October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Nur Rahmawati, S.H. — Praktisi Pendidikan, Sampit

“Mempertimbangkan kesenjangan gender di pasar kerja kita saat ini, kementerian saya, bersama dengan semua mitra sosial kami dan organisasi internasional, terus mendorong aksi bersama menentang diskriminasi berbasis gender di tempat kerja. Ini saatnya bagi perempuan dan laki-laki untuk dihargai secara setara berdasarkan bakat, hasil kerja dan kompetensi, dan bukan berdasarkan gender,” ungkap Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah dalam pernyataan pers yang dibagikan UN Women dilansir dari Kumparan.com, Sabtu (19/9/2020).

Inilah basa-basi  khas sistem sekuler. Mengatasi masalah kaum perempuan dengan pragmatis, tanpa melihat akar permasalahannya, sehingga akan menambah masalah baru. Fakta kesenjangan upah diselesaikan dengan  seremoni peringatan Hari Kesetaraan Upah, ini tentu tidak menyelesaikan masalah. Terlebih jika dalih kesetaraan upah yang akhirnya mengeksploitasi perempuan, akhirnya berdampak pada tergerusnya moral perempuan. Lebih jauh lagi abai terhadap perannya sebagai seorang ibu. Yakni mendorong perempuan bekerja  tanpa khawatir terhadap kesenjangan upahnya.

Selain itu, peran wanita sebagai istri dan ibu akan nampak samar. Apabila wanita telah menjadikan bekerja di luar sebagai suatu keharusan, bahkan hambatan (peran domestik) untuk terjun ke semua jenis pekerjaan telah dihilangkan maka peran negara akan hilang. Agar tidak menuntut bahwa negara harus menjamin kesejahteraannya. Inilah yang diharapkan oleh sistem Kapitalisme-Sekularisme. Padahal kesejahteraan wanita bagian dari tanggung jawab negara.

Jika dilihat dari segi kapital, memang ini menjadi angin segar bagi wanita. Menyetarakan upah dengan laki-laki. Padahal bukan itu yang jadi permasalahan. Namun yang jadi masalah adalah peran wanita terabaikan sebagai pengurus rumah tangga yang utama, memberikan pendidikan akhlak, agama kepada anak dan bagaimana kelak mereka dipersiapkan menjadi orang yang siap terjun di masyarakat dan berguna bagi banyak orang. Peran penting mencetak generasi unggul tidak bisa didapat oleh sistem demokrasi. Di sisi lain mengingat banyak angka perceraian terjadi, salah satu diantaranya peran wanita di rumah tangga telah hilang.


Pada sistem demokrasi selalu menyandarkan pada kepentingan kapital saja, dan abai terhadap fitrah wanita yang sesungguhnya. Hal ini bisa kita jumpai banyak undang-undang yang mengeksploitasi para wanita, seperti UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Di dalam undang-undang ini kental sekali dengan penerapan empat kebebasan seperti kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berprilaku dan kebebasan kepemilikan.

Berkenaan dengan kesetaraan maka masuk dalam ranah kebebasan berpendapat dan berprilaku. Apabila kita runut standar kebebasan ini maka bersandar pada nafsu manusia. Dampak akbiatnya tidak saja pada tatanan kelurga dan masyarakat bahkan berdampak bagi negara. Padahal kita tau bahwa fitrah wanita bukanlah mencari nafkah tetapi sebagai pengurus rumah tangga yang berperan penting dalma mencetak generasi hebat.

Berbeda dengan sistem Islam, Islam memiliki seperangkat aturan untuk menempatkan wanita pada posisi yang strategis dan penting. Islam menjamin kesejahteraan perempuan.
Maka dari itu mesti disadari bahwa sebuah kebutuhan mendesak bagi perempuan adalah menjadikan mereka pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.

Selain itu bagaimana seharusnya perlakuan suami terhadap istrinya? Islam menjawab dengan tauladan Rasulullah saw, bagaimana beliau saw. memuliakan wanita melebihi sistem manapun. Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap istrinya. Aku adalah yang terbaik perlakuannya terhadap istri di antara kalian.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban). Begitu pula Rasulullah Saw. pernah menyebutkan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu (HR. An-Nasa’i). Begitulah kemuliaan wanita dalam pandangan Islam.


Islam juga memiliki peran menuntaskan masalah upah dan peran wanita sebagaimana yang telah digambarkan sebelumnya dengan kesadaran pemikiran yang melingkup tiga aspek yakni;


Pertama, menyadarkan bahwa sudut pandang yang menyeluruh tentang tatanan sistem kehidupan yang mendasari manusia dalam berbuat adalah dengan Islam. Maka dengan memahami ideologi yang benar yang akan menjadikan landasan berfikir, berbuat atau bertindak hanya dengan ideologi Islam. Tentu Ideologi Islamlah yang sempurna karena datangnya dari Allah SWT.


Kedua, memahamkan bahwa limpahan materi bukan tujuan utama dalam hidup, bahkan bukan jaminan kebahagiaan. Tetapi kebahagiaan adalah menggapai Ridho Allah SWT sebagai pondasi kebahagiaan dunia dan akhirat. Akhirnya manusia akan menyandarkan hidupnya sesuai dengan apa yang Allah perintah dan apa yang dilarang.


Ketiga, menyadarkan bahwa peradaban dunia yang memuliakan manusia hanya dapat diraih dengan Islam. Oleh karena itu menjadikan sistem Islam sebagai pondasi kehidupan baik dalam lingkup individu, masyarakat maupun negara adalah solusi untuk membangun peradaban dan menghentikan kebobrokan sistem Kapitalisme-Sekuler. Demikianlah Islam menjadikan wanita mulia dengan peradabannya yang gemilang. Sudah sepantasnyalah mengambil sistem ini untuk perubahan yang hakiki.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.