April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Konstitusi Prancis justru mendukung keragaman dan kebebasan beragama. Bendera Prancis. Foto: blogspot.com

Sekulerisasi di Prancis Sudutkan Islam, Khilafah Sultan Abdul Hamid II Mengecam

BerandaIslam.com — Sebagaimana dilansir melalui laman Republika.co.id (06/10), PresidenPrancis Emmanuel Macron mengungkapkan keinginannya untuk menegakkan laïcité Prancis, sebuah sistem sekularisme yang memisahkan agama dan negara agar negara tetap netral dari hal berbau agama. “Sekularisme adalah fondasi dari persatuan Prancis,” katanya. Namun di sisi lain Macron menyudutkan agama Islam.

Apa yang direncanakan Macron ini telah melanggar konstitusi Prancis itu sendiri dan menampakkan Islamofobia dan kebenciannya terhadap Islam dan umat Islam. Dia juga menuduh Muslim berusaha memisahkan diri dan tidak menghormati hukum sekulernya.

“Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia saat ini, kami tidak hanya melihat ini di negara kami,” ujarnya yang dikutip di Middle East Monitor, Selasa (6/10).

Padahal dalam sistem negara sekuler, harus ada toleransi timbal balik antara orang-orang yang berbeda keyakinan dan negara harus netral dan tidak diskriminatif dalam berurusan dengan warganya tanpa memandang agama.

Kebebasan beragama sebenarnya diatur dalam Pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia: “Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, hati nurani dan beragama; hak ini termasuk kebebasan untuk mengubah agama atau keyakinannya, dan kebebasan, baik sendiri atau dalam komunitas dengan orang lain dan di depan umum atau pribadi, untuk mewujudkan agama atau keyakinannya dalam pengajaran, praktik, penyembahan dan ketaatan.”

Prancis memiliki rekam jejak pelanggaran hak asasi manusia yang tidak sedikit, salah satunya dengan mengeluarkan undang-undang diskriminatif yang menargetkan Muslim. Presiden Prancis mengatakan bahwa dia akan mengajukan RUU pada Desember mendatang, untuk menyelesaikan masalah yang muncul atas nama agama.

RUU tersebut berisi pembatasan pendidikan bagi anak-anak Muslim, mereka akan dilarang menghadiri sekolah berasrama yang menawarkan pendidikan Islam bersama dengan silabus Prancis sekuler. RUU ini melarang sekolah-sekolah negeri menerima atau mempertahankan siswi yang bersikeras untuk berhijab. 

Dulu disaat Turki Ustmani memudar sekalipun, Khalifah Abdul Hamid II masih bisa menghentikan rencana pementasan teater yang menghina Rasulullah dan Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy, bukan di dalam negeri, melainkan diluar negeri, yakni Perancis dan Inggris.

Ketika itu Perancis pernah merancang mengadakan pementasan drama teater yang diambil dari karya Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang menghina Rasulullah SAW. Drama itu bertajuk “Muhammad atau Kefanatikan” dan disamping mencaci Rasulullah SAW, ia juga menghina Zaid dan Zainab. Begitu mengetahui berita pementasan itu, Abdul Hamid memberi perintah kepada pemerintah Perancis melalui dutanya di Paris supaya memberhentikan pementasan drama itu dan mengingatkan akan akibat politik yang bakal dihadapi oleh Perancis jika ia meneruskan pementasan itu.

Perancis dengan serta merta membatalkannya. Kumpulan teater itu datang ke Inggris untuk merancang melakukan pementasan yang serupa dan sekali lagi Abdul Hamid memberi perintah kepada Inggris. Inggris menolak perintah itu dengan alasan tiket-tiket telah dijual dan pembatalan drama itu adalah bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Perwakilan Uthmaniyah di Inggris mengatakan kepada Inggris bahwa walau pun Perancis mengamalkan ‘kebebasan’ tetapi mereka telah mengharamkan pementasan drama itu. Inggris juga menegaskan bahwa kebebasan yang dinikmati oleh rakyatnya adalah jauh lebih baik dari apa yang dinikmati oleh Perancis.

Setelah mendengar jawaban itu, Abdul Hamid sekali lagi memberi perintah:

Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkankan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami! Saya akan kobarkan Jihad al-Akbar (Jihad yang besar).”

Britain dengan serta merta melupakan keinginannya mengamalkan “kebebasan berpendapat” (freedom of speech) dan pementasan drama itu dibatalkan. []

(wi)

Sumber :

https://republika.co.id/berita/qhsdq7320/sekulerisasi-di-prancis-konstitusi-dukungsudutkan-islam

Suhartono. 1994. Perjuangan Islam di Dunia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar halaman 96

Buletin Khilafah, Edisi 15, 23 Jun 1989, England & Ar-Raya, Jilid 3, Isu 4, April 1994