November 9, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Khairani (Aktivis Back To Muslim Identity)

Sejarah telah mencatat dengan tinta emasnya, bahwa Islam merupakan agama sekaligus imperium terbesar yang pernah tegak di atas muka bumi ini. Pernah melahirkan para ilmuwan terkemuka yang pengaruhnya masih dirasakan di masa modern saat ini. Para pemimpinnya sangat disegani dan kesatria-kesatrianya membuat lawan gemetar ketika berhadapan dengannya. Namun, sangat jauh jika dibandingkan dengan realita sekarang. Dimana umat Islam telah kehilangan wibawanya, ajarannya dimonsterisasi, bahkan seringkali ulama-ulamanya dikriminalkan.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, sejumlah media asing tampak menyoroti suara azan di DKI Jakarta yang dianggap berisik. Dilansir dari laman poskota.co.id pada Jum’at (15/10/2021), media asing AFP telah melaporkan salah satu warga Jakarta, bangun tiap pukul 03.00 pagi karena pengeras suara yang begitu keras dari masjid di pinggiran Jakarta saat azan berkumandang. Media lokal Prancis, RFI, juga turut melaporkan hal serupa. Menurut laporannya, keluhan soal pengeras suara yang bising semakin meningkat di media sosial.

Tak hanya itu saja, azan yang merupakan kalimat sakral umat Islam pun kerap dijadikan sebagai bahan lelucon. Seperti yang pernah terjadi beberapa waktu yang lalu pada salah satu program televisi di Korea Selatan melakukan remix terhadap potongan azan. Dan umat Islam tak berdaya untuk membela hal tersebut.

Inilah yang terjadi pada umat Islam beserta ajarannya sekarang. Faktanya pula saat ini banyak yang sudah tidak segan lagi untuk meremehkan bahkan mengkriminalkan ajaran Islam. Sampai-sampai media asing pun menyampaikan keberatannya terhadap suara azan dan mengekspos pandangan negatif terhadap syiar Islam di negeri dengan penduduk mayoritas muslim ini.

Di saat yang sama di negeri muslim minoritas, Al-Qur’an tak boleh diakses dan perangkat teknologi dibatasi untuk menyajikannya. Seperti Quran Majeed yang merupakan salah satu aplikasi Al-Qur’an paling populer di dunia, yang dihapus oleh App Store di China karena dianggap aplikasi tersebut menampung teks-teks keagamaan ilegal. Padahal aplikasi ini memiliki hampir satu juta pengguna di China dan digunakan oleh jutaan Muslim di dunia, serta memiliki hampir 150.000 ulasan. (Suara.com, 16/10/2021)

Akibat Ketiadaan Khilafah

Azan yang dianggap sebagai hal yang mengganggu serta aplikasi Al-Qur’an yang dibatasi aksesnya, hanyalah sedikit fakta diantara sekian banyak ajaran maupun syiar Islam yang dianggap perkara mengganggu. Belum lagi umat Islam yang masih terjajah di berbagai negeri-negeri muslim, dan ajaran Islam yang dijauhi dan dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, serta masih banyak umat Islam yang menyimpang dari ajarannya, yang tidak lain merupakan korban karena hidup di dalam sistem yang memsahkan Islam dari kehidupan atau sekuler.

Semua ini akibat dan dampak umat yang tidak punya wibawa dan tidak adanya pemimpin yang menerapkan Islam secara kaffah. Islam merupakan aturan dari Allah SWT, yang tidak lagi dijadikan sebagai aturan untuk mengatur setiap sendi kehidupan, melainkan sudah diganti dengan aturan yang dibuat oleh akal manusia yang terbukti lemah.

Hal ini terjadi karena negara Khilafah yang merupakan institusi pemerintahan yang memiliki kewajiban menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan telah diruntuhkan pada 3 Maret 1924. Sehingga, tidak ada lagi institusi atau negara yang menerapkan Islam Kaffah dan menyerukannya ke seluruh penjuru dunia. Akibatnya, kini umat Islam kehilangan pemimpin yang dapat menjaga dan melindungi kehormatan umat dan syiar Islam.

Begitulah yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Iqtishad fi Al-I’tiqad, “Agama adalah pondasi, sedangkan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu tanpa pondasi akan roboh, dan sesuatu tanpa penjaga akan hilang.”

Tanpa adanya kekuasaan (negara), Islam hanya diterapkan pada ranah individual, Islam hanya dipahami sebatas pada aspek spiritual. Padahal Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, yang mampu mengatur seluruh kehidupan karena berasal dari Sang Pencipta kehidupan. Ketika diterapkan akan menghasilkan keberkahan, tetapi ketika dicampakkan yang terasa hanyalah kenistaan. Sehingga, tanpa adanya Khilafah hilanglah perlindungan terhadap umat dan tiada penghormatan terhadap simbol dan syiar Islam.

Berjuang Menegakkan Khilafah

Maka dari itu, jika kita ingin mengembalikan wibawa Islam dimata dunia, kita harus berjuang untuk menegakkan kembali institusi yang menerapkan Islam kaffah yang mampu untuk melindungi kehormatan umat, simbol serta syiar Islam, dan Institusi tersebut bernama Khilafah.

Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Allah dan Rasul-Nya pun telah berjanji dan memberikan kabar gembira kepada kita, bahwa Khilafah akan kembali tegak dan kemenangan akan diraih oleh kaum muslimin.

Allah SWT berfirman, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 55)

Setelah Khilafah diruntuhkan, begitu besar reaksi yang umat Islam berikan. Meskipun sudah seabad runtuhnya Khilafah, namun tetap tidak menyurutkan semangat dan kerinduan kaum muslimin terhadap Khilafah. Perjuangan menegakkan Khilafah tidak akan pernah berhenti, sampai janji itu terwujudkan. Hal ini terbukti dengan hadirnya kelompok-kelompok dakwah yang senantiasa memperjuangkannya. Semoga Allah meridhai kita semua menjadi bagian dari para pejuangnya.[]

Wallahu a’lam bish-shawab