April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Berandaislam.com — Sebagaimana dilansir melalui laman CNN Indonesia (24/08), PT Pertamina (Persero) mencatat kinerja buruk selama semester I 2020 atau di tengah penyebaran virus corona. Tercatat, perusahaan mengalami rugi bersih sebesar US$767,91 juta setara Rp11,13 triliun (mengacu kurs Rp14.500 per dolar AS).

Hal ini berbeda dengan periode yang sama tahun lalu, perseroan berhasil meraup laba sebesar US$659,95 juta, atau Rp9,56 triliun.

Penjualan ekspor minyak mentah, gas bumi, dan produk minyak berhasil naik dari US$1,6 miliar menjadi US$1,76 miliar. Pertamina juga berhasil menekan beban pokok penjualan dan beban langsung lainnya dari US$21,98 miliar menjadi US$18,87 miliar. Namun, tetap saja mencatat kerugian sampai dengan saat ini.

Dirangkum dari berbagai sumber, kerugian pertamina paling tidak ada beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya;

Penurunan Penjualan yang Siginifikan

Berdasarkan laporan keuangan (tidak diaudit) Pertamina, hingga 30 Juni 2020, perseroan mencatatkan penurunan pendapatan usaha menjadi US$ 20,48 miliar dari US$ 25,55 miliar pada semester I 2019. Adapun kontribusi pendapatan dari penjualan dalam negeri untuk minyak mentah, gas bumi, panas bumi dan produk minyak turun menjadi US$ 16,57 miliar dari periode yang sama tahun lalu US$ 20,94 miliar. Perusahaan energi pelat merah itu juga mengalami penurunan pendapatan dari aktivitas operasi lainnya dari US$497,23 juta menjadi US$424,80 juta.

Fluktuasi Rupiah terhadap Dolar AS

Sejak Januari 2020 hingga 29 April 2020 rupiah terdepresiasi sebesar 10,9% atau setara dengan 1520 basis point. Selanjutnya, perseroan juga mengalami kerugian selisih kurs sebesar US$211,83 juta. Periode yang sama tahun lalu, perseroan juga mengantongi keuntungan dari selisih kurs sebesar US$64,59 juta.

Melemahnya Harga Minyak Mentah Dunia

Harga minyak mentah Dated Brent yang menjadi acuan harga minyak perseroan pada April 2020 sempat berada di posisi terendah hingga US$ 19 per barel, turun signifikan dibandingkan awal tahun yang masih di posisi sekitar US$ 64 per barel.

Kenaikan liabilitas atau kewajiban

Kenaikan liabilitas atau kewajiban perusahaan dari US$35,86 miliar pada Desember 2019 menjadi US$40,56 miliar pada medio pertama 2020 ini. Kemudian, ekuitas perusahaan turun dari US$31,21 miliar di Desember 2019 menjadi US$29,66 miliar pada semester I 2020.

Penurunan penggantian biaya subsisdi

Selain itu, penggantian biaya subsidi dari pemerintah juga turun dari US$2,5 miliar menjadi US$1,73 miliar. Tahun ini, Pertamina tidak mendapatkan imbalan jasa pemasaran, padahal tahun lalu berhasil mengantongi US$6,42 juta.

Lantas bagaimana bila masih mengalami kerugian? Para pengamat ekonom menganut dua konsep secara garis besar yaitu restrukturisasi atau likuidasi, inilah resiko dari sistem ekonomi kapitalis.

Selain itu ada juga beberapa kebijakan yang dapat dilakukan, diantaranya, melakukan perbaikan dari sisi kebijakan studi serta memisahkan pembukuan Public Service Obligation (PSO) dan komersial, melakukan merger antara satu BUMN dengan BUMN lainnya, menjadikan Badan Layanan Umum dengan menyerahkan kepada departemen teknis terkait, melakukan restrukturisasi khususnya yang masih memiliki prospek, dan melakukan likuidasi yang diberlakukan untuk BUMN yang tidak memungkinkan lagi direstrukturisasi.

(WI)