April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Thalabun nushrah yang dilakukan Rasulullah saw. merupakan realitas yang ada di dalam sunnah dan sirah Nabawi. Ibnu Ishaq berkata,”Ketika Abu Thalib wafat, Quraisy menimpakan kepada Rasulullah saw. gangguan yang belum pernah beliau alami selama pamannya hidup. Oleh karena itu, Rasulullah saw. pergi ke Thaif mencari pertolongan (nushrah) dari Tsaqif, meminta perlindungan dari kaumnya dan berharap mereka mau menerima apa yang beliau bawa dari Allah swt. Lalu beliau pergi menemui mereka sendirian”.

Rasulullah saw. juga mencari pertolongan dan perlindungan dakwah diantaranya kepada bani Kindah, bani Kalb, bani Hanifah, bani Ghassan, Bani Fazarah, Bani Murrah, Bani Sulaim, Bani Syaiban, Bani Tsa’labah, Tsaqif, Bani ‘Udzrah, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah dan sebagainya. Nash-nash telah menjelaskan bahwa Rasulullah saw. dulu melakukan thalabun nushrah kepada kabilah-kabilah demi dua perkara: pertama, agar mereka melindungi dan membela beliau dari gangguan supaya mampu menyebarkan risalah dan mendakwahkan agama Allah dengan tenang; kedua, agar mereka mau mengerahkan kekuatan dan potensi yang ada supaya beliau mampu menegakkan negara.

Adapun perkara pertama yaitu perlindungan dan pembelaan terhadap dakwah sebagaimana Ibnu Ishaq berkata, ”Rasulullah terus menawarkan diri kepada kabilah-kabilah Arab di musim haji, menyeru mereka kepada agama Allah dan agar mereka mau menolong beliau, memberitahu mereka bahwa beliau adalah nabi yang diturunkan Allah SWT, lalu meminta mereka untuk membenarkan dan melindunginya hingga beliau bisa menjelaskan apa yang ia bawa dari Allah SWT”.

Adapun perkara kedua, yaitu thalabun nushrah dilakukan demi tewujud pemerintahan (negara) bukan hanya menyampaikan risalah saja. Ini tampak dalam dialog yang terjadi di antara Rasulullah saw. dan Abu Bakar Shiddiq di satu pihak, dan dengan para pemimpin Bani Syaiban di pihak lain.

Abu Bakar bertanya: “Berapa jumlah kalian?”

Salah seorang pemimpin mereka yang bernama Mafruq berkata: “Jumlah kami lebih dari seribu orang….”

Abu bakar: “Bagaimana pertahanan kalian?”

Mafruq: “Kami mengerahkan kemampuan dan setiap orang bersungguh-sungguh”

Abu Bakar: “Bagaimana peperangan di antara kalian dan musuh-musuh kalian?”

Mafruq: “Kami sangat bengis ketika bertemu musuh, dan menjadi benar-benar bengis ketika kami bertemu musuh dalam keadaan marah….”

Lalu Rasulullah saw.bersabda, ”Aku menyeru kalian agar bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah tidak ada sekutu bagiNya dan aku adalah utusan Allah, dan agar kalian memberiku tempat perlindungan dan menolongku….”

Lebih dari itu, thalabun nushrah merupakan perintah Allah SWT kepada Rasulullah saw. Hal ini ditunjukkan didalam riwayat Abu Nu’aim dari Ali bin Abi Thalib bahwa beliau bersabda, ”ketika Allah SWT memerintahkan rasulNya menawarkan diri kepada kabilah-kabilah Arab, beliau bersamaku dan Abu Bakar keluar menuju Mina, lalu kami mendatangi majlis orang Arab….”. Begitulah Rasulullah saw. tetap melakukan thalabun nushrah walaupun selalu ditolak bahkan dengan penolakan yang buruk seperti yang beliau alami di Thaif, dan meskipun beliau mengalami kesulitan yang luar biasa. Ini merupakan indikasi (qarinah) bahwa thalbun nushrah hukumnya wajib, sebagaimana kaidah ushul mengatakan

إن طلب الفعل وطلب تكراره مع المشقة هو قرينة من قرائن الجزم في خطاب التكليف

“Sesungguhnya tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan dan tuntutan untuk mengulanginya disertai adanya kesulitan adalah salah satu indikasi yang tegas (jazm) dalam seruan taklif.”

ومن صيغة الطلب، والقرينة الجازمة يكون حكم هذا الفعل الوجوب

“Dari redaksi tuntutan (thalab) dan indikasi yang jazim ini, maka hukum perbuatan tersebut menjadi wajib. “

Oleh karena itu, thalabun nushrah merupakan hukum syara’ sekaligus merupakan metode yang syar’I untuk mewujudkan kehidupan Islam. []Wallahu a’lam bi ash shawab