April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Pompeo Rayu Arab Saudi Normalisasi Hubungan dengan Israel. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman di Jeddah, Arab Saudi, Rabu (18/9). Foto: Republika.co.id

Menlu AS Ajak Arab Saudi Normalisasi Hubungan dengan Israel, Tapi Malu-Malu?

BerandaIslam.com, Dilansir dari Republika, Jumat (16/10), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengajak Arab Saudi agar mengikuti jejak Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain untuk menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Hal itu disampaikan ketika bertemu dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal Bin Farhan di Washington, Rabu (14/10)

Pompeo mengatakan perjanjian itu berkontribusi besar pada tujuan bersama untuk perdamaian dan keamanan regional. “Mereka mencerminkan dinamika yang berubah di kawasan, negara-negara dengan tepat mengakui kebutuhan kerja sama kawasan untuk melawan pengaruh Iran dan menghasilkan kemakmuran. Kami berharap Arab Saudi juga mempertimbangkan menormalisasi hubungannya. Kami ingin berterima kasih kepada mereka atas bantuan yang telah mereka peroleh dalam menyukseskan Abraham Accords sejauh ini,” ujar Pompeo, dilansir di Middle East Monitor, Jumat (16/10) yang dikutip Republika.

Presiden AS Donald Trump berjanji untuk melakukannya dengan upaya yang dipimpin oleh penasihat Gedung Putih dan menantunya Jared Kushner. Trump mengatakan dia juga mengharapkan Arab Saudi mengakui Israel pada waktu yang tepat. Selama pembicaraan tertutup dengan Uni Eropa, Farhan Al-Saud menegaskan tidak akan ada pengakuan Israel dari Arab Saudi tanpa kembali ke pembicaraan Israel-Palestina.

Di sisi lain Arab Saudi telah menyatakan mereka mematuhi Prakarsa Perdamaian Arab 2002, yang menawarkan menormalkan hubungan dengan Israel sebagai imbalan atas kesepakatan kenegaraan dengan Palestina dan penarikan penuh Israel dari wilayah yang direbut pada 1967. Namun, pertanyaannya adalah masih berlakukah Perdamaian Arab 2002? Sebagaimana dikutip dari dw.com (31/3/2009) dalam artikel tersebut negara-negara Arab tidak berhasil mencapai kesepakatan bersama menghadapi Israel.

Warga Arab tidak dapat mengatakan peristiwa mana lebih buruk, serangan Israel di Jalur Gaza atau keengganan pemimpin negara-negara Arab untuk membantu warga Palestina. Hassan Abu Nimah, mantan duta besar Yordania di Perserikatan Bangsa Bangsa menggambarkan dari pandangannya bagaimana politisi Arab menghadapi dilema. Nimah menjelaskan, jika waktu itu Arab membantu warga Palestina di kawasan Jalur Gaza, itu berarti sama dengan membantu Hamas. (dw.com, 31/3/2009)

Masih dari sumber yang sama Arab tidak menuntut agar semua pengungsi Palestina kembali ke kawasan yang telah menjadi bagian dari Israel, melainkan menyerahkan semuanya pada pihak yang bertikai untuk merundingkan sendiri sebuah “solusi yang adil”. Wajar banyak yang mempertanyakan masih bergunakah usulan perdamaian itu untuk dipertahankan? Sebuah usulan yang tidak hanya oleh Israel saja diabaikan, akan tetapi juga oleh Amerika Serikat.

Selain itu, AS pada saat itu diwakili oleh Obama juga menuntut dari Arab untuk segera, sepihak dan tanpa syarat memulai menormalisasikan hubungannya dengan Israel. Nah, jika usulan itu menawarkan ‘normalisasi sebagai reaksi atas penarikan’, sekaligus menuntut Arab untuk mulai menormalisasikan hubungan dan berpura-pura Israel tidak pernah menduduki kawasan Arab, hal ini betul-betul adalah vonis mati untuk usulan perdamaian itu.”[]

(wi)

https://www.middleeastmonitor.com/20201016-pompeo-persuades-saudi-arabia-to-normalise-ties-with-israel/
https://republika.co.id/berita/qi9qna366/pompeo-rayu-arab-saudi-normalisasi-hubungan-dengan-israel
https://www.dw.com/id/masih-berlakukah-perdamaian-arab-2002/a-4142681