August 2, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Kusuma Dewi, M.Pdi (Intelektual Muslimah)

Diduga stres karena kondisi ekonomi, Seorang Ibu gelap mata sehingga tegah membunuh ketiga anak kandungnya. Usai membunuh ketiga anaknya wanita berusia 30 tahun itu sempat beberapa kali coba bunuh diri dengan cara menyayat lehernya sendiri dengan menggunakan parang, namun berhasil digagalkan karena dihalangi atau diselamatkan oleh suaminya, Nofedi Lahagu alias Ama Fina, dan hanya mengalami luka pada bagian leher depan. Setelah kejadian tersebut, MT tidak mau makan. Setiap diberi makanan, dia muntah-muntah yang akhirnya meninggal dunia. (Viva.co.id, 13/12/2020)

Tidak jauh beda di daerah lain, sebagaimana dikutip dari Kompas.TV (15/9), seorang ibu tega menganiaya anak perempuannya hingga tegas, gara-gara si anak tak mengerti saat belajar melalui daring. Kedua orang tua anak tersebut sempat membuat laporan kehilangan anak untuk mengelabui polisi. Namun, Peristiwa ini terbongkar setelah warga setempat menemukan gundukan tanah yang masih basah dan terungkap terdapat jenazah seorang anak.

Membaca kedua berita di atas dengan jarak kejadian hanya 2 bulan saja, membuat hati menjadi miris. Betapa tidak, kejahatan tidak lagi berasal dari orang yang tidak dikenal, namun dapat terjadi dari orang terdekat sendiri yang seharusnya menjadi pelindung anak dan keluarga.

Kedua kasus di atas dikarenakan sistem yang salah yaitu sistem demokrasi dan kapitalisme yang berasaskan kepada Sekulerisme. Sistem salah ini akan terus memproduksi kerusakan. Mengapa sekulerisme selalu menimbulkan dan mendatangkan masalah?

Karena sekulerisme telah mengikis naluri ibu. Pemahaman dan pemikiran seorang ibu terbebani dengan paradigma yang memandang segalanya berorientasi materi, menggiring manusia berpikir secara instan, menomorduakan agama, dan menjunjung tinggi kebebasan. Tidak heran bila keluarga kehilangan pondasi ruhiyah. Peran keluarga menjadi pincang. Pasangan hanya menuntut haknya tanpa melaksanakan kewajibannya.

Pandangan yang selalu mengarah kepada materi inilah dikarenakan sistem ekonomi kapitalisme. Setiap orang berlomba-lomba untuk memenuhi kebutuhan hidup pokoknya. Padahal tidak setiap orang mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Ada orang yang secara fisik dan akal lemah, dan ada juga yang memang secara kondisi tidak mampu. Dalam konsep kapitalisme, masalah tersebut cukup diberikan bantuan sekedarnya kemudian mereka dipaksa lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Di sisi lain, dalam konsep demokrasi, negara tidak menjalankan peran dan fungsinya sebagai penyangga keluarga. Di dalam sistem demokrasi, negara melepaskan tanggung jawab pemenuhan kebutuhan ekonomi diserahkan kepada orang per orang. Negara tidak wajib menjamin kebutuhan hidup setiap masyarakat. Untuk menjaga keberlangsungan sistem kapitalisme ini maka negara membuat UU yang menjaga kepentingan para kapital yang berasal dari buah akal manusia.

Ketiadaan jaminan kesejahteraan pada ibu dan berbagai kebijakan negara justru semakin menambah berat beban masalah ibu. Alih-alih menjadi pelindung dan penjaga naluri dan kewarasan ibu. Negara justru jadi sumber pemicu terkikisnya naluri dan kewarasan ibu. Wajar saja, ibu dan anak akan selalu mejadi korban, baik karena tuntutan masalah ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Semuanya di ukur berdasarkan materi.

Sejatinya sekularisme sendiri yang tumbuh di dunia Islam adalah produk imperialisme Eropa. Pada abad ke-19 M, negara-negara Barat yang menjajah negara-negara Islam membawa sebuah ideologi – yang menjadi kepanjangan budaya asing – bernama sekularisme. Sekularisme berfungsi sebagai ideologi yang dipaksakan dari luar oleh para penjajah.

Negara sekuler menghapus kesultanan yang bersifat politik dan kekhalifahan yang bersifat keagamaan. Kalender Islam diganti dengan kalender masehi. Tulisan Arab tak lagi digunakan dan diganti dengan tulisan Latin. Muslimah tak boleh lagi mengenakan jilbab. Tetapi yang lebih parah, pemikiran dan pemahaman terhadap Islam dibuat kabur hingga semakin hilang.

Padahal dalam pandangan Islam wajib menempatkan ibu pada kedudukan yang mulia. Peran mulia ini sejatinya dapat diraih ketika ia berada dalam fitrahnya, yaitu sebagai pendidik utama dan pertama anak-anaknya. Mendidik anaknya bukan dengan kebencian, tapi dengan cinta dan kasih sayang. Sebab anak merupakan titipan Allah Ta’ala.

Sedangkan negara yang menjadikan Islam sebagai pondasi dalam kehidupan bernegara, akan menjadi perisai bagi ibu, sekaligus pencetak para ibu dan calon ibu hebat. Tujuan pendidikan tidak hanya ditujukan untuk melahirkan calon pemimpin, tapi juga calon ibu generasi. Negara lah yang menyediakan sarana dan prasaran termasuk kebutuhan pokok seorang ibu agar dapat melahirkan generasi yang unggul.

Sesungguhnya, negara memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi ibu. Karena negara mengambil peran besar dalam mengatur dan menentukan kebijakan. Baik dalam upaya preventif maupun kuratif untuk mengatasi problematika masyarakat. Jika kondisi lingkungan ibu menjadi baik, maka fitrah ibu pun akan terjaga.

Negara yang dirindukan ini, tentunya bukan negara yang mengemban ideologi sekularisme. Bukan juga negara yang menerapkan demokrasi dan kapitalisme. Tapi negara yang menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, yaitu khilafah ‘ala minhajinnubuwwah.

Khilafah wajib menerapkan Islam yang akan memberikan solusi bagaimana menjamin pemenuhan kebutuhan dasar setiap rakyat dan menjamin pemenuhan kebutuhan pendidikan dengan aturan Islam. Sekaligus menjamin terciptanya generasi-generasi unggul untuk membangun peradaban. Insya Allah.[]

Wallahu a’lam bishshawaab.