April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

BerandaIslam.com — Lebih dari seribu orang berkumpul di pusat kota London pada Sabtu (18/09/2020) untuk memprotes rencana penguncian wilayah (lockdown) guna memperlambat penyebaran virus Covid-19, sebelum akhirnya aksi tersebut dibubarkan oleh polisi. Sedangkan Islam memerintahkan untuk mengisolasi daerah yang terkena wabah.

“Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar rumah.” (HR Muslim)

Sebagaimana dikutip dari Muslimah News (19/9), menurut Pakar Ekonomi Islam, Nida Saadah, ada beberapa poin terkait kebijakan islam dalam mengatasi pandemi.

Pertama,  prinsip dalam Islam menjadikan seluruh fokus permasalahan bukan pada bidang, tapi pada manusia itu sendiri. Sehingga seluruh kebijakan yang diambil oleh penguasa adalah bagaimana agar seluruh permasalahan manusia selesai.

Kedua, Rasulullah saw. ajarkan adalah hanya mengisolasi daerah yang terkena wabah. Sementara penduduk diluar wabah beraktivitas seperti biasa. Sebagaimana gambaran hadis diatas.

Ketiga, negara harus hadir dalam memenuhi seluruh kebutuhan individu masyarakat. Parameter terpenuhinya kebutuhan masyarakat bukanlah dilihat dari angka, tetapi pada kondisi riil individu per individu.

Keempat, dalam Islam kesehatan adalah kebutuhan pokok umat yang harus dijamin oleh negara. Sehingga keberadaan rumah Sakit sepenuhnya di bawah kendali negara. Tentunya hal demikian akan menghantarkan pada pengobatan yang berkualitas dan juga gratis hingga sembuh. (Muslimah News, 19/09/2020)

Prinsip-prinsip ini jelas berbeda dengan prinsip sekuler hari ini. Aksi masyarakat yang terjadi di Inggris menunjukkan bagaimana peran negara hilang dalam mengatasi pandemi sehingga masyarakat berupaya mencari solusi sendiri. Perdana Menteri Boris Johnson sedang mempertimbangkan apakah akan memberlakukan lockdown atau tidak.

Dilansir dari Reuters yang dikutip CNBC (20/9), para pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan “Covid is a hoax” (Covid itu hoax) dan “My body, my choice: No to mandatory masks” (Tubuh saya, pilihan saya, katakan Tidak pada kewajiban bermasker), serta meneriakkan ke arah polisi: “Pilih pihak mana Anda.”

Berdasarkan undang-undang untuk memperlambat penyebaran infeksi, orang-orang di Inggris tidak diizinkan berkumpul dalam kelompok yang terdiri lebih dari enam orang. Tapi memang ada pengecualian untuk protes politik, tetapi hanya jika penyelenggara mengikuti pedoman untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit. Pengunjuk rasa juga menyuarakan penentangan terhadap kewajiban vaksinasi, serta ketidakpercayaan terhadap pemerintah, media, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dikutip dari sumber yang sama Inggris merupakan negara dengan jumlah kasus kematian tertinggi di Eropa akibat virus corona, dengan lebih dari 41.000 kematian. Tes nasional untuk deteksi virus ini ini belum sesuai jumlah permintaan, terutama sejak sekolah dibuka kembali bulan ini.

Meningkatnya jumlah kasus di beberapa bagian Skotlandia, Wales, dan Inggris utara telah menyebabkan pembatasan lokal seperti pembatasan jumlah tamu yang bisa diundang ke rumah, mengurangi jam buka pub dan restoran. []

(WI)