December 6, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Fitri Khoirunisa,A.Md ( Aktivis Muslimah )

Setiap tahun Indonesia tidak pernah luput dari genangan banjir. Dari banjir yang menenggelamkan rumah warga hingga banjir bandang yang menyapu apa saja yang di lintasinya diikuti bencana longsor dan gempa. Apakah banjir ini bencana biasa? Tentu tidak, karena kejadiannya terus berulang. Banjir terus terjadi setiap tahunnya dikarenakan bentuk abainya pemerintah dalam menangani banjir.

Pemerintah Aceh utara beberapa hari lalu sudah menetapkan status darurat banjir. Lebih dari 41.000 penduduk terpaksa mengungsi dari rumahnya. Sebagian korban dilaporkan mulai terserang penyakit. Ribuan hektar sawah mereka pun terancam hancur dan gagal panen. Sementara itu, beberapa tanggul jebol, jembatan dan berbagai fasum rusak berat, tentu saja akan butuh waktu lama untuk bisa memperbaiki itu semua.

Kondisi seperti ini juga terjadi di wilayah Aceh lainnya, mulai dari Sabang, Lhokseumawe hingga Aceh Timur. Sementara itu, di Jawa, banjir terjadi di banyak titik. Yang terbesar terjadi di Kabupaten Lebak, Pandeglang, dan Tangerang di Provinsi Banten. Banjir juga terjadi di Jawa Timur, Jakarta, Sukabumi, Bogor, dan Bandung. (Katadata.co.id, 6/10/2022)

Kemudian beberapa tempat di Bali, Maluku, Sulawesi, dan Papua juga tidak luput dari bencana banjir. Sementara di Kalimantan, banjir terjadi nyaris di seluruh wilayah. Padahal pada bulan lalu, wilayah ini sudah terendam air selama beberapa pekan, dan sekarang terjadi lagi.

Tidak hanya kerugian material saja yang di dapat oleh masyarakat namun banjir kali ini juga memakan korban jiwa. Di Bali tercatat 5 orang tewas. Di Jakarta Selatan, 4 siswa MTSN 19 Pondok Labu, Jakarta Selatan tewas tertimpa tembok sekolah yang diterjang banjir dan beberapa siswa luka-luka. Di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan lain-lain juga tercatat ada beberapa korban jiwa.

Badan Meteorologi di laman resminya mengabarkan Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa potensi cuaca ekstrem telah terjadi sejak 2 hingga 8 Oktober 2022. Namun, dinamika atmosfer ini diprediksi akan berlanjut hingga sepekan ke depan, yaitu mulai 9-15 Oktober 2022. Bahkan menurut Kepala BMKG, puncak cuaca ekstrem akan terjadi pada Desember nanti.

Indonesia memang termasuk wilayah potensial bencana, terutama banjir. Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang periode 1 Januari hingga 9 Oktober ini saja, sudah terjadi 2.718 kali bencana alam di Indonesia. Di antaranya, bencana banjir terjadi 1.083 kali, tanah longsor 483 kali, dan cuaca ekstrem 867 kali. Sisanya, bencana berupa kebakaran hutan, gempa bumi, gelombang pasang, dan abrasi.

Faktor cuaca, seperti adanya fenomena La Nina, peningkatan suhu permukaan laut, perubahan pola angin, dan lain-lain sering disebut-sebut sebagai penyebab utama banjir. Dalam hal ini, intensitas hujan yang tinggi, durasi lama, dan frekuensi yang sering berpeluang besar menimbulkan bencana hidrometeorologi. (Muslimahnews.net)

Masalahnya, bencana banjir ini bukan perkara baru yang kita alami. Nyaris setiap musim penghujan bencana banjir pasti jadi langganan. Risiko ekonomi dan sosial yang ditimbulkan pun sudah tidak terhitung lagi. Sementara masyarakat dipaksa menerima keadaan, dengan dalih semua terjadi lantaran faktor alam.

