun tidur sampai bangun negara. Artinya aturan Islam sebagai tolak ukur dalam segala keputusan dan pemberlakuan aturan yang benar. Seperti halnya pada bidang perekonomian, pendidikan, bahkan bidang kesehatan diatur dengan tepat. Nyawa umat wajib dijaga hingga pada suatu hari tidak ada seorangpun yang masuk rumah sakit, karena warganya sehat semua.

Pertarungan antara yang hak dan batil adalah abadi selama masih ada kehidupan dunia. Hal ini sangat terlihat jelas saat Islam bukan lagi menjadi pandangan hidup. Padahal Islam mengajarkan bahwa pemimpin merupakan pelayan umat untuk menjalankan syariat. Nyawa di dalam Islam sangat berharga, sangat dijaga dan dilindungi. Di dalam hadist sudah menjelaskan bahwa nyawa adalah adalah anugrah Allah SWT:

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Hadist di atas menilai nyawa begitu tinggi, maka seharusnya pemerintah mengutamakan nyawa rakyat. Berkaitan dengan pandemi covid, sejarah Islam pernah mencatat bagaimana syariat menangani wabah yaitu dengan cara mengkarantina wilayah. Hal ini dilakukan sejak awal sehingga wabah tidak tersebar kemana-mana.

Pada saat karantina, pemerintah wajib menjamin hak rakyat yaitu memberikan kebutuhan makanan untuk warganya dan melarang masyarakat untuk keluar atau masuk ke wilayah tersebut. Maka dapat dipastikan covid tidak akan menyebar kemana-mana dan dapat membasmi virus covid karena sudah diatasi sejak awal. Namun, hal ini hanya mampu diterapkan saat negara dibangun berdasarkan Islam sebagaimana di masa Rasulullah dan dilanjutkan Khalifah selanjutnya, yaitu dengan Daulah Khilafah.[]

Wallahu’alam Bisshowwab