September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi

Tanya :
Ustadz, bagaimana kalau kita sedang puasa, lalu kita diundang ke acara walimah dan ditawari makan oleh pihak pengundang. Apakah puasanya kita batalkan atau bagaimana? (Hamba Allah, Makassar).

Jawab :
Terdapat rincian (tafshiil) hukum syara’ untuk menjawab pertanyaan di atas sbb :

Pertama, jika puasanya adalah puasa yang hukumnya wajib, misalnya puasa untuk meng-qadha` utang puasa Ramadhan, puasa nadzar, atau puasa kaffarah, maka tidak boleh orang yang diundang walimah itu membatalkan puasanya kemudian makan hidangan di walimah tersebut.

Hal itu karena meski memenuhi undangan walimah itu sendiri hukumnya wajib, selama tidak ada kemungkaran dalam walimah, seperti ikhtilath (campur baur undangan laki-laki dan perempuan), tetapi memakan hidangan walimah hukumnya sunnah, tidak wajib. Maka jika yang diundang itu sedang berpuasa wajib, dia tidak boleh membatalkan puasa wajibnya itu.

Dalilnya adalah hadits yang menunjukkan sunnahnya memakan hidangan walimah. Rasulullah SAW bersabda :

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ، فَلْيُجِبْ، فَإنْ كَانَ صَائِمًا، فَلْيُصَلِّ، وَإنْ كَانَ مُفْطِرًا، فَلْيَطْعَمْ

”Jika diundang salah satu dari kamu [untuk suatu jamuan makan] maka hendaklah dia memenuhi undangan itu. Jika dia berpuasa, hendaklah dia mendoakan [keberkahan], dan jika dia tidak berpuasa, hendaklah dia makan.” (idzâ du’iya ahadukum falyujib, fa in kâna shâ`iman fal-yad’u, wa in kâna mufthiran fal-yath’am). (HR Muslim, no. 1431, dari Abu Hurairah RA).

Dalam hadits ini terdapat perintah (amar) untuk memakan hidangan walimah, yaitu sabda Rasululullah SAW,”Dan jika dia tidak berpuasa, hendaklah dia makan” (wa in kâna mufthiran fal-yath’am).

Tetapi perintah (amar) ini tidaklah bersifat jazim (tegas), yaitu wajib, karena terdapat petunjuk (qarinah) dalam hadits lain, bahwa orang yang diundang boleh memilih antara makan atau tidak makan. Rasulullah SAW bersabda :

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلىَ طَعَامٍ فَلْيُجِبْ فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ

”Jika diundang salah satu dari kamu untuk suatu jamuan makan, maka hendaklah dia memenuhi undangan itu. Jika dia berkehendak, dia makan, dan jika dia berkehendak dia tidak makan.” (idzâ du’iya ahadukum ilâ tha’âmin falyujib, in syâ’a tha’ima wa in syâ’a taraka). (HR Muslim, no. 1430, dari Jabir bin Abdillah RA).

Jelaslah bahwa memakan hidangan walimah itu sunnah. Inilah pendapat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. (Hâsyiyah Ibnu ‘Âbidin, 6/347; Hâsyiyah Ad Dasûqi ‘Ala Al Syarah Al Kabîr, 2/338; Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfatul Muhtâj, 7/434; Al Buhûti, Syarah Muntahâ Al Irâdât, 3/33).

Maka ketika yang diundang walimah sedang menjalankan puasa wajib, dia wajib meneruskan puasanya dan tidak boleh memakan hidangan. Karena ketika yang wajib bertemu dengan yang sunnah, maka yang didahulukan adalah yang wajib, sesuai kaidah fiqih : al wâjib yuqaddamu ’alâ al mandûb (yang wajib haruslah didahulukan daripada yang mandub / sunnah). (Syihâbuddin Al Qarâfi, Anwâr Al Burûq fi Anwâ’ Al Furûq, Juz I, hlm. 573).

Kedua, jika puasanya adalah puasa yang hukumnya sunnah, seperti puasa enam hari di bulan Syawal, atau puasa Senin dan Kamis, atau puasa Daud, dan sebagainya, maka orang yang diundang itu boleh memilih antara terus berpuasa atau memakan hidangan. Sabda Rasulullah SAW :

اَلصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيْرُ نَفْسِهِ ، إِنْ شَاءَ صَامَ، وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ

”Orang yang berpuasa sunnah adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, jika dia berkehendak dia terus berpuasa, jika dia berkehendak, dia boleh berbuka [membatalkan puasa].” (HR Tirmidzi, no. 728, dan Ahmad, no. 25658, dari Ummu Hani` RA).

Manakah yang lebih afdhol? Bagi pihak yang diundang, jika tidak menyinggung perasaan pihak pengundang, yang afdhol adalah meneruskan puasa. Namun jika menyinggung perasaan pengundang, yang afdhol adalah makan hidangan. Karena bisa jadi pihak pengundang bertanya-tanya dalam hati jika ada tamu yang tidak makan hidangan,”Apakah harta saya haram?” Sementara bagi pengundang, sebaiknya tidak mendesak tamu untuk memakan hidangan. (Ibnu Taimiyah, Al Ikhtiyârât, hlm. 241). Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 21 Juni 2021

M. Shiddiq Al Jawi

Artikel Lain
http://fissilmi-kaffah.com/index/tanyajawab_view/424