Padahal, penyebab banjir tidak semata faktor alam. Ada banyak hal yang harus dievaluasi dari perilaku manusia, utamanya terkait budaya dan kebijakan struktural dalam pembangunan. Begitupun dengan dampak yang ditimbulkan. Seringkali negara gagap melakukan mitigasi bencana sehingga berbagai dampak tidak terantisipasi sebaik-baiknya.

Para penguasa sejauh ini malah sibuk berpolemik saat bencana sudah terjadi. Alih-alih mencari solusi, masing-masing sibuk mencari kambing hitam, bahkan menjadikannya sebagai bahan untuk saling serang. Wajar jika PR soal banjir tidak pernah kelar. Bahkan eksesnya makin besar dan sulit diselesaikan.

Sejatinya, dunia ini butuh sistem Islam karena paradigma sistem Islam bertentangan secara diametral dengan sistem kapitalisme yang diterapkan sekarang. Dalam sistem kapitalisme, kebijakan penguasa yang merepresentasi kepentingan para pemilik modal justru jadi sumber kerusakan, sementara sistem Islam lahir dari keimanan dan ketundukan pada Zat Pencipta dan Pemelihara seluruh Alam.

Bencana tidak dapat di tangani hanya dengan mengandalkan kebijakan dari sistem kapitalis ini, karna pemerintah kapitalis hanya mempertimbangkan keuntungan diri ketimbang nyawa warganya. Berbeda dengan ajaran Islam, yang benar-benar mengajarkan harmoni dan keseimbangan. Adab terhadap alam bahkan dinilai sebagai bagian dari iman. Fungsi kekhalifahan adalah refleksi dari fungsi penghambaan, maka siapa pun yang melakukan kerusakan terhadap keseimbangan alam dianggap sebagai pelaku kejahatan dan dinilai sebagai bentuk kemaksiatan.

Penguasa dalam Islam betul-betul berperan sebagai pengurus dan penjaga umat. Semuanya bisa berjalan saat syariat Islam diterapkan secara keseluruhan. Syariat inilah yang mengatur halal haram, alias yang boleh dan terlarang hingga kerahmatan bisa dirasakan oleh seluruh alam.

Islam misalnya, menetapkan sumber daya alam termasuk hutan, sungai, dan tambang sebagai milik rakyat. Islam mengatur soal penggunaan tanah dan pentingnya memperhatikan tata ruang. Lalu memberikan kewenangan pengelolaannya kepada negara sebagai pemelihara urusan rakyat, seraya dengan tegas melarang eksplorasi dan eksploitasi secara serampangan sebagaimana biasa dilakukan dalam sistem sekarang.

Itulah kenapa saat sistem Islam ditegakkan, tidak pernah terjadi bencana yang penyebabnya di luar faktor alam. Oleh karena itu, seluruh bencana yang terjadi pada masa itu statusnya benar-benar sebagai musibah dan ujian, bukan dampak dari kerakusan dan niradab manusia terhadap lingkungan.

Wajar jika musibah seperti ini justru memberi hikmah yang banyak, terutama membuat umat manusia makin dekat kepada Allah Taala. Bukan malah menambah jauh umat manusia dari syariat Rabbnya. Juga membuat penguasa lebih bersungguh-sungguh mengurus rakyatnya. Dengan mengerahkan segenap kemampuan untuk mencegah terjadinya bencana, dan melakukan mitigasi sebaik-baiknya saat bencana tidak terhindarkan. Sebagaimana tampak ketika Sayyidina Umar ra. begitu khawatir akan Allah tanya ketika ada kambing yang terperosok akibat jalan berlubang sedikit saja.

Sungguh umat Islam hari ini harus segera bertobat kepada Allah Swt.. Kedurhakaan mereka sudah sedemikian parah hingga Allah Swt. tidak henti menurunkan bencana sebagai peringatan dalam berbagai bentuknya.

Adapun cara tobatnya adalah dengan serius berjuang mengembalikan sistem kepemimpinan Islam. Yakni dengan jalan dakwah membangun kesadaran di tengah umat tentang rusaknya sistem kapitalisme sekuler neoliberal sekaligus tentang urgensi hidup di bawah naungan syariat Islam.

Allah Swt. berfirman,

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS Al-Anfal : 25). []