April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Nur Rahmawati, S.H.

Praktisi Pendidikan

Partai Masyumi eksis kembali. Tepat tanggal 7 November 2020, mereka mendeklarasikan diri serta membawa serta Partai Ummat bentukan Amien Rais untuk bergabung sebagaimana dilansir dari Liputan6.com (10/11). Agung Mozin yang merupakan loyalis Amien Rais, membenarkan ajakan Partai Masyumi tersebut. Beliau menyatakan “Jadi Masyumi menawarkan Pak Amien di forum agar Pak Amien bergabung dengan Partai Masyumi,” kata dia, saat dihubungi, Minggu (Liputan6.com, 8/11).

Lahirnya atau bangkitnya partai-partai baru, memberikan signal bahwa tidak adanya kepuasan dan peluang pada partai sebelumnya untuk mewujudkan cita-cita perjuangan. Karena ketidakpuasan terhadap partai sebelumnya, maka berdampak makin beragamnya fragmentasi umat yang menjadikan terpecah belahnya persatuan ummat.

Selain itu, aktifitas politik yang dilakukan hanya berorientasi meraih kursi, hingga berkuasa untuk mengubah tatanan yang ada. Sehingga tidak membangun kesadaran bahwa aspirasi penegakan syariat mustahil diwujudkan di kancah politik demokrasi.

Inilah jebakan demokrasi, menghalangi umat untuk fokus pada pembangunan kesadaran politik Islam. Melihat wajah demokrasi, telah memustahilkan cita-cita penegakkan syariat Islam. Semua ini disebabkan landasan demokrasi yaitu suara terbanyak, serta menyerahkan pengurusan urusan negara pada hukum buatan manusia. Hukum buatan manusia dibuat melalui suara rakyat yang diwakilkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang notobenenya sama sekali tidak membawa suara rakyat, namun membawa suara partainya.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, banyak produk hukum dari DPR telah banyak ditentang dan menyengsarakan rakyat. Sebut saja UU Cilaka, UU Penanaman Modal, UU Minerba dan banyak lagi. Yang kesemuanya itu lebih berpihak pada para elit kapital, korporasi dan pemilik modal.

Sangat berbeda dengan fokusnya aktivitas Parpol (partai politik) menurut Islam. Keberadaan partai politik dalam negara Islam (Khilafah) adalah wajib. Sebagaimana seruan Allah SWT dalam QS Ali Imran [03]: 104. Yakni diperlukan sekelompok orang yang menyerukan dakwah Islam.

Karena itu, partai politik memang dibentuk berdasarkan akidah Islam. Sehingga akidah Islam dijadikan kaidah berpikir dan bertindak serta pengikat antar anggota partainya. Aktivitasnya juga sama sekali tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam. Visi yang dibangun pun untuk melangsungkan kehidupan Islam melalui wadah negara Islam.

Negara Islam sama sekali tidak akan memberi toleransi adanya partai politik yang bukan berasaskan Islam. Seperti partai komunis, sosialis, liberalis, dan demokrasi. Karena sekali lagi, semua itu tidak berlandaskan Islam.

Peranan Partai Politik

Secara umum, partai politik memiliki peranan melakukan check and balance, muhasabah li al-hukkam (mengoreksi penguasa). Pengaturan urusan umat ini dijalankan oleh manusia sehingga tidak menutup kemungkinan akan terjadi kekhilafan dalam mengurusi urusan umat. Oleh karena itu diperlukan adanya partai politik Islam yang terus mengawasi guna mengoreksi penguasa.

Inilah peranan partai politik dalam Islam. Tujuan utamanya memang untuk dakwah dan melanjutkan kehidupan Islam. Sehingga tidak ada peluang sebagai motor atau kendaraan untuk merebut kekuasaan yang lebih erat kaitannya untuk memenuhi kesejahteraan pribadi, kelompok atau bahkan partainya. Maka sudah seyogyanyalah kita beralih ke aturan Islam, yakni dengan membentuk partai politik Islam yang berlandaskan pada Aqidah Islam. []

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